Jum. Okt 22nd, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bincang-bincang Bersama Gubernur NTT, Victor Laiskodat Tentang Grand Design Masyarakat Ekonomi NTT

7 min read
Emild Kadju sedang mewawancai Gubernur NTT Victor Laiskodat di dalam Ruang Tunggu Pejabat, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman

Gubernur NTT Victor Laiskodat saat berbincang-bincang dengan NTTBANGKIT.COM (NBC) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kamis (18/7/2019).

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Pemerintah Provinsi NTT melalui Kantor Badan Penghubung NTT di Jakarta, belum lama ini menggelar Forum Investasi Masyarakat Ekonomi NTT di Jakarta dan dan Yogyakarta. Dengan gerakan besar masyarakat ekonomi ini, Pemerintah NTT pun mengajak seluruh rakyat NTT terlibat aktif dalam pembangunan dan pemerintah juga mengajak para investor untuk datang ke NTT. Terkait hal ini, NTTBANGKIT.COM (NBC), Kamis (18/6/2019) berkesempatan berbincang dengan Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat mengenai Grand Design Masyarakat Ekonomi NTT di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Berikut petikan wawancara:

NBC: Sektor budaya dan Pariwisata merupakan keunggulan Provinsi NTT. Kira-kira, apa grand design bapak Gubernur terhadap potensi tersebut?

NTT begitu kaya akan budaya dan pariwisata, yang tentunya punya dampak ekonomi bagi kehidupan masyarakat NTT, bila dikelola dengan baik. Saya memiliki visi tentang masyarakat ekonomi NTT, dimana nilai-nilai budaya dan pariwisata kita bisa memberi efek domino, bukan hanya bagi PAD kita, melainkan untuk menyokong ekonomi masyarakat NTT secara riil. Dimana kita semua masyarakat NTT bisa mandiri secara ekonomi. Di mana kita bisa swasembada pangan untuk kita sendiri. Itulah mengapa pada saat-saat ini saya berusaha mengembangkan semua potensi yang dimiliki NTT. Budaya dan pariwisata NTT harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi NTT.

NBC: Langkah kongkrit apa yang Bapak usahakan untuk mencapai visi besar tersebut?

Hal pertama yang saya siapkan adalah sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang baik tentunya sangat dibutuhkan untuk bisa sampai pada visi tersebut. Saya sedang berjuang untuk menyekolahkan 10.000 anak asli NTT yang berprestasi ke luar negeri agar wawasan dan cara pandang mereka tentang dunia sekeliling berubah. Hanya melalui itu, kita bisa mengubah NTT dalam rangka mencapai masyarakat ekonomi NTT yang mandiri. Kedua, saya sedang menyiapkan marketplace yang tepat agar komoditi yang kita miliki bisa menghasilkan rupiah berkali-kali lipat. Sarung yang semula harganya cumaRp500 ribu, bisa menjadi Rp10 juta. Kopi hasil roasting yang harganya cuma Rp40 ribu per kilogram bisa menjadi Rp4 juta per kilogram bahkan lebih, asalkan marketplace-nya tepat.

NBC: Saat ini Bapak sedang mendorong daerah-daerah (kabupaten) untuk membuat festival budaya, sebagaimana festival Ngada pada tanggal 2 sampai 10 Juli dan akan diikuti oleh Festival panggil duyung di Alor dari tanggal 19 sampai 24 Juli, serta festival-festival budaya NTT lainnya. Apa goal, impact, dan benefit yang ingin Bapak capai?”

Tentu ini adalah awal. Daerah-daerah sedang belajar bagaimana mengkomersilkan potensi budaya dan pariwisatanya agar punya dampak ekonomi. Dalam proses belajar itu, tentunya ada nilai yang ingin kita dapatkan, yaitu bagaimana kita menghargai dan melestarikan budaya kita sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi? Tahun depan, saya akan langsung turun tangan. Saya akan mengundang jaringan-jaringan saya, media-media masional dan internasional, para bloger ternama, para youtuber terkenal untuk mengamplifikasi acara-acara budaya kita.

NBC: Ketika festival budaya Inerie di kabupaten Ngada sedang berlangsung, ada yang mengatakan bahwa festival tersebut tidak punya dampak ekonomi karena tidak ada media branding. Bagaimana tanggapan Bapak?

Visi besar saya, seperti dikatakan sebelumnya, adalah mencapai masyarakat ekonomi NTT yang mandiri secara ekonomi. Namun, untuk sampai kesana dibutuhkan tahapan-tahapan yang cukup panjang. Oleh karena itu saya membiarkan daerah-daerah (kabupaten, red) untuk mengeksplorasi budayanya. Kita harus mencintai budaya kita sendiri, sebelum orang lain datang menyaksikan keindahan budaya dan pariwisata kita. Ketika kita sudah menjadi masyarakat yang sadar bahwa budaya dan pariwisata kita punya dampak ekonomi, saat itulah semuanya menjadi mungkin. Hari ini mungkin orang mengkritik, tapi beberapa tahun lagi, mereka akan sadar bahwa yang kita usahakan hari ini adalah emas.

Itu dari sisi budaya. Kemudian tentang pariwisata. Pariwisata itu adalah pemenuhan ekspektasi imajinasi. Apa itu ekspektasi imajinasi dan kapan itu terjadi? Hal itu terjadi ketika keadaan riil dari sebuah destinasi sinkron atau sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka. Sebuah destinasi pariwisata yang bisa memenuhi ekspektasi imajinasi mengandaikan beberapa hal yaitu: tempat yang menarik, hospitality, makanan yang khas dan enak, marketplace cinderamata. Bila salah satu aspek saja tidak ada, maka pariwisata akan mandul.

Tentang tempat yang menarik: ada begitu banyak destinasi kita yang tidak terurus secara baik. Kita punya banyak destinasi yang tersebar di seluruh wilayah NTT. Sekarang, tinggal bagaimana kita menggunakannya sebagai motor penggerak ekonomi. Tentang hospitality, kita akan melakukan lokarya untuk membuka kesadaran para pengelola destinasi pariwisata agar mereka mampu memberikan pelayanan bertaraf internasional. Tentang makanan: selama ini kita hanya mengimport daging sapi pilihan dari luar. Saya memiliki target, bahwa 4 tahun dari sekarang kita sudah bisa memanen daging sapi dengan kualitas tinggi. Kita bisa mendistribusikannya ke semua restoran di sekitaran destinasi wisata, untuk menjawab ekspektasi imajinasi para pengunjung tentang makanan NTT, sehingga efek ekonominya bisa lebih maksimal.

Lalu soal marketplace cinderamata. Para pengunjung atau wisatawan bisanya akan mencari cinderamata khas daerah di mana ia berkunjung. Terhadap hal ini, kita siapkan pasar. Modal tidak perlu takut, akan saya siapkan. Karena yang saya butuhkan adalah orang yang mau bekerja. Kita siapkan kain tenun terbaik. Kita siapkan anyaman rotan dan lontar terbaik demi memenuhi ekspektasi imajinasi para wisatawan yang datang ke tempat kita. Bila semuanya mampu kita buat, maka pariwisata kita akan berkembang cepat dan punya efek ekonomi.

NBC: Selain potensi budaya dan pariwisata, ekonomi masyarakat NTT sangat tergantung dengan potensi komoditi pertanian, perkebunan dan kelautan, Apa saja potensi komoditi di NTT yang mempunyai dampak ekonomi?

NTT begitu kaya akan komoditi. Kita punya garam, kita punya rumput laut, kita punya kopi, dan masih banyak lagi. Bila kita punya garam, kenapa kita harus ekspor dari luar? Infrastrukturnya akan saya siapkan. Kita akan mulai dengan meningkatkan produktivitas garam kita sebagai garam terbaik di Indonesia, bahkan asia, dan dunia. Dengan demikian, kita tidak akan menjadi importir garam, tetapi eksportir garam. Rumput laut pun demikian. Orang NTT menjual rumput laut basah dengan harga di bawah 10 ribu per kilogram. Kita datangkan mesin-mesin pengering dengan kualitas tinggi, agar kita bisa menghasilkan rumput laut kering dengan harga jual ratusan kali lipat. Bukan hanya sampai di situ, kita juga akan mengolah rumput laut kisa sendiri hingga enproduct sehingga kita bisa menjadi tuan atas harga produk lokal kita. Dan sekarang bubuk kelor, yang pada bulan november nanti akan kita ekspror ke Jepang sebanyak 40 ton.”

NBC: Bapak berhasil membuat marketplace internasional untuk produk olahan buku kelor dan hal itu merupakan sebuah loncatan besar dalam sejarah kepemimpinan NTT dari tahun 1958 hingga saat ini. Bahkan pada bulan November nanti, NTT, melalui BUMDes M’rian di Kabupaten Malaka akan mengekspor 40 ton tepung kelor ke “negeri sakura” Jepang. Apa yang bapak lakukan sehingga Jepang bisa kepincut dengan kelor di NTT?

Saya sudah katakan pada awal debat kandidat calon Gubernur tahun lalu (2018), bahwa kelor itu sangat berguna bagi NTT. Setiap hari kita makan daun kelor, tetapi kita tidak tahu kegunaan dan khasiat kelor yang mana bisa menurunkan stunting karena kaya protein. Bahkan WHO mengatakan bahwa kelor adalah miracle tree orang NTT. Selain punya dampak dalam sektor kesehatan, kelor juga punya dampak ekonomi. Para ahli dari Jepang kita undang untuk meneliti kelor yang kita budidayakan melalui BUMDes. Hasilnya, kelor kita memiliki tingkat protein yang setara dengan susu segar. Pada awalnya orang-orang menertawakan saya, tapi lihat sekarang, kelor yang dulunya ditertawakan telah berubah menjadi sumber ekonomi masyarakat NTT.

NBC: Seperti yang Bapak katakan bahwa Jepang meminta 40 ton bubuk kelor per-minggu. Tentunya itu adalah permintaan besar. Apa yang akan diusahakan untuk meningkatkan produktivitas bubuk kelor untuk memenuhi permintaan pasar?

Saya akan memberikan tambahan 10 mesin pengering agar proses pengeringannya bisa lebih cepat. Namun, saya melihat bahwa masalh utamanya bukan di situ, melainkan mesin powdering-nya. Saya akan lebih dahulu menyuplai mesin pembuat tepung. Kalau mesin pengering bisa dari belakang. Mereka bisa mengeringkan kelor pakai matahari.

NBC: Tentang Sopi dan Moke (miras khas NTT), yang Bapak namakan sophia. Banyak orang mendukung, tetapi tidak dipungkiri bahwa banyak orang juga menolak kebijakan Bapak tersebut. Bagaimana menyikapi hal ini?

Kalau mau jujur, sebelum mereka menolak sophia, mereka harus menolak sake dari Jepang, Takju dan Soju dari Korea dan miras-miras negara lain yang diimport lebih dahulu. Justru sophia ini akan membuka mata masyarakat NTT dan Indonesia bahwa moke kita itu bukan hanya bisa buat kita mabuk dan pergi pukul orang. Sophia itu justru membuat kita sadar bahwa moke kita adalah salah satu sumber ekonomi menuju masyarakat ekonomi NTT yang mandiri.

NBC: Dilihat dari sisi nama, Sophia artinya bijaksana. Mohon tanggapan, mengapa Bapak memilih nama Sophia?

Sebenarnya tidak ada kaitan dengan arti etimologi sophia. Saya memilih nama sophia sebagai singkatan dari sopi asli (NTT, red). Namun, kehadiran sophia ini harus membuat masyarakat NTT semakin bijaksana dalam mengolah sumber daya alam yang dimiliki. Selain menggunakan bahan dasar lontar dari Insana, tim kita juga sudah mendatangkan minuman lokal dari daerah lain seperti, arak Adonara, arak Aimere dan sopi Pura Alor, dan beberapa daerah lain se-NTT untuk menciptakan miras kelas satu dengan harga jual yang layak. Kita punya sumber daya alam, tetapi kita belum tahu cara memanfaatkannya secara bijaksana. Saya akan membantu membuka mindset masyarakat NTT. Saya akan ada bersama mereka.

NBC: Pemuda NTT adalah tulang punggung pembangunan daerah. Apa pesan Bapak untuk kaum muda NTT?

Untuk adik-adik saya,  anak muda NTT dimanapun kalian berada, gunakan waktu kalian secara bijaksana untuk belajar dan mengembangkan kompetensi diri,  bukan hanya aspek teoretis,  melainkan juga aspek praktis. Jangan takut untuk mulai berwirausaha. Bangunlah network dari sekarang. Khusus mahasiswa NTT,  jangan hanya kampus-kos, kampus-kos. Belajarlah membangun hubungan komunikasi dengan siapa saja,  karena bukan tidak mungkin,  mereka-mereka akan menjadi jejaringan adik-adik di masa depan. Saya minta kaum muda NTT harus bangkit penuh optimisme menatap masa depan. (Emil Kadju/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi