Kam. Jan 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Dukung Gubernur dan Wakil Gubernur Buka Lapangan Kerja, Saatnya Orang NTT Bersatu Bangun SDM

6 min read

Acara Tatap Muka Pemerintah Provinsi NTT dengan Paguyuban Keluarga Flobamora Palangkaraya di Gedung Tjilik Riwut, Gereja Katedral St. Maria Kota Palangkaraya. pekan lalu. (Foto"NBC)

PALANGKARAYA, NTTBANGKIT.COM,–Di penghujung tahun 2019, tepatnya Minggu 8 Desember 2019, Pemerintah Provinsi NTT melalui Badan Penghubung  NTT Jakarta mengunjungi Paguyuban Keluarga Besar Flobamora Palangkaraya. Kunjungan yang diwarnai dengan acara dialog dan tatap muka dengan seluruh warga diaspora NTT yang digelar di Gedung Tjilik Riwut, Gereja Katedral St. Maria Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Suasana di hari Minggu itu tampak asri, indah nan alami. Kabut di atas langit yang menaungi Kota Cantik Palangkaraya yang anggun dibalut kehijauan pepohonan yang segar. Meski hujan rintik-rintik membuka pagi itu, namun tidak menyurutkan ratusan warga NTT datang ke gedung bernama Tjilik Riwut sang pahlawan putra terbaik Kalimantan Tengah. Mereka datang dari berbagai penjuru kota bersama anak-anak muda dan juga boca-boca kecil anak mereka  dan memasuki halaman Gereja Katedral St. Maria yang dibangun oleh para misionaris dan Pahlawan Tlilik Riwut bersama tokoh NTT, Lukas Gobang tempo dulu,

Di samping Gereja Katedral yang megah, terdapat sebuh gedung yang di dalamnya sangat luas dan telah diatur dengan kursi dan meja untuk berdiskusi tentang masa depan orang NTT, baik yang ada di perantauan maupun di kampung halaman. Sebelum masuk ke dalam aula dan mengisi buku tamu yang disediakan panitia, tampak sebuah tulisan dibaliho yang dipasang di teras pintu masuk yang berbunyi” Selamat Datang Pemerintah Provinsi NTT di Provinsi Kalimantan Tengah.” Baliho tersebut dipasang oleh panitia untuk menyambut para pejabat dari Kantor Badan Penghubung NTT utusan Kaban Drs. Viktor Manek,M.Si untuk mewakili Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat,SH dan Drs. Josef A. Nae Soi, MM.

Suasana kekeluargaan sangat terasa, di mana orang-orang NTT yang berasal dari berbagai kabupaten datang berkumpul bersama. Ada orang Manggarai, Lembata, Flores Timur, Sumba, Timor, dan lain-lain. Ada orang-orang tua bersama anak-anak mereka, dan juga ada orang-orang muda dan para mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Flobamora Palangkaraya.  Ada yang mengenakan busana khas daerah, dan ada yang biasa saja.

Selain para penerima tamu yang sibuk menerima satu persatu warga yang datang di pintu masuk, tampak ibu-ibu lainnya sangat sibuk menyiapkan makanan dan minuman, secara khusus makanan khas NTT, seperti ubi rebus dan pisang rebus yang kemudian ramai disantap bersama dengan tegukan kopi hitam dan teh panas menghangatkan ‘kampung tengah.’

Sekitar pukul 10.30 waktu setempat, acara dialog pun dimulai dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Semua yang hadir sambil berdiri tegak menyanyikan bersama dan serentak lagu karya Wage Rudolf Supratman yang dipimpin oleh seorang gadis cantik nan ramping putri NTT, dan diiringi organ. Usai Lagu Indonesia Raya, Lagu Flobamora Tanah Air Ku yang Ku Cinta pun dinyanyikan sebagai pemersatu dan pembakar semangat cinta akan tanah air, hutan belantara, gunung, bukit, laut dan sungai bumi Flobamora NTT, ladang dan kebuh pondok kelahiran orang-orang NTT.

Acara dialog pun dimulai dengan dibuka oleh Ketua DPP Paguyuban Keluarga Flobamora Palangkaraya, Gregorius. Pria kelahrian Adonara, Flores Timur yang biasa disapa Goris. Goris tampil mengenakan jas tenun ikat khas Adonara. Masalah-masalah utama yang sedang dialami para pekerja NTT yang mayoritas bekerja di kebun-kebun sawit, yaitu masih ada begitu banyak pekerj a ilegal yang masuk dari NTT tidak menggunakan surat-surat termasuk KTP, masalah pesangon tidak dibayar perusahaan, dan banyak warga yang meninggal dunia karena  sakit dan tidak memiliki BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, Kondisi tersebut, kata Goris sangat memperihatinkan.

Dalam kesempatan itu, Goris juga menegaskan bahwa sangatlah tidak gampang menyatukan orang-orang NTT dari berbagai kabupaten dalam sebuah organisasi Paguyuban Keluarga Flobamora. “Menyatukan orang NTT itu tidaklah mudah.Contohnya, kagiatan hari ini saya sudah sampaikan undangan untuk datang berkumpul bersama-sama membicarakan berbagai masalah kita dengan Pemerintah Provinsi NTT yang datang mengunjungi kita saja sulit. Tapi ya inilah kita. Kita masih belum bersatu untuk bersama-sama dalam organisasi,” katanya.

Goris menegaskan bahwa pihaknya bersama seluruh warga NTT diaspora mendukung penuh  seluruh program yang sedang dilakukan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, termasuk mengurusi para pekerja NTT. Selain mengurusi pekerja NTT dan bidang infrastruktur dan pariwisata, dia mendukung penuh program pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tengah digalakan. Untuk mendukung SDM, dia meminta perhatian pemerintah juga memberikan perhatian kepada ratusan mahasiswa-mahasiswi Flobamora yang berada di Palangkaraya karena mereka juga adalah aset NTT.  

Usai Goris menggambarkan secara umum tentang kondisi aktual dan berbagai permasalahan yang dialami oleh seluruh warga perantau, Natalia Eny Pudjiastitu, pejabat dari Badan Penghubung NTT pun naik ke panggung. Dengan semangat, Eni menyampaikan secara tegas terkait sejumlah program yang sedang dilakukan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT saat ini, termasuk mengurusi masa depan para pekerja migran asal NTT di luar daerah.

Lebih lanjut, ia meminta dukungan dari Pemerintah NTT untuk membangun sebuah asrama bagi putra-putri NTT yang sedang mengenyam pendidikan di Kota Palangkaraya. “Kami minta dukungan pemerintah agar di Palangkaraya bisa dibangun sebuah asrama. Lahannya sudah ada dan bisa kami upayakan, selanjutnya kami minta pemerintah bisa membantu dana untuk pembangunan,” pintanya.

Dikatakan Eni bahwa Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan moratorium tenaga kerja NTT. Moratorium, terangnya, bukan berarti pemerintah melarang orang NTT untuk keluar daerah mencari kerja, tetapi membatasi pengiriman tenaga kerja karena begitu banyak pekerja NTT yang keluar daerah dengan dokumen yang tidak resmi dan pergi melalui jalur yang tidak resmi pula.  

Dia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan atau menyiapkan tenaga kerja NTT  yang akan keluar daerah dengan dokumen resmi melalui jalur-jalur yang resmi. Pemerintah juga menyiapkan balai-balai latihan kerja melalui Dinas Nakertrans NTT, agar setiap pekerja NTT sebelum keluar daerah untuk bekerja telah memiliki keterampilan sebagai bekal dalam bekerja.

Mengenai, permintaan asrama mahasiswa, Eni mengungkapkan bahwa asrama juga penting untuk mendukung para mahasiswa NTT. Namun, kata dia, dengan asrama yang dibangun pemerintah telah banyak juga memunculkan berbagai persoalan sehingga permintaan itu perlu dipertimbangkan lagi. Meski demikian, Eni mengaku sebagai pemerintah ia menerima semua usulan warga untuk disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.

Eni juga mengungkapkan bahwa dalam rangka mencegah pengiriman tenaga kerja ilegal ke luar NTT, Pemerintah NTT telah membangun jaringan kerja sama antara Dinas Nakertrans, Pihak Kepolisian dan Emigrasi di pelabuhan laut dan bandar udara El Tari Kupang.  Namun demikian, menurut dia, luas wilayah NTT sebagai provinsi kepulauan masih terdapat banyak cela bagi para pencari kerja NTT untuk nekat kelur daerah melalui jalur ilegal.

Di sesi dialog, suasana diskusi makin seruh dan hangat. Dari pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang diangkat para warga, masalah paling banyak dan terbesar adalah sama seperti yang telah dipaparkan Goris, yaitu masalah pengiriman tenaga kerja ilegal yang datang dengan tidak membawa dokumen (KTP), dan datang melalui jalur tidak resmi melalui orang-orang NTT yang pulang ke kampung merekrut  tenaga kerja dengan iming-iming komisi per kepala sebesar Rp750.000 hingga Rp1.000.000. Upah calo tenaga keja yang besar ini, telah membuat begitu banyak orang NTT datang ke Kalimantan Tengah dan bekerja di berbagai perusahaan sawit tanpa ada dokumen resmi.  

“Masalah terbesar, ada orang kita yang menjual orang kita sendiri. (human trafficking). Ini karena mereka mau mendapatkan keuntungan. Kami tahu orang-orang itu. Masalah ini harus kita pangkas agar tidak terus terjadi dan banyak warga kita menjadi korban karena datang ke sini tidak bawa surat-surat lengkap terutama KTP,” tegasnya. 

Untuk mencegah orang NTT keluar mencari kerja secara ilegal, maka selain mengusulkan agar pemerintah membuka lapangan kerja seluas-luasnya di NTT dan membuka atau mendirikan sebuah rumah ringgah di Kota Palangkaraya  yang menjadi tempat penampungan semua tenaga kerja asal NTT sebelum ditempatkan di berbagai perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

“Kita tidak bisa melarang orang NTT keluar daerah untuk mencari kerja karena di NTT tidak ada lapangan pekerjaan. Orang merantau itu karena masalah ekonomi. Kalau ekonominya baik, maka mereka tidak mungkin ke luar daerah. Jika ingin dicegah (moratorium), maka pemerintah harus menyiapkan berbagai lapangan pekerjaan di NTT sehingga mereka dapat bekerja dengan baik. Jika tidak ada maka mau dibendung bagaimanapun orang pasti berusaha ke luar daerah melalui berbagai jalur, meskipun ilegal dan tanpa dokumen,” kata salah satu pekerja asal Atambua, Kebupaten Belu yang kini bekerja di Kota Palangkaraya.

Acara tatap muka ini kemudian berakhir dengan jamuan makan siang, dan diakhiri dengan penyerahan beberapa rekomendasi yang disampaikan Paguyuban Keluarga Flobamora  Palangkaraya yang diserahkan oleh Ketua Gredorius bersama sekretaris dan beberapa pengurusnya kepada perwakilan pemerintah NTT, Natalia Eni Pudjiastuti dan Isak Petrus.  Rekomendasi tersebut, antara lain mengundang Gubernur dan Wakil Gubernur NTT untuk berkunjung ke Palangkaraya bertemu dengan pihak Gubernur Palangkaraya, usualan pembangunan rumah singgah bagi para pekerja NTT, dan usulan pembangunan asrama mahasiswa Flobamora di Kota Palangkaraya. (Korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi