Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Jepang Punya Sake, NTT Punya Sophia Yang Jadi Identitas Peradaban Budaya

4 min read

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, saat acara peluncuran miras tradisional NTT, Sophia, beberapa waktu lalu di Universitas Nusa Cendana Kupang. (Foto: Kompas.Com)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Jepang punya Sake, NTT punya Sophia. Jika di Negara Bunga Sakura sejak lama terkenal dengan Sake sebagai minuman peradaban budaya Jepang, maka Provinsi NTT memiliki Sophia. Sake dan Sophia mungkin saja beda rasa, aroma dan kadar alkoholnya, namun sama-sama sebagai identitas sebuah peradaban budaya ketimuran. Untuk itu, terobosan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josep A.Nae Soi, mempertahankan identitas budaya NTT diapresiasi berbagai kalangan.

Mengapa keduanya diapresiasi berbagai kalangan?

Karena keduanya benar-benar mewujudkan janji kampanye pada Pilkada Gubernur 2018 lalu, dimana akan melindungi dan melestarikan tradisi budaya memproduksi arak yang akan diolah ke bentuk yang lebih modern agar bisa go internasional yang dipastikan akan didukung dengan regulasi hukumnya. Menurut mereka, jika arak (Sophia), terus diproduksi dan diolah dalam bentuk dan kemasan yang lebih nikmat, maka dapat mendukung ekonomi rakyat yang sehari-hari menyuling arak.

Pengamat Masalah Sosial dan Budaya NTT, Petrus Selestinus, SH salah satu tokoh NTT di Jakarta, memuji terobosan Viktor dan Nae Soi. Menurutnya, Sophia adalah minuman (arak) yang menjadi ciri khas atau identitas budaya orang Timor. Fakta itu telah diwariskan nenek moyang sejak dahulu kala dan tetap bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu, terobosan Gubernur Viktor dan Wagub Nae Soi adalah terobosan yang mulia dalam melindungi sebuah peradaban budaya orang Timor.

“Langkah tepat Gubernur Viktor sangat tepat karena mengubah pengetahuan dan tekonologi serta kemasan Sopi (miras khas asli NTT) menjadi Sophia melalui pengetahuan dan teknologi dengan kemasan moderen. Kita patut mengapresiasi kebijakan menaikan derajad (pengetahuan, teknologi dan kemasan) Sopi menjadi Sophia, karena sama sekali tidak mematikan Sopi dan proses pembuatannya melalui pengetahuan dan tekonologi tradisional sesuai perintah konstitusi. Gubernur Viktor membangun pengetahuan dan teknologi moderen Sopi dengan kemasan khusus serta diberi merek “Sophia” disertai dengan kadar alkohol yang terukur, yaitu 40% kadar alkoholnya dengan tetap menjaga konstitusionalitas pengetehauan dan teknologi tradisional pembuatan Sopi warisan nenek moyang,”kata Petrus Selestinus di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Harga Sophia dipatok dengan harga Rp.1 juta per botol

Menurut dia, tidak itu saja, harga Sophia yang telah dipatok dengan harga Rp1 juta per botol berarti menaikan harga miras Sophia 20 kali lipat dari harga Sopi tradisional di pasar bebas yang rata-rata dijual dengan harga Rp50 ribu per botol. Ini langkah inovatif yang patut didukung seluruh elemen masyarakat NTT, karena dengan menaikan harga Sopia menjadi Rp1 juta per-botol, maka diharapkan harga Sopi asli tradisional NTT akan ikut naik mengimbangi harga Sophia yang bahan bakunya diambil dari Sopi asli produk pengetahuan dan teknologi tradisional NTT.

Oleh karena itu, menurut dia, Pemda harus mendata dan membenahi kembali keberadaan para pelaku ekonomi dan produsen miras Sopi di setiap kabupaten dan kemudian diorganisir dalam satu asosiasi produsen Sopi asli tradisional dalam rangka memperkuat kedudukan hukum dan status badan hukum usaha produksi miras Sopi warisan nenek moyang dalam menghadapi modernisasi pengolahan Sophia. Langkah itu sekaligus menjadikan Sophia menjadi bapa asuh bagi Sopi tradisional di NTT sesuai amanat Pasal 18B UUD 1945.

“Sophia harus menjadi bapa asuh (orang tua asuh) guna memperkuat Sopi sebagai kearifan lokal yang di dalamnya melekat hak-hak tradisional. Posisi Sophia tidak mungkin bisa menggeser peran Sopi dalam ritual adat tradisional NTT,”kata Petrus yang juga advokat senior berkelas nasional ini.

Aparat pemerintah diminta tidak lagi menempatkan miras Sopi sebagai produk terlarang

Petrus menekankan bahwa diperlukan kebijakan dan persepsi yang sama di kalangan aparatur daerah di setiap Kabupaten di NTT tentang konstitusionalitas Sopi asli NTT. Tujuannya, agar aparat pemerintah (Polri) tidak lagi menempatkan miras Sopi sebagai produk terlarang dan haram dikonsumsi. Tidak boleh ada oprasi penindakan Miras di pasar-pasar sebagaimana selama ini terjadi, operasi penindakan Miras oleh aparat Kepolisian/Sat Pol PP selama ini menunjukan bahwa belum adanya persepsi yang sama di kalangan aparat penegak hukum tentang konstitusionalitas miras, peredarannya dan penggunaannya sebagai menu se hari-hari masyarakat NTT yang sah dan dilindungi konstitusi.

“Jika kita memperhatikan proses pembuatan miras mulai dari mengambil nira dari pohon lontar, enau atau kelapa hingga proses penyulingan alkohol dengan kadar tertentu, dengan peralatan yang sangat sederhana (tungku dari batu-batu, periuk tanah, bambu, lilitan daun untuk menutup rapat mulut periuk dan bambu yang dipasang untuk menyalurkan uap panas ketika dimasak dengan kayu bakar), hingga mendapatkan tetesan alkohol dengan takaran kadar alkohol tertentu, maka serangkaian proses untuk menghasilkan “miras” ini, menggambarkan bahwa para leluhur kita sejak awal telah memiliki pengetahuan tradisional dan menguasai teknologi tradisional dengan logika tinggi, tanpa menggunakan buku panduan dan peralatan canggih lainnya.Ini unik dan langkah yang menggambarkan budaya lelihur kita yang harus terus dilestarikan sebagai sebuah peradaban budaya,”kata Petrus.

Acara peluncuran Sophia dihadiri oleh Kapolda NTT

Untuk diketahui,Rabu (19/6) lalu, bertempat di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Josep Nae Soi meluncurkan Sophia sebagai minuman budaya NTT dengan harga Rp1 juta dalam berbagai jenis dan bentuk kemasan botol moderen. Acara peluncuran itu, juga dihadiri Kapolda NTT, Danrem Kupang, Tokoh Agama, Para Akademisi NTT, Mahasiswa dan berbagai pihak. Gubernur Viktor dalam kesempatan itu mengatakan bahwa tujuan diproduksinya Sophia untuk turut meningkatkan ekonomi rakyat. Ke depan, para pengusaha akan membeli bahan baku Sophia, seperti Moke (arak asli Flores) dan Sopi langsung dari warga pembuat arak, yang tentunya dengan harga lebih tinggi.

Pasca acara peluncuran Sophia yang menarik perhatian publik NTT dan dan luar NTT tersebut, Wagub Nae Soi tidak malu dan sungkan, dengan gembira tampil mempromosikan Sophia dalam Forum Investasi Masyarakat Ekonomi NTT yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta dan Grand Dafam Rohin Jogyakarta.

“Dalam kesempatan ini, saya perkenalkan ke Bapa dan Ibu sekalian minuman tradisional asli NTT yang bernama Sophia. Minuman ini telah kami produksi dan kami luncurkan dalam berbagai jenis ukuran botol.Jadi setiap hari raya Natal jangan lagi membeli minuman lain, tetapi beli lah Sophia hasil produksi dari petani dan pemerintah NTT,” kata Nae Soi di hadapan para pengusaha dan warga NTT diaspora belum lama ini. (kornelismoanita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi