Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Webinar Adhikartes dan Formapena, Kadis Parekraf NTT: Butuh Tenaga Ahli Dorong SDM Unggul NTT

3 min read

Saat webinar tentang Ekonomi Kreatif NTT oleh Adhikartes dan Formapena Jabodetabek

NTTBANGKIT.COM, JAKARTA — Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. I Wayan Darmawa, dalam webinar yang diinisiasi oleh Adhikartes Community bersama Formapena Jabodetabek dengan tema, “Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Inovatif Berbasis Kearifan Lokal” pada Sabtu (18/07/2020) pukul 17.00 WIB, mengatakan bahwa  NTT di bawah kepemimpinan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wagub NTT Josef A. Nae Soi sedang gencar mengupayakan pariwisata, budaya, dan produk-produk kearifan lokal NTT sebagai prime mover atau motor penggerak utama ekonomi NTT.

Di bawah jargon Masyarakat Ekonomi NTT (MEN) yang sejahtera secara ekonomi, sosial, dan budaya, Dr. I Wayan juga mengatakan bahwa saat ini, destinasi-destinasi wisata NTT mulai berkembang secara perlahan, seperti Kawasan Wisata Labuan Bajo, dengan taman nasional pulau Komodo, yang mana saat ini tengah diproses untuk menjadi destinasi super prioritas, dan berbagai destinasi lainnya.

Ia juga menambahkan bahwa selama kurang lebih setahun menjabat sebagai Kadis Parekraf sejak 2019 lalu, sudah ada beberapa destinasi baru di NTT yang dibuka oleh pemerintah provinsi dalam kerjasama dengan pemerintahan Kabupaten/Kota setempat.

Dalam hubungan dengan lanskap pariwisata, Kadis I Wayan menuturkan bahwa dirinya bersyukur karena ada 8 ikon pariwisata pada provinsi berbasis kepulauan tersebut yang masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 yang mana akan diikutsertakan dalam pemungutan suara (voting) pada 1 Agustus 2020 hingga 31 Desember 2020.

SDM Sebagai Kendala

Melanjutkan materinya, Kadis I Wayan tentunya berharap agar, dengan semakin banyaknya destinasi wisata di NTT, masyarakat setempat bisa mengambil bagian sebagai aktor ekonomi yaitu dengan menangkap peluang dari para pengunjung destinasi wisata dengan mendagangkan produk-produk lokal dan kerajinan tangan lokal.

Dalam hubungan dengan hal ini, tentunya Dr. I Wayan mengungkapkan bahwa salah satu yang menghambat adalah SDM.

“Kelemahan kita di NTT yang paling besar adalah SDM. Masyarakat kita belum memiliki SDM yang mumpuni. Tentunya untuk mengatasi permasalahan ini kami dari Pemprov mulai membuat beberapa komunitas dan melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat,” tutur Dr. I Wayan.

Doktor tamatan Universitas 17 Agustus jakarta ini juga menambahkan bahwa pihaknya tentu membutuhkan bantuan dan dukungan dari para akademisi dan ahli teknologi.

Sementara itu, Dr. Asep Dedy Sutrisno yang merupakan ahli teknologi pangan dari Universitas Pasundan sekaligus Auditor Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam materinya mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa ia bersama tim ahlinya bisa berkunjung ke NTT melihat kemungkinan diversifikasi produk pangan lokal NTT bila pemerintah daerah setempat mengizinkan suatu waktu nanti.

Tujuan dari diversifikasi produk ini, menurut Kang Asep, demikian sapaan akrabnya, dimaksudkan agar berbagai produk bisa didesain sesuai dengan keinginan pasar yang notabenenya memiliki selera yang beragam. Semakin beragamnya produk yang dihasilkan dari bahan-bahan mentah yang terbatas, akan memperluas pangsa pasar dengan sendirinya. Dengan demikian, tentunya ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat kecil akan bertumbuh dan berkembang.

“Pastinya kita akan melakukan survei pasar terlebih dahulu, kemudian disinkronkan dengan produk-produk yang bisa dihasilkan dari bahan-bahan pokok kita. Soal mesin, jangan khawatir, punya kita lengkap. Soal SDM jangan takut, kita akan mendampingi masyarakat dan memberikan pelatihan-pelatihan teknis yang berguna dan bermanfaat dalam hubungan dengan diversifikasi produk dan marketing berbasis digital,” tutur Kang Asep yang adalah juga Dosen Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung.

Menanggapi hal tersebut, Kadis I Wayan mengharapkan agar bisa membangun kerjasama yang sustainable antara Pemprov NTT, khususnya DInas Parekraf dan pihak akademisi, dalam hal ini Dr. Asep dan tim ahlinya.

“Untuk itu, kami dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT sangat mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya para akademisi dan ahli teknologi untuk bisa ikut mendampingi masyarakat kami, sehingga kelemahan di bidang SDM bisa teratasi,” tutur Dr. I wayan dan menambahkan, “Kepada pak Asep dan teman-teman akademisi yang hadir dalam webinar ini, tentunya kami sangat berharap agar pertemuan ini bisa terus dilanjutkan ke tingkat yang lebih lagi, bila perlu para saudara dan saudari sekalian bisa mengunjungi NTT untuk mendukung segala potensi yang kami miliki.”

Menanggapi pernyataan Kadis I Wayan, Kang Asep mengatakan bahwa dirinya siap kapanpun diminta.

“Inshallah, kami akan selalu siap kapan pun diminta Pak Kadis,” tutur Dr. Asep.

Sebelum sesi ini berakhir, Dr. Wayan dan Dr. Asep berterimakasih kepada komunitas pemuda yaitu Adhikartes Community dan Formapena Jabodetabek yang telah menggas acara webinar ini. Keduanya sama-sama berharap agar kedepannya bisa terus membangun komunikasi satu sama lain.

Setelah kedua pemateri selesa memaparkan materinya sekaligus menanggapi para penanya, webinar kemudian dilanjutkan dengan sharing tentang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dari dua anak muda penggiat ekonomi kreatif yang memiliki latar belakang pemahaman yang mumpuni tentang dunia internasional dalam hubungan dengan pemasaran produk, yaitu Founder Du’anyam, Hannah Keraf dan penggagas Adhikartes Community, Stella Monica. (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi