Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bila ke Pulau Rote, Jangan Lewatkan Obyek-obyek Wisata Ini

9 min read

Objek Wisata Istana Raja Rote di jantung Kota Ba’a Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain.(*)

Pantai Nembrala, obyek wisata pantai terpopuler di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao. (Foto:pegi-pegi.com)

ROTE NDAO, NTTBANGKIT.COM,- Pulau Rote atau Kabupatan Rote Ndao adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTT yang terletak di tengah lautan luas. Letaknya yang anggun di tengah lautan biru, membuat Pulau Rote bak tuan putri yang didekap berjuta kekayaan bahari. Meski sendirian di tengah laut, Pulau Rote yang telah menjadi daerah otonom sudah berbenah diri. Pelabuhan laut dan bandar udara pun telah lama dibangun sebagai pintu masuk ke pulau yang terkenal dengan alat musik Sasando tersebut.

Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, daerah yang lain agak cemburu karena Pulau Rote mendapat perhatian khusus dari Jokowi. Kehadirin Jokowi dalam Konggres Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara-JP) di Pulau Rote membawa durian runtuh bagi seluruh warga yang tinggal di Pulau Rote.

Jokowi membangun bandara dengan landasan yang panjang dan lebar, jalan raya yang mengkilat, memberikan ribuan embung untuk menampung air, dan berbagai fasilitas lainnya.Pasalnya, menurut Jokowi, Pulau Rote yang adalah ujung timur Indonesia yang berbatasan dengan Australia harus mendapatkan perhatian khusus.

Selain itu, Pulau Rote juga adalah daerah yang terkenal dengan obyek-obyek wisata yang mempesona, salah satu yang terkenal adalah wisata Pantai Nembrala yang sudah mendunia. Oleh karena itu, sarana prasarana penunjung dibangun untuk mendukung pegembangan obyek-obyek pariwisata Pulau Rote sebagai salah satu destinasi wisata NTT.

Saat ini, arus trasportasi laut dan darat sangat lancar. Untuk ke Pulau Rote, Anda bisa menggunakan Kapal Fery setiap minggu, Kapal Fery Cepat setiap hari, dan pesawat udara yang melayani rute penerbangan Kupang-Rote Ndao setiap hari. Untuk itu, bila ingin mengunjungi atau berwisata ke Pulau Rote tidaklah susah. Pasalnya, selain transportasi laut dan udara, transportasi darat, seperti roda dua dan roda empat pun sudah sangat lancar.

Kemana saja Anda Pergi Bila ke Pulau Rote?

Seperti ditulis situs Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Pulau Rote memiliki sejumlah obyek wisata unik dan langka. Ada wisata sejarah, ada wisata religu, ada wisata budaya, wisata alam dan wisata bahari. Semuanya dapat AndA kunjungi dan nikmati satu per satu dengan leluasa tanpa hambatan. Berikut tempat-tempat yang harus Anda kunjungi:

  1. Gereja Tua Laoholu (Bangunan Belanda)

Gereja tua Laoholu adalah gereja Kristen pertama. Gereja ini terletak di Desa Oelua, Kecamatan Rote Barat Laut. Orang-orang yang ada di Nusa Dengka terlebih dahulu ada di Oelua. Pada waktu mereka mulai mengenal agama Kristen, mereka membangun gereja pertama di Nusa Dengka pada tanggal 31 Oktober 1818 yaitu Gereja Loaholu Oelua.

Semua masyarakat Nusa Dengka datang berdoa di gereja tersebut karena belum ada gereja saat itu. Dan setelah tahun 1970-an baru dibangun rumah ibadat di wilayah masing-masing. Hingga saat ini Gereja Loaholu Oelua berdiri sebagai gereja induk yang dibangun pada zaman Belanda.

Gereja ini terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan kebaktian dan ruang berdoa atau biasa disebut sebagai ruang konsistori. Panjang gereja 25 meter dan lebar 11 meter disisi kiri gedung terdapat sebuah rumah yang terdiri dari dua ruang/kamar yang ditempati oleh pendeta dan keluarga. Luas tanah gereja ini adalah 2.626 meter persegi (75 x 35 meter).Gereja Tua Menggelama

2. Gereja Menggelama

Nama Gereja Menggelama diambil dari nama sebuah dusun yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Pelabuhan Laut Baa, Ibukota Kabupaten Rote Ndao. Adanya Gereja Menggelama menurut Soh & Maria (2008;55), adalah karena andil seorang warga Belanda bernama Jackstein yang memindahkan sekolah dan rumah penduduk ke dusun menggelama. Selanjutnya, Jackstein digantikan oleh seorang pendeta pengganti P.Y. Penning yang berkedudukan di Ba’a; karena sakit Penning kembali ke Belanda dan digantikan oleh Van Malsen. Van Malsenlah yang kemudian membangun Gereja.

Gereja Menggelama didirikan selama 13 tahun yaitu pada kurun waktu 1880 sampai dengan tahun 1893. Namun, peletakkan batu pertama sebagai dasar untuk mendirikan sebuah gedung gereja yang pertama dibuat dari batu (tembok) (bisa dikatakan bahwa sudah ada gereja di Rote namun belum terbuat dari batu (tembok) namun kemungkinan besar gereja yang ada masih dalam bentuk seperti rumah penduduk lokal yang umumnya terbuat dari kayu ) justru barulah dilakukan pada tahun 1882 sehingga dapat dikatakan bahwa gereja menggelama yang merupakan gereja pertama bertembok sebenarnya dibangun dalam kurun waktu 11 tahun dan diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1893. Gereja Menggelama dipugar untuk pertama kalinya pada tahun 1896 atau 3 tahun setelah gereja ini dibangun. Saat ini Gereja Menggelama telah menjadi cagar budaya yang mendapat perhatian dari Pemerintah dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)

3. Istana Raja Rote

Istana Raja Rote di Kota Ba’a

Objek wisata ini terletak tepat di jantung Kota Ba’a yaitu di Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain dan merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda. Sekarang ini dijadikan Istana Raja Rote (Raja Kedoh).

4. Bangkai Pesawat Tempur Jepang

Bangkai pesawat temput Jepang Desa Mukekuku, Kecamatan Rote Timur.

Bangkai Pesawat Tempur Jepang adalah pesawat tempur yang jatuh di Papela pada tahun 1942. Peninggalan ini merupakan bukti sejarah penjajahan Portugis dan Jepang dan berada di Desa Mukekuku, Kec. Rote Timur yang berjarak + 65 km dari Kota Ba’a. Untuk menuju obyek wisata sejarah ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor kurang lebih 1 jam.

5. Jangkar Magelhaens

Jangkar Magelhaens

Jangkar Magelhaens adalah peninggalan dari zaman penjajahan Portugis yang karam di Desa Faifua, Kecamatan Rote Timur pada tahun 1940. Berjarak + 70 km dari kota Ba’a dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor + 1 jam 15 menit.

6. Rumah Raja Thie

Salah satu Rumah Raja yang berusia 80 tahun yang masih dijaga keasliannya hingga sekarang dan terletak di dusun Tuasu’uk, Desa Oebafok, Kecamatan Rote Barat Daya, kurang lebih 14 km dari Kota Ba’a. Dapat ditempuh dalam waktu 20 menit dengan kendaraan. Rumah ini merupakan rumah raja ke-7 setelah rumah batu.

Pembangunan rumah raja ini dilakukan oleh Raja Thie A. W. Messakh pada tahun 1930 dengan tujuan menghentikan perang saudara antara kerajaan Thie dengan kerajaan Dengka. Bangunan ini dibangun di antara perbatasan kedua kerajaan karena sering terjadi peperangan.

Cara lain untuk menyatukan kedua kerajaan ini, yaitu dengan kawin mawin. Raja Dengka mengawinkan puterinya dengan putera Raja Thie dan puteri Raja Thie dikawinkan dengan putera Raja Dengka. Sehingga peperangan yang terjadi berangsur berkurang bahkan sudah tidak pernah terjadi lagi peperangan atau pencurian antara kedua kerajaan ini.

Rumah adat ini awalnya tidak mempunyai daun pintu dan jendela, tahun 1999 direnovasi oleh pemiliknya bangunan tersebut terbuat dari bahan kayu gula dan batang lontar dan terdiri dari tiga lantai. Lanta 1 yaitu lantai dasar sebagai tempat penyimpanan kembang gula dan padi, lantai 2 sebagai tempat tidur dan pertemuan raja, lantai 3 sebagai tempat penyimpanan hasil bumi seperti rempah-rempah.

Rumah ini juga ada dua tangga namun waktu direnovasi kembali, tangga besar hanya dibuat jadi satu tangga, yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2. Luas bangunan adalah 70 x 60 meter.

7. Batu Termanu

Batu Termanu terletak di Nusak Termanu, Kecamatan Rote Tengah. Batu ini terdiri dari dua batu, yaitu Batu Hun dan Su’a Lain. Keduanya juga disebut Batu Mbadar atau Batu Bapa la. Kini Batu Termanu menjadi objek pariwisata di Pulau Rote.

Menurut legenda Batu Hun adalah laki-laki, sedangkan Su’a Lain adalah wanita. Batu Hun terletak di sebelah barat, sedangkan Su’a Lain di sebelah timur, keduanya berdekatan dan merupakan sepasang suami isteri.

Kedua batu tersebut merupakan batu pengembara. Asal mereka dari Ti Mau (Amfoang). Ada yang bilang mereka berasal dari Maluku atau Seram. Karena dipicu oleh konflik masalah harta pusaka maka mereka memilih untuk mengembara.

Awalnya mereka mengembara sampai di Ndao, namun lingkungan hidup di sana tidaklah harmonis. Mereka pun diusir. Mereka mengembara ke Lole dan disana mereka memperanakkan seorang anak yang dinamai Nusa Lai (kini sebuah pulau di sebelah selatan Lole).

Setelah beberapa lama waktunya terjadi pula pertengkaran dengan lingkungan di Lole. Maka mereka pun mengembara dan sampailah di Termanu. Di sinilah mereka menetap sampai sekarang.

Kedua batu tersebut khususnya Su’a Lain menjadi tempat berdoa bagi masyarakat Termanu. Dalam ibadah bersama manasonggo (imam animis) masyarakat biasanya membawa hewan dan bahan pangan/beras sebagai persembahan ke Su’a Lain.

Beras atau nasi ditanak dan hewan disembelih serta hati dan bulu hewan dipersembahkan ke Su’a Lain, sedangkan sisanya mereka makan beramai-ramai. Bahasa adat untuk persembahan ini adalah ‘leu ke batu’ dengan tujuan untuk memohon kepada Dewata supaya ada curah hujan yang cukup di Bumi.

Nilai moral yang dapat diambil dari cerita ini adalah dimana pun kita tinggal walaupun bukan di lingkungan keluarga hendaklah kita memandang tetangga sebagai kaum kerabat kita. Sikap saling menghormati dan menghargai haruslah dipupuk. Sikap bermusuhan hendaklah dijauhkan sehingga hidup terasa aman.

8. Kompleks Kuburan Raja

Kuburan Raja

Kompleks kuburan Raja Kerajaan Keempat ini di bangun menghadap ke Laut timor (oli dale dalam bahasa Lole ).Dan di sinilah merupakan tempat peristirahatan terakhir 2 Raja Lole; Raja keempat yang bernama KILA PELO ( dengan nama baptis Danial Petrus Zacharias) dan anak keduanya yang menjadi Raja Lole dengan nama PAU KILA (nama baptis Paulus Semuel Zacharis).

Cerita sejarah kuburan-kubuuran ini diingatnya melalui tutur kata saja dari generasi kegenerasi oleh masyarakat Bebalain. Menurut keluarga Zacharias ada beberapa catatan sejarah dalam bahasa Belanda dan satu buah buku yang salinannya sangat sulit ditemukan. Dan buku ini di pegang oleh salah satu keluarga dikupang (yang memegang sejarah keluarga Zacharias).Zacharias adalah marga dari turunan Raja.

Dikompleks kuburan Raja ada beberapa kuburan juga yakni kuburan Raja dan keluarga ada juga kuburan pembantu, pengawal Raja, namun adapun pembatas antara kuburan raja dan kuburan pembantu dan pengawal dengan menggunakan batu.

Kuburan ini dibuat dengan batu nisan di sebelah barat dan badan kubur di sebelah Timur. Tingginya dibuat berdasarkan status dimana kuburan tertinggi adalah kuburan Raja( KILA PELO dan PAU KILA). Ada 7 kuburan yang masih bisa terlihat jelas,dan ada beberapa yang sudah runtuh akibat serangan alam. Batu-batu pembatas kuburan keluarga Raja dan pembantu serta pengawal tidak tampak tarlalu jelas dan hampir rata dengan tanah.

9. Bukit Mando’o (Tangga 300)

Di Pulau Rote, salah satu obyek wisata terkenal yaitu Bukit Mando’o yang juga merupakan wisata kebanggan suku Lole. Apabila kita berdiri dipuncak Mando’o kita dapat melihat pesona kawasan pantai dan permukiman Desa Kuli yang eksotis. Hamparan laut yang bernuansa biru dan hijau menyatu dengan pohon bakau yang rimbun.

Di arah utara kita juga dapat melihat bukit yang menjulang ke atas yang diselimuti dengan pohon-pohon yang begitu indah. Untuk menuju bukit kita harus melewati anak tangga yang jumlahnya 388. Inilah yang menyebabkan Bukit Mando’o lebih dikenal dengan sebutan Tangga 300.

Selain dengan pesonanya alamnya yang begitu indah bukit Mando’o juga memiliki sejarah, dimana pada zaman dahulu Raja Lole pernah mendiami bukit Mando’o dan membangun kerajaan di atas bukit tersebut.

10. Pantai Dombo

Pantai Dombo atau biasa disebut Pantai Salaek Dale berada di Desa kuli Kecamatan Lobalain. Pantai ini menyajikan air yang tenang dengan pasir putih serta rimbunan pohon- pohon dan hutan bakau yang indah. Di sebelah Pantai Dombo, ada juga lapangan bola yang setiap sore pemuda-pemuda menggunakan waktu berolahraga.

Dari Pantai Dombo, sekitar 2 kilo meter dapat dilihat puncak Mando’o karena pantai tersebut terletak di bawah Bukit Mando’o. Dan untuk tiba di Pantai Dombo, pengunjung harus melewati jalan Bukit Mando’o karena searah.

11. Tanjung Nggolo (Tanjung Pole)

Tanjung Nggolo atau Tanjung pole yang terletak di Desa Dodaek, Kecamatan Rote Selatan merupakan tempat wisata terselatan Pulau Rote dan titik terseletan Indonesia. Tempat ini memiliki keunikan pantai yang begitu indah dan daratan yang luas serta pohon-pohon yang rimbun. Tidak kalah pentingnya Tanjung Nggolo juga memiliki cerita sejarah “dimana pada zaman dahulu ada sebuah kapal layar terdampar di area Tanjung tersebut dan tidak dapat kembali ke tempat asal.

Mereka lalu mendirikan Rumah di atas karang dan mendiami pantai itu. Bulan berganti bulan serta tahun berganti tahun mereka tetap berada ditempat itu dan pada akhirnya kapal yang mereka tumpangi yang dulunya terbuat dari kayu kini menjadi Batu hingga sekarang. Dan pada saat ini tempat tersebut sudah tidak berpenghuni “sekilas wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat yakni Daud Huan.

Dikemudia hari, dilanjutkan oleh pejabat kepala desa setempat bahwa pada tanggal 07 Oktober 1992 TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Darat membuat titik terselatan Indonesia berupa sebuah pilar, yang mana bahan-bahannya diangkut oleh Helikopter dari atas kapal yang berada di tengah laut.

12. Pantai Nembrala

Pantai Nembrala nan indah (*)

Pantai Nembrala, di Pulau Rote adalah pantai yang sangat indah, bersih nan mempesona selaras alam yang damai nan tenang. Pantai ini telah lama oleh para wisatawan dijuluki sebagai Kuta-nya Pulau Rote yang istimewa denga hamparan pasir putih terbentang bak karpet alami.

Begitu banyak wisawatan asing telah menginjakan kaki di hamparan pasir putih, merasakan harum aroma laut dan sentuhan lembut udara Pantai Nembrala. Bila ke Pantai Nembrala, para wisawatan bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu karena tergila-gila dengan suguhan indah Nembrala.

Pantai yang terletak di Desa Nembrala, Rote Ndao ini menawarkan latar belakang alami rimbunan pohon nyiur yang melambai-lambai ditiup angin. Hal ini membuat para wisawawan merasa betah. Ombak Nembrala yang cocok untuk para selancar atau snookling membuat pantai ini menjadi ajang bagi pelaksanaan iven-iven internasional yang diikuti para wisawatan dari berbagai belahan dunia.(sumber: rotendaokab.go.id/ kornelis/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi