Jum. Okt 30th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gerakan Revolusi Pertanian NTT Tingkatkan Produktivitas Menuju Kesejahteraan Rakyat (1)

9 min read

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Lasikodat, saat panen padi di Kabupaten Sumba Barat beberapa waktu llalu. (Fotopskupang)

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi yang mayoritas rakyatnya petani. Kurang lebih 70 persen rakyat NTT yang kebakanyak berada di desa menggantungkan hidup dari pertanian, baik pertanian lahan kering (petani ladang/kebun) dan petani lahan basah (petani sawah).Hasil-hasil pertanian tersebut antara lain, padi, jagung, kacang-kacangan, buah dan sayuran. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian hasil ladang mereka juga dipasarkan di pasar-pasar tradisional untuk mendapatkan uang.

Dari hari ke hari, tahun ke tahun kebutuhan pangan rakyat semakin meningkat pesat. Seiring bertambahnyanya jumlah penduduk (manusia), kebutuhan pangan pun semakin meningkat. Permintaan pasar akan hasil-hasil panen petani, seperti beras, jagung, buah dan sayuran semakin besar. Sementara, di sisi lain, tingkat produksi pertanian warga makin lama semakin stagnan bahkan menurun. Hal itu disebabkan oleh beberap faktor, seperti (1). Curah hujan rendah (ketersedian air), 2)Lahan yang makin terbatas, 3) Belum dioptimalkannya lahan warga, 4)Generasi muda enggan menjadi petani, 5) Pemasaran hasil pertanian belum tembus pasar modern.

Sebagai sebuah provinsi agraris yang menggantungkan hidup dari pertanian sebagai lumbung ketahanan pangan, produksi pertanian NTT belum berhasil memenuhi kebutuhan hidup seluruh warga NTT. Kondisi ini dibuktikan dengan fakta lapangan dimana saat ini produksi pertanian dari luar NTT masih mendominasi pasar-pasar dan toko-toko di NTT. Bila ke pasar-pasar di NTT kita akan menemukan beras dari Sulawesi, Beras dari Bima dan Pulau Jawa, Jagung dari Sulawesi dan Bima, Bawang putih dan bawang merah dari Lombok, bahkan begitu banyak buah dan sayuran pun diimpor dari luar NTT yang dijual bebas mendominasi pasar-pasar di NTT.

Jangankan untuk ekspor, untuk kebutuhan pangan rakyat NTT pun kita belum mampu memenuhinya. Kondisi ini telah berlangsung lama dan bahkan terus berlangsung jika pemerintah daerah tidak melakukan terbosan besar dengan gerakan revolusi dan revitalisasi pertanian NTT maka kita pasti akan tetap berkekurangan. Kita masih kekurangan beras. Kita masih kekurangan buah –buahan, dan kita masih kekurangan sayuran serta bumbu dapur, seperti bawang merah dan bawang puth. Dalam kacamata keseharian kita, buah yang paling banyak ditanam dan dijual petani NTT di pasar-pasar, hanya mangga, pisang, advokat, pepaya, nenas, sirsak, dan lain-lain. Buah-buahan itu pun musiman. Satu tahun hanya satu sampai dua kali, sehingga terkadang jarang ditemui buah-buahan yang dijual di pasar. Sementara itu, sayur-sayuran yang paling banyak dijual dan dikonsumsi warga NTT adalah Kangkung, Bunga Pepaya, Bayam, Daun Ubi, Kacang Panjang, Sayur Sawi, Wortel, Kentang, dan Marungga alias Kelor.

Presiden Beri Bendungan dan Embung Dukung Pertanian

Bicara tentang pertanian berarti bicara tentang kesiapan lahan dan paling utama air. Soal lahan memang masih terdapat begitu banyak lahan tidur di NTT yang belum maksimal dimanfaatkan sebagai areal pertanian atau perkebunan sayur dan buah-buahan. Melihat masalah terbesar di NTT dalam bidang pertanian, peternakan dan perkebunan adalah air, maka Presiden Ir. Joko Widodo memberikan perhatian khusus bagi NTT di era kekuasaannya. Presiden Jokowi memberikan 7 buah bendungan atau waduk dengan menggelontokan triliunan rupiah dari APBN yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Tujuh bendungan itu telah dan sedang dibangun, yaitu Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang, Bendungan Napun Gete di Maumere, Bendungan Rotiklot di Belu, Bendungan Temev di Soe, Bendungan Nambo di Mbay, dan lain-lain. Pembangunan bendungan tersebut, kata Presiden Jokowi adalah bendungan terbanyak yang dibangun dari seluruh bendungan yang dibangun di Indonesia.

Selain bendungan, Presiden Jokowi juga menggelontorkan lagi anggaran yang tidak sedikit bagi pembangunan ribuan embung di seluruh wilayah NTT melalui APBN. Gebarakan besar Jokowi tersebut, semata-mata untuk mengatasi krisis air di NTT yang sudah terjadi sekian lama tahun. “Saya tahu masalah terbesar yang dihadapi masyarakat NTT adalah air. Oleh karena itu, saya memberikan bendungan untuk NTT. Dan NTT saya berikan terbanyak dari semua provinsi lainnya. Saya berharap bendungan dan embung yang dibangun dapat dimanfaatkan semaksimalnya untuk kebutuhan air, baik air minum, maupun air untuk irigasi pertanian, perkebunan dan peternakan,” kata Presiden Jokowi dalam kunjungan perdana saat dilantik di awal periode pertama silam.

Pemprov NTT Bangun Gerakan Revolusi Pertanian

Mendukung dan menindaklajuti Gubernur dan Wakil GubernurNTT, Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef A. Nae Soi, di awal masa kekuasaannya pada 2018 lalu, menegakaskan akan memfokuskan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan sebagai sektor utama untuk membangun ketahanan pangan. Baik gubernur maupun wakil gubernur dalam berbagai kegiatan ke daerah selalu mendorong warga untuk bangkit bekerja keras memanfaatkan lahan-lahan tidur untuk menanam berbagai tanaman sayuran dan buah-buahan dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan hidup warga dan memenuhi kebutuhan ekonomi. Keduaanya bahkan sangat keras melarang lahan-lahan pertanian dan perkebunan di NTT, bahkan hutan-hutan dijadikan areal pertambangan. Moratorium tambang pun menjadi langkah keras dan tegas yang dilakukan untuk menyelamatkan lahan pertanian dan hutan-hutan di NTT yang menjadi sumber-sumber mata air untuk kehidupan warga dan pertanian serta peternakan. Langkah tegas lainnya, yakni keduanya melarang warga untuk menjual lahan-lahan mereka kepada pihak-pihak luar, terutama diobyek wisata atau dekat obyek wisata, karena kedepan warga akan kehilangan lahan-lahan untuk pertanian dan untuk usaha produktif ekonomi lainnya.

Untuk membangun pertanian, diawal masa kekuasaan Viktor-Joss, dilansir Antaranws.com, telah memaparkan fokus penyusunan program prioritas sektor pertanian di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini untuk lima tahun ke depan (2018-2023).Kepala DInas Pertanian saat itu, Yohanis Tay, mengatakan isu penting yang menjadi fokus dalam penyusunan maupun pembahasan program pertanian lima tahun ke depan adalah produksi dan produktivitas pertanian.

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan upaya yang akan dilakukan pemerintah daerah dalam mendorong produktivitas pertanian di provinsi berbasis kepulauan itu selama lima tahun kepemimpinan Gubernur Viktor Laiskodat-Josef Nae Soi. Viktor Bungtilu Laiskodat setelah dilantik menjadi Gubernur NTT oleh Presiden Jokowi di Istana Negara Jakarta, Rabu (5/9/2018), mengatakan akan memberi prioritas pada produksi hasil pertanian sebagai komoditas unggulan NTT. “Rancangan program prioritas sektor pertanian tahun 2018-2023 sedang disusun dan dalam pembahasan, tetapi ada beberapa hal penting yang menjadi fokus untuk dibahas, yakni pemanfaatan lahan potensial, penyediaan sarana prasarana dan perbenihan, kelembagaan petani dan usaha-usaha jasa pertanian,”tandasnya kala itu.

Dia menambahkan, untuk meningkatkan produksi pertanian maka program kegiatan prioritas yang harus dilakukan adalah penyediaan sarana dan prasana pertanian serta membuka pertanian lahan kering sebagai proyek percontohan. Selain pembangunan infrastruktur irigasi, pengadaan peralatan utama sistem pertanian, penumbuhan produksi pupuk organik di daerah dan pengendalian distribusi pupuk bersubsidi. “Peningkatan produksi pangan berupa gerakan olah lahan, bantuan benih dan sarana produksi, pendampingan teknologi, pengendalian hama penyakit dan bantuan penanganan panen dan pascapanen,” katanya.

Prioritas lain adalah peningkatan kapasitas usaha dan kelembagaan petani berupa latihan petani dan petugas, pemberdayaan dan bantuan usaha jasa serta pendampingan tokoh agama. Disamping usaha mandiri benih pertanian di daerah berupa penyediaan benih sumber melalui pemuliaan tanaman, optimalisasi balai benih dan kebun dinas aset pemerintah provinsi. “Hal lain yang tidak kalah penting dalam mendorong peningkatan produksi pertanian adalah pemberdayaan kelompok penangkar benih sebar di semua kabupaten dan desa mandiri benih,” terang Yohanis.

Lebih lanjut, seperti dilansir Antaranews.com, Rabu, 5 September 2018, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat berjanji akan mengoptimalkan produksi hasil pertanian dan peternakan di provinsi berbasis kepulauan ini.Dikatakannya, dua sektor itu menjadi komoditas unggulan bagi masyarakat di NTT, sehingga dua sektor tersebut akan mendapat prioritas.

Ia menjelaskan untuk mengoptimalkan hal tersebut, di sektor pertanian, karena wilayah NTT adalah wilayah kering, maka dia berniat untuk melakukan multikultural mengikuti program pemerintah pusat yakni padi, kedelai dan jagung. “Program multikultural saya rasa cocok untuk dikembangkan di NTT. Kita akan coba dengan hal ini. Di samping itu, hal yang paling ditekankan lagi adalah masalah pertambangan yang marak terjadi di provinsi itu. Ia berjanji akan menghentikan seluruh aktivitas pertambangan di wilayah itu.

Di samping itu juga kelayakan dari tambang itu akan menjadi perhatian dari politisi NasDem tersebut. “Jika tidak sesuai dengan aturan maka otomatis pertambangan di NTT akan dilakukan secara tidak beraturan,” katanya. Apalagi, kata dia, NTT adalah provinsi yang terkenal dengan keindahan alam dan wisatanya. Jika semakin marak pertambangan tentu hal itu akan menggangu keindahan alam NTT. Ia tidak mau aktivitas pertambangan dapat merusak berbagai keindahan alam di NTT. “Kasihan rakyat kecil. Tempat indahnya dirusak hanya gara-gara tambang yang tidak jelas.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi NTT tengah menggerakan pariwisata sebagai sektor unggulan untuk memajukan dan meningkatkan pendapatan daerah. Gerakan besar pembangunan pariwisata yang dimotori oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josep A. Nae Soi saat ini tengah berjalan dengan pembangunan infrastruktur dan obyek-obyek pariwisata. Pemerintah juga telah dan sedang melakukan promosi baik di tingkat nasional maupun internasional untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara datang ke NTT. Artinya, kebutuhan pangan dan air menjadi dua kebutuhan dasar yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan air bagi para wisatawan. Pasalnya, selain untuk memenuhi kebutuhan dasar pangan warga, para wisatawan pun membutuhkan makanan dan minuman yang diproduksi para petani di NTT dan kemudian dipasok ke berbagai hotel, restaurant, home stay dan warung-warung makanan.

Anggarkan 100 Miliar Rupiah untuk Pertanian

Dalam meningkatkan produktivitas pertanian, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat terus bekerja keras mendorong Dinas Pertanian bekerja keras dan cepat. Untuk itu, ia mengganti Kadis Pertanian demi percepatan kinerja. Ie meminta dinas pertnian menjalankan fungsinya dengan baik di lapangan, sehinga pertanian NTT maju dan berkembang. Dia meminta program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang tersebar di 17 kabupaten secepatnya dilakukan. Oleh karena itu, Dinas Pertanian harus mendesain secara baik seluruh persiapan secara baik agar program berhasil. Lahannya harus jelas ditentukan dan dipersiapkan dengan baik, termasuk luas lahan dan jumlah tenaga kerjanya. Dia juga mendorong dinas pertanian selalu berkoordinasi dengan dinas terkait lainnya, terutama Dinas PUPRMisalnya lokasi lahan yang jauh dari sumber air, untuk dibangunkan sumur bor dan embung-embung. Ia pun mendorong dinas untuk berkomunikasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan terkait dengan pemasaran agar para petani tidak terjerat rentainer.Petani dapat menjual melalui Bumdes-Bumdes.

Terkait program Tanam Jagung Panen Sapi, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus yang menggantikan Johanis Tay Ruba, menjelaskan bahwa tersebar di 17 Kabupaten dan kota, yakni Kota Kupang, Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor, Kabupaten Sabu Raijua dan Kabupaten Nagekeo, dengan total lahan yang akan digarap sebesar 10 ribu hektar. Program ini tersebar di 330 Desa dengan jumlah kelompok tani sebanyak 495 kelompok dan melibatkan 20 ribu petani. Program TJPS ini menyasar 330 desa dengan jumlah Kelompok Tani sebanyak 495 Kelompok, dan melibatkan 20 ribu petani.

Selanjutnya, seperti dikutip dari siaran pers Biro Humas Setda NTT, dalam kunjungannya ke Takari Kabupaten Kupang, belum lama ini, Gubernur Viktor juga mendorong seluruh Bupati, para camat dan para kepala desa untuk berkontribusi dalam pembangunan sektor pertanian. Dikatakannya, membangun pertanian di NTT harus dilakukan secara revolusioner. Artinya pola kerjanya harus dengan cara-cara yang luar biasa. Dia sangat mengharapkan keterlibatan dari semua pemangku kepentingan dalam mewujudkan revolusi pertanian.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Viktor menyinggung tentang kemandirian benih, dimana NTT masih belum mampu menyiapkan benih padi maupun jagung. Namun dia optmis dalam tahun 2021 nanti NTT sudah mampu mandiri dalam menyiapkan benih.
“Tapi yakinlah,tahun depan kita bisa. Saat ini terbukti bahwa kita mampu menghasilkan benih padi Varietas Ciherang. Ke depanya kita harus mendesaignnya secara lebih baik agar kebutuhan benih di NTT bisa dipenuhi,” ujarnya.

Ditegaskannya, demi membangun revolusi pertanian NTT, maka pemerintah NTT akan menggarkan sebesar Rp100 miliar untuk meningkatkan hasil produksi pertanian NTT. “Tahun depan kita akan menganggarkan 100 miliyar untuk pertanian. Kebijakan ini merupakan anggaran terbesar sepanjang sejarah NTT untuk mengembangkan pertanian di NTT. Tentunya harus jelas perencanaan, pelaksanaan hingga pertanggungjawabanya. Saya harapkan seluruh kabupaten/kota dapat saling bersinergi untuk pengembangan pertanian di NTT,” pintanya.

Gubernur Viktor rupanya sangat serius dan fokus membangun pertanian, ia terus mendrong para kepala daerah, camat dan kepala desa menjadi penggerak di daerah untuk mendorong para petani meningkatkan produksi. Selain Kabupaten Kupang, dalam kunjungan kerjanya ke Sumba Barat Daya, Jumad (9/10/2020),seperti dilansir Pos Kupang.com, dia terus menyampaikan tekad kuatnya membangun pertanian NTT. Dia meminta para petani memanfaatkan semua lahan tersedia untuk meningkatkan usaha pertanian. Ia meminta pemerintah daerah Sumba Barat memfokuskan pembangunannnya. Misalnya pembangunan sektor pertanian seperti membangun irigasi yang baik sehingga seluruh lahan potensi pengembangan sawah irigasi terolah dengan baik. Hal itu karena tidak semua hamparan persawahan Wanokaka teraliri air terutama pada musim kemarau seperti sekarang. Dengan demikian, hanya sebagian saja petani menanam padi pada lahan sawah yang teraliri air.

Terkait sumber air untuk pertanian, dalam kunjungannya ke Sumba untuk melakukan panen perdana padi sawah, dia berjanji ke depan, pemerintah akan terus berusaha membangun dan memperbaiki saluran irigasi yang tersedia sehingga semua petani Wanokaka dapat menanamnya dengan baik. Saat ini kondisi bendungan Waikelo Sawah sudah tidak maksimal menyuplai air ke lahan persawahan warga sehingga musim tanam hanya berlangsung dua kali dalam setahun. Ia berencana membenahi bendungan tersebut agar masyarakat menanam padi 3 kali dalam setahun. Pihaknya juga akan bekerjasama dengan Pemda Sumba Barat akan mengganti mesin pembangkit listrik tenaga air di bendungan itu agar dapat menyuplai listrik bagi warga sekitar.Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meminta masyarakat untuk mengolah semua lahan secara optimal.Termasuk lahan pekarangan rumah dan kantor. “Kita akan siapkan ke depan agar bisa ambil air pakai pipa dari sungai supaya tetap tanam pada musim kemarau.Tidak boleh ke depan, satu jengkal tanah di NTT yang tidak ditanami termasuk halaman rumah dan kantor,” terang Viktor Desa Bali Loku Kecamatan Wanokaka Kabupaten Sumba Barat.

Lebih lanjut, Gubernur VBL menegaskan, telah meminta dinas pertanian dan ketahanan pangan NTT untuk mempersiapkan musim tanam bulan Oktober 2020 sampai Maret dengan baik. Gagal panen harus dihilangkan. Tidak boleh ulangi kesalahan yang sama.
”Kita harapkan dengan pertumbuhan pariwisata Sumba Barat yang pesat, semua rantai pasoknya berasal dari masyarakat Sumba khususnya Sumba Barat. Karenanya perlu kerja fokus pada tiga atau empat kegiatan prioritas,” pintanya.

Terkait Program TJPS, Penjabat Sementara Bupati Sumba Barat, Semuel D. Pakereng menegaskan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat siap mendukung program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Pihaknya telah melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat untuk mengolah lahan-lahan kosong mereka. ”Kita telah mempersiapkan 20 hektar untuk penangkar benih jagung di pantai Rua untuk mendukung ketahanan pangan. Sampai saat ini juga belum ada gagal panen di kabupaten Sumba Barat,” jelas Semuel Pakereng dikutip Siaran Pers Biro Humas Setda NTT beberapa waktu lalu. (Dari berbagai sumber media/ kornelismoanita) (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi