Sab. Okt 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

“Dan Ternyata Cinta”

13 min read

Oleh : Rian Tengga Yeya

MAHASISWA PGSD STKIP S O E

Setangkai bunga cinta

Lambang perasaan dan hasrat memiliki

Hadirmu bagai pelengkap raga yang kesepian

Cintamu, bagai arah yang ingin selalu kutuju

Tanpamu, aku kehilangan arah

“Sob, ini puisi ni pasti bisa mewakili lu pung perasaan. Be buat khusus buat lu, supaya Indy bisa terima lu.” Rhony mulai menggurui Lion dengan puisinya

“Eh Rhon,,, lebe bae ini puisi buat lu pung diri sendiri. Gaya ke pujangga besar sa ma tiap kali buat puisi kasi Lion ko tembak Indy son pernah berhasil.”kata Tora, berharap Lion tidak lagi memakai puisi Rhony untuk ungkapkan perasaannya pada Indy.

Lion tersenyum karna membaca puisi yang dibuat Rhony langsung bergegas pergi saat melihat kehadiran Indy di depan kelas.

“Indy…”

“Lu kenapa?” tanya Indy dengan nada sinis.

“Be mau kasih lu sesuatu”

“sorry ew, be son ada waktu”

“Oke, lu son perlu buat apa-apa. Lu hanya cukup terima ini. Be harap lu punya waktu untuk baca ini” kata Lion sambil menyodorkan secarik kertas untuk Indy.

Indy menerima kertas itu dan langsung pergi meninggalkan Lion berdiri tanpa senyuman berarti. Karena lagi-lagi, Indy tak peduli dengan apa yang ia berikan.

Tapi itu lebih baik daripada apa yang selalu diterimanya saat ia menyatakan perasaan cintanya pada Indy.

“Lu ni ke apa ko. Bisa ko sonde, son kas malu be di depan anak-anak??”

“Be buat begini supaya lu tau kalo be ni sayang sang lu !”

“Oke, tapi su ulang-ulang ni. Lu baca kas be puisi. Kalo bukan lu yang buat pasti Rhony. Ini na, itu na. Lu tau ko sonde, Be su capek liat lu pung tingkah?? Setiap hari , be pung isi doa hanya minta ko cepat-cepat nae kalas su. Setiap hari liat lu dikelas bikin be mual sa. ”

“Tapi kan be buat ini semua karna….”

“stop Lion,,please stop ew. Be son tau lae mau pake bahasa apa??”

Inilah yang terjadi saat Lion menyatakan perasaannya pada Indy dua hari yang lalu. Harihari sebelumnya lebih parah lagi, puisi yang diberikannya dilemparkannya Indy ke wajahnya tanpa membaca puisi itu, dibuang ke tumpukan sampah ataui dikasih ke orang lain. Setidaknya hari ini Lion punya sedikit harapan bahwa Indy akan membaca puisi itu

Lion dan Indy teman sekelas. Mereka ada di kelas yang tidak tergolong unggul tapi juga tidak tergolong bego dan badung. Disinilah mereka mengikuti pelajaran tiap hari, XIII

Entah sejak kapan Lion menyukai Indy, yang jelas semenjak Lion menyadari perasaannya, Ia mulai berusaha membuat Indy tahu betapa dirinya menyukai Indy. Tapi, yang Ia dapatkan hanyalah penolakan-penolakan sadis, dipermalukan didepan setiap orang yang ada di tempat Ia menyatakan perasaannya, Indy selalu membentaknya, memakinya bahkan Ia pernah ditampar sekali karna Lion membawakan makanan yang dipesan Indy dikantin tempat Indy duduk

“Nih pesanannya…”

“Lu lai, dari dulu sa, kenapa ew son pernah bosan ganggu be nih, son dikelas son dikantin, lu mau apa ew”

“Dy, be hanya mau bantu ibu kantin sa. Kasian ang, dia harus bawa pesanan semua ana-ana yang makan di ini kantin. Salah apa ee kalo be yang bawa lu pung pesanan?? Kan sama sa to.”

“Lu mau tau apa yang salah. Yang salah tu karena be harus liat lu pung muka. Dan karna be liat lu pung muka be jadi son selera makan lae.” Indy langsung berdiri dan membuang sejumlah uang tepat di wajah lion.

“Maksudnya apa ni???”

“itu buat bayar lu karna su capek-capek datang antar be pung pesanan. Ais itu ju bayaran karna lu su kas malu be di depan samua orang disini.” Indy mengangkat kaki kanannya dan mulai melangkah, tapi tangannya diraih lion yang berdiri didepannya.

“Dy, be….”

Belum sempat Lion menyelesaikan kalimatnya, Indy memberikan kesan yang paling berarti yang selamanya takkan pernahdilupakannya.

“PLAAAKKK”

Sontak semua siswa yang sedang berada di kantin itu menatap ke arah Lion dengan tatapan prihatin. Terutama Rhony dan Tora, sahabat Lion yang sejak awal menyaksikan perdebatan antara Lion dan Indy. Mereka langsung menghampiri Lion dan berusaha membuat Lion merasa tetap tenang.

“lu su lebe-lebe ni ma.”kata Rhony pada Indy dengan membelalakkan matanya yang tajam.

“lu pung kawan tu yang talalu lebe. Tolong kas tau dia supaya jang ganggu be lae ee…”kata Indy balas menatap Rhony.

“itu smua kan karna Lion sa…”

Belum sempat Tora melanjutkan ucapannya, Indy sudah beranjak meninggalkan kantin tanpa peduli ada orang yang sedang berbicara dengannya.

“gila lu”teriak Tora mengiringi kepergian Indy.

Karena begitu besar perasaan cintanya untuk Indy, tamparan itu seolah tak cukup untuk membuatnya berhenti menyukai Indy.

“sob, co lu pikir co. Samua yang lu buat ni, son pernah bikin dia tu sadar kalo lu tu sayang sang dia. Jadi manurut be, suda lae do. Masi banyak  parampuan laen yang masi lebe bae daripada dia.” Rhony mulai meyakinkan Lion untuk menyerah dengan perasaannya pada Indy yang memang bertepuk sebelah tangan.

“yang Rhony bilang tu talalu batul. Be setuju. Samua yang lu bikin tu parcuma sa. Dia son akan nodek sang lu. Jangankan nodek, lia sang lu sa dia bilang dia mau muntah na.”sambung Tora.

“bokang lae sob,,,itu parampuan tu ke talalu cantik sa” tambah Rhony.

“dia memang cantik” bela Lion dengan nada lesu.

“ho…..dia pung muka memang cantik ma dia hati busuk ke telor busuk. ” jelas Tora.

“be son akan manyarah. Be akan terus usaha sampe dia tau kalo be tu talalu sayang dia. Be pung sayang tu tulus dan hanya buat dia sa. Dia partama dan tarakir suda ee.”

“katong ni talalu mangarti sang lu, ma co lu pikir lae do. Dia tu son parnah bilang tarima kasi satu kali ju buat samua puisi yang su lu bikin kasi dia. Okelah, kalo dia son suka deng itu puisi dong yang Rhony su bikin, apa lae katong tau Rhony kan son ada bakat tulis puisi. Tapi lu?? Lu yang son parnah bikin puisi walopun untuk tugas sakolah rela bikin puisi buat Indy. Puisi cinta lae. Ma Indy, dia sam sakali son bisa manghargai itu samua ang.”

“saraf lu bilang be pung puisi son bagus. Be bikin itu puisi ju supaya itu parampuan gila bisa tarima Lion. Ma kalo dia son suka ju, brarti bukan salah be pung puisi ang, tapi salah hatinya itu parampuan sa yang su mati rasa. ”

Tora berdiri dengan tangan diletakkan di pundak Lion, “sob, lu ingat ko sonde? Waktu lu tembak Indy di perpus.”

Rhony yang merasa Lion tak pernah menyatakan cinta pada Indy memutar ingatannya.

“Ra, kapan tu Lion tembak di perpus? Masa be son tau ni??”

“be pung maksud waktu Lion mau deka-deka deng itu parampuan gila di perpus. Balom tembak ju, Lion baru mau bantu Indy ko ame kas dia buku yang dia cari. Ee itu parampuan langsung batareak marah-marah sang Lion. Dia pung gaya bagini ni. Be son butuh lu pung bantuan.” Tora mengulang kalimat itu sampai tiga kali seraya berusaha sebisa mungkin meniru gaya Indy.

“aiii,,,dasar parampuan gila!!! Sakarang be tau kanapa samua orang jadi tau kalo Lion tu suka sang dia.”

Lion yang mendengar kedua sahabatnya sedang menjelek-jelekkan permaisuri di kerajaan hatinya merasa harus memberi pembelaan.

“basong dua karmana ni? Bukannya bantu be buat jadi deng dia malahkas jalek-jalek dia pung nama di be pung muka lae.”

Tora dan Rhony saling tatap, kemudian mulai membela diri.

“kalo itu parampuan gila hargai lu pung perasaan sadiki sa mangkali katong mau lu….”jelas Tora.

“lu son rasa na. Co lu jadi be.”

Tora menatap Rhony sebentar, kemudian melanjutkan kalimat yang tak diselesaikannya karena keburu disambung sama Lion.

“Lion ee….kapan katong son dukung lu??? Rhony bilang tu talalu batul. Masalahnya, bukan itu puisi yang son bagus tapi itu parampuan gila sa yang su mati rasa!!!”

Lion menahan rasa kesalnya pada kedua sahabatnya itu dan sedikit memamerkan senyuman, Lion mengalihkan pembicaraan.

“basong dua kanapa nii?? Biasanya Tora son mungkin bilang lu pung puisi bagus, ma ini kali basong dua ke pung kompak lae. Tiap hari ke kucing tikus .”

* * *

Seperti biasa, hari ini sepasang mata selalu mengintai sang primadona. Primadona salah satu sekolah elit di Kupang. Dia memang pantas disebut primadona. Gayanya bak artis korea yang sering nongol di indosiar tiap sore. Rambutnya yang sedikit piring selalu digerai sepanjang bahunya. Dengan tinggi semampai, dia selalu berjalan tegak seolah di catwalk. Pokoknya, keseluruhan dari makhluk Tuhan yang satu ini bisa disebut perfect.

Apa yang dilakukan san primadona selalu diperhatikan. Walau dirinya selalu merasa terganggu dengan situasi itu, sang pemilik mata seolah tak kenal lelah memberikan perhatian.

Tapi ternyata, sang pemilik mata itu tak pernah secara langsung menggunakan satu moment pun untuk menyatakan perasaannya. Bagaimana bisa menyatakan perasaan dengan situasi khusus jika saat memberi perhatian saja dianggap menggangu.

“Lion-lion…son parnah sadar ee kalo Indy tu son pantas dapa lu pung sayang. Dia tu talalu parah ang. Ke son ada parampuan laen sa. ”Rhony mulai membicarakan perasaan tak sukanya dengan apa yang Lion rasakan.

“suda do Rhon, katong son bisa bikin apa-apa lae. Orang su cinta na mau buat kermana lae.”

Saat Rhony dan Tora membicarakan Lion dalam kelas, ternyata Lion sedang berada di perpus. Awalnya, dia tak berniat menghampiri Indy, namun saat dilihatnya Indy tak bisa menjangkau sebuah buku di rak yang paling tinggi, dirinya tak tega dan menawarkan bantuan.

“ni bukunya.” Lion menyodorkan sebuah buku bertuliskan Tujuh Langkah Menolak Cinta  di sampul depannya.

“be son butuh lu pung bantuan!!” suara Indy yang ditujukan kepada Lion diikuti tatapan tajam, membuat Lion tertunduk tak kuasa menahan rasa sedih dalam hatinya. Dalam pikirannya terbersit tanya, “kanapa ee,,,hanya mau bantu dia sa, dia bilang be ganggu dia nii?? Sadiki ju be ni talalu son pantas buat dia ko???”

Setelah larut dalam beberapa saat memikirkan Indy dengan suaranya yang menggelegar di ruang perpus, Lion mendapatkan satu hal lagi yang tak kalah buruknya.

Pak Jack, penjaga perpus yang sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kesantunan serta tata krama, mengusir Lion keluar dari perpus karena disangka mengganggu kenyamanan pengunjung perpus yang lain.

Lion berjalan menyusuri koridor panjang, mengarahkan langkahnya ke sudut paling tenang yang bisa membuatnya sedikit tersenyum dan berusaha membantunya menahan air matanya. Dirinya tahu, saat ini ia tak bisa mengeluhkan apa yang baru saja terjadi pada Tora dan Rhony.

Matanya kini diarahkan pada sebuah objek nyata yang sedikit menarik perhatiannya. Dari taman sekolah itu, ia melihat seorang gadis sedang kebingungan sambil memegang sebuah kertas. Gadis itu duduk di bangku paling ujung yang terletak di taman itu, berhadapan dengan bangku dimana ia duduk sekarang.

“sorry, kayaknya lu ke bingung cari sesuatu eee??? Ada yang bisa be bantu???”

“ehm,,,ia. Be ada bingung cari ini alamat…” gadis itu mengangkat kertas di tangan kanannya setinggi wajahnya yang manis.

Lion segera bangun dari tempat duduknya, menghampiri gadis itu, duduk disampingnya, dan membaca isi kertas yang dipegangnya.

“hi’i na….ko ini be pung kalas ni ma.” Lion mengangkat kepalanya.Gadis itu tersenyum lebar, beberapa butir keringat yang ada diwajahnya segera diseka.

“batul ko lu pung kelas??? Adoo co dari tadi be ketemu lu bae ee. Pasti be son akan kena tipu dar itu ana-ana dong. Be disuruh pi sana na, pi sini na, balik pi situ na, disuruh kesana lagi, son tau arah yang batul ni apa??”

“ia. Ini be pung kelas ang. Badewei, lu ana baru ko???”

“ia, be ana baru di ini sakola. ” tadi sebenarnya be mau pi kelas dengan wali kelas ma be dapa suruh pi kelas duluan, bilang biar be lebih akrap dengan anak-anak di itu kelas, eh malahan be dapat buat dari dong. Tau begini be…..”

Lion cuma geleng-geleng kepala dengan cara bicara cewek di depannya yang super cerewet dan gak bisa tenan, ngak bisa mengalihkan pandangannya dari cewek itu.

“kanapa lu liat be ke bagitu?” tanya cewek itu yang merasa diperhatikan.

“sorry aku, eh beta… sonde sangka sa, kok bisa ew ada orang yang cerewet ke lu nih. Padahal belum kenal juw…”

Lion menyodorkan tangan kanannya yang disambuyt oleh cewek itu ditambah sebuah senyuman, seolah menunjukkan perasaan lega.

“Lion…”

“Tyna…”

Dengan sedikit jeda, cewek itu melanjutkan ..

“mau ko sonde pi kelas dengan beta?”

Setelah mereka berjalan beberapa meter dari taman tempat mereka duduk dengan tujuan masuk ke kelas X-3 Lion tak berhenti tertawa mendengar cerita Tyna yang dikerjai beberapa siswa yang Ia tanyai ruang kelas di sekolahnya yang baru.

“lu bayangkan sa, be lari-lari sonde jelas pi ujung sekolah karena nyong yang tinggi besar, orang pertama yang beta tanya kas tau bilang kelas X-3 ada di sana, di paling ujung sana ew.. trus ada yang bilang di sana na…. di situ na… be pusing geng…”. Tyna berapi-api menjelaskan sambil mengarahkan disetiap sudut yang Ia maksud.

“trus lu mau sa lari-lari sonde jelas begitu? Sonde curiga kalau lu dapat tipu??”

“Curiga juw, ma ais mau bilang apa lai, lagian beta ju buru-buru mau pi liat kelas baru na. Dong pung muka juw meyakinkan jadi be parcaya su ma”

“hahahahahah….” mereka trus tertawa hingga kaki mereka memasuki kelas X-3

“ini su, kelas X-3 yang asli… so, ini kali lu beruntung be sonde kerjain !!”

Kata Lion sambil terus tertawa, namun tawa Lion dan Tyana tertutupi oleh suara gaduh kelas itu. Lion segera mengalihkan perhatian teman-temannya dengan memukul papan tulis beberapa kali.

“we ini hari katong punya kawan baru.. Ty kas kenal nama di kawan-kawan su atau mau tunggu sampai wali kelas yang datang..???”

“biar sekarang sa.. lebih cepat lebih bae!!! Hehe”

“Tyna…!!!” teriak Rhony mengagetkan Tyna

“Rhon…” Tyna menatapnya lalu berbalik dan melanjutkan perkenalannya.

“Hay,, beta pung nama Tyna Tari Putri, beta anak baru di sini, beta pindahan dari SMA Negeri I Soe… ehmm beta harap katong semua bisa jadi kawan bae” ucap Tyna

Beberapa cowok penghuni kelas itu pun mulai menggoda Tyna sang siswi baru dengan pwertanyaan-pertanyaan konyol

“minta nomor Whatsapp dow, boleh ko?? Tanya Jhody, cowok super gombal dikelas itu, karena Tyna hanya merespon dengan senyuman Jhody melanjutkan

“kalo on kasih pin WA juw on apa-apa, kermana kalo lu pung hati sa

Pertanyaan Jhody sontak mendapat begitu banyak respon tidak jelas. Rhony membelalakkan matanya ke arah Jhody, Jhody pun mengeluarkan pertanyaan yang membuat Rhony memerah

“Lu kanapa?? Tyna lu pung maitua ko???” cetus Jhody

Rhony hanya terdiam, dalam hatinya berpikir

“semoga Tyna son dengar yang Jhody bilang tadi”

“Tyna..!!!” sebuah suara memanggil Tyna dari arah pintu kelas

“Tora…” Tyna tersenyum ke arah yang dipanggilnya

“buat apa di sini??” tanya Toran sambil menghampirinya

“sekolah ew, masa maen-maen”

“jadi lu sekarang su pindah di sini ko??”

“ya begitulah… heheh”

Begitulah hari pertama cewek itu di sekolahnya yang baru. Tyna yang periang, sopan dan parasnya yang cantik membuatnya cepat bisa beradaptasi dengan siswa-siswi lain. Banyak yang langsung suka dan mengajaknya mengobrol.

* * *

Sore itu Lion, Tora dan Rhony sedang nongkrong di tempat andalan mereka, lapangan basket dekat rumahnya Lion.

“Rhon, Tyna sekarang tambah gaga ang??” kata Tara kepada Rhony

Karna tak mendapat jawaban dari Rhony, lion pun melanjutkan

“Ia..jadi tadi tu, dia duduk sandiri di taman, dapa buat dari anak-anak dong, kasian juw
ma be pot dia juw ow, baru hari pertama tapi su banyak yang mau bakawan dengan dia. “jelas Lion sambil memainkan bola basket ditangannya.

“Iaa, dia tuh memang begitu, dari cara bicara, cara berpikir, cara bergaul, benar-benar beda dengan orang lain”. Tambah Rhony

“dari tadi ni kek lu sa yang puji dia, antara bosong dua ne ada apa ow??” tanya Lion sambil menatap Rhony dan berhenti memainkan bola basket ditangannya.

Pertanyaan Lion yang begitu singkat namun membuat Rhony salah tingkah ngak jelas

“ehh ssooo sonde aw, bro dow..” jawab Rhony

Tora yang melihat dengan jelas wajah Rhony memerah karena pertanyaan Lion, langsung mengalihkan pembicaraan

“Lion… kayaknya tadi ni lu akrab mati dengan Tyna? Tanya Tora

Sesaat Rhony menarik nafas lega

Lion yang kembali memainkan bola basket ditangannya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Tora.

* * *

Di kelas X-3, sedang terjadi huru-hara yang amat besar. Guru kesenian hari ini sedang sakit jadi waktu digunakan untuk bermain, inilah yang paling disukai anak-anak sekolah, hal ini di manfaatkan anak-anak untuk bercanda selepasnya

Di ujung ruang kelas seorang cewek dengan  gitar berwarna putih di pangkuannya melantunkan nada-nada indah dari bibirnya. sebuah lagu milik Chakra Khan – Kekasih Bayangan dinyanyikan dengan ditemani gitar. belum juga menyelesaikan bait ke dua lagu itu, tiba-tiba ada seseorang datang dan menutup matanya dari belakang.

“siapa..???”

“ayo tebak ini siapa??”

“duh sapa ew… hmmmmm”

“ini Lion ko??”

“salah!!!”

“kayaknya nadus ne ma, eh nadus dow, berenti su aw”

“hehe, kok nadus??” sambil melepaskan tangannya dari mata Tyna

“eh Lion, beta pikir sapa, bikin kaget sa, dari mana nih??” celetuk Tyna

“ada jalan-jalan tadi, eh dapa dengar bidadari menyanyi, be singgah su ma, heheheh” canda Lion sambil tersenyum

“eh Lion dow, mau ko bagombal na… Ty kan malu…..” desis Tyna manja

Mereka berdua pun tertawa lepas menambah kegaduhan kelas.

Di depan kelas ternyata ada seseorang yang tidak menyukai keakraban antara mereka berdua, Ia yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dua insan itu pun bergegas pergi dengan wajah sedikit cemberut.

* * *

Hari lepas hari, Lion dan Tyna semakin akrab saja, banyak saja aktifitas yang mereka lakukan bersama, Lion pun merasa sedikit bahagia sejak kehadiran Tyna di kelas X-3, ada saja yang dibuat Lion membuat Tyna tertawa, begitu juga sebaliknya. Mereka pun dianggap oleh anak-anak sudah berpacaran. Tak sadar dua pasang mata selalu mengawasi mereka dengan pandangan murung, di wajahnya tergambar Ia sangat cemburu. Karna rasa yang membebani hatinya tak bisa tertahan Ia pun mendekati Lion dan berpura-pura bertanya

“apa kabar Lion??”

“eh Indy, bae sa nih, Dy kermana juw??”

“bae juw nih eh beta ada perluuuu….” belum sempat Indy melanjutkan datanglah Tyna

“eh sory Dy, be sonde ada waktu” kata Lion bergegas pergi meninggalkan kelas sambil menggandeng Tyna. Indy dengan hati sedih melangkah keluar kelas. Ia sangat merindukan Lion yang dulu yang selalu memperhatikan dirinya.

* * *

Keesokkan harinya setelah selesai upacara bendera, terjadi kegaduhan besar dalam kelas X-3, Rhony memukul Lion tanpa sebab yang jelas,

“lu kanapa nih, papagi datang langsung puku??”

“heh lu masih tanya kenapa beta puku lu ko? Lu su tau beta dari dulu ada suka dengan Tyna tapi lu bisa pi pacaran deng dia nih” ketus Rhony

“memangnya sapa yang ada pacaran deng Tyna??”

“heh samua juw su tau aw lu pacaran dengan Tyna”

Tyna yang ada disitu hanya bisa menangis dan kemudian pingsan.

“eh Rhon, supaya lu tau ew, beta sonde pernah pacaran deng Tyna, katong hanya bakawan sa, sonde lebih” jelas Lion

“haha, lu pikir beta bodoh ko? beta sonde percaya, bosong dua pasti su pacaran, lu ternyata begitu ew dengan kawan sendiri, beta selalu bantu lu, sampai urusan lu dengan Indy beta yang harus tulis surat cinta”

“Supaya lu tau ew Rhon, be dari dulu memang hanya bisa sayang Indy sa, be rasa lu juw tau itu, Beta memang dekat denga Tyna tapi b pung hati hanya untuk Indy, mungkin juw untuk selamanya, beta memang coba mau lupa dia sampai pernah be on toe dia, tapi jujur bro, be tetap sayang dia”

Maka berderailah airmata Indy mendengar apa yang dikatakan Lion, Ia telah salah menilai Lion, Lion ternyata tetap mencintai dan menyayanginya walau Ia sendiri tak pernah peduli dengannya, Lion yang selalu mengejarnya dan memberikannya surat. Di lubuk hatinya Ia sadar Ia juga telah jatuh cinta kepada Lion, dan Ia juga sangat mencintai pria itu..

***Selesai***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi