Kam. Jan 28th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tingkat Inflasi Kecil, Provinsi NTT Dipuji Tim Pengendali Inflasi Daerah

5 min read

Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef Alexander Nae Soi didalmpingi Kaban Penghubung Pemda NTT, Drs Viktor Manek saat diwawancarai, Kamis (25/7/2019) di Jakarta.

(Wawancara khusus dengan Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef Alexander Nae Soi, MM, terkait tingkat inflasi Provinsi NTT)

JAKARTA, NTT BANGKIT.COM – Pengendalian inflasi daerah menjadi poin utama dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jl. Jend. Sudirman No. Kav. 86, Karet, Jakarta Pusat, Kamis (25/07/19). Rapat tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia (BI), Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), dan para Gubernur se-Indonesia.

Wakil Gubernur NTT,Drs. Josef Alexander Nae Soi,MM, mengatakan bahwa NTT dipuji oleh TPID dan gubernur-gubernur daerah lain karena tingkat inflasi daerah yang kecil. Namun, untuk menjaganya tetap stabil masih ada banyak pekerjaan rumah yang perlu dilakukan Pemprov NTT. Bagaimanakah langkah-langkah yang harus dilakukan? Berikut petikan wawancara khusus NBC terkati tingkat inflasi NTT:

NBC: Dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa ada delapan daerah kabupaten/kota yang masih mempunyai tingkat inflasi di atas rata-rata target pemerintah pada 2018, yaitu 3,5 persen dengan deviasi satu persen. Bagaimana dengan tingkat inflasi di NTT:

Delapan daerah yang dimaksud oleh Menko adalah Watampone (4,69 persen), Sorong (4,95 persen), Tarakan (5,00 persen), Merauke (5,42 persen), Sampit (6,02 persen), Manokwari (6,02 persen), Palu (6,46 persen) dan Jayapura (6,70 persen). Sedangkan inflasi daerah NTT cukup kecil, yaitu 1 persen lebih, dan hal itu berada di bawah target maksimal inflasi nasional yaitu 3,5 persen. Walaupun bukan yang terbaik se-Nusa Tenggara-Makassar-Papua. Rendahnya tingkat inflasi di NTT justru dipuji oleh TPID dan para gubernur yang hadir dalam rapat.

NBC: Apakah ada upaya untuk menurunkan lagi tingkat inflasi NTT?

Tentu itu adalah progres kita. Namun perlu diingat bahwa inflasi itu, seperti kata Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla, diibaratkan tekanan darah; tidak boleh terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu rendah. Kita akan membangun sinergitas antar-kabupaten dan kota agar inflasi bisa kita kendalikan. Bila inflasi terlampau rendah maka kita akan mengalami deflasi. Deflasi terjadi jika kemampuan membeli kita ada, tetapi barang-barang yang mau dibeli tidak ada. Atau barang-barang yang mau dibeli ada, tetapi daya beli kita tidak ada. Atau barang tidak ada, daya beli kita juga tidak ada. Semuanya harus seimbang, baik ketersediaan barang, maupun daya beli. Semuanya harus terdistribusi secara merata.

NBC: Bagaimana cara mengendalikan inflasi agar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah hingga deflasi?

Kita sudah sama-sama mendengar dalam rapat bahwa  untuk mengendalikan inflasi volatile foods, Gubernur Bank Indonesia bilang harus ada 4K yaitu, keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Untuk konteks NTT, Pemprov NTT tengah berjuang membuat pemerataan pasar melalui penerapan sistem distribusi yang efektif. Kita akan menjahit lautan melalui penyediaan kapal-kapal dagang se-NTT agar bahan-bahan pokok asli daerah NTT bisa tersebar secara merata dengan harga yang sama di setiap wilayah NTT. Kita ingin agar harga bawang, cabai, tomat, dan bahan-bahan lainnya sama di setiap daerah. Bila distribusinya merata, tentu harga bahan-bahan lokal kita pun akan sama.

NBC: Dalam rapat koordinasi TPID, Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa dengan memanfaatkan teknologi digital, inflasi daerah bisa distabilkan. Bagaimana pendapat bapak tentang pernyataan ini?

Benar apa yang dikatakan oleh Gubernur BI. Namun, bukan hanya soal pemanfaatan teknologi, karena baik inflasi maupun deflasi tidak hanya ditentukan oleh satu item saja. Ada banyak item yang memengaruhinya, seperti aspek distribusi barang dan jasa yang merata, yang mana barang dan jasa kita di NTT harus ada di mana-mana secara merata, daya beli masyarakat harus ada, yang mana mengandaikan bahwa harga barang dan jasa kita harus terjangkau, dan lain sebagainya.

NBC: Apakah yang Bapak paparkan dalam rapat sejalan dengan 4K yang dikatakan oleh Gubernur Bank Indonesia. Bagaimana konsep 4K disinergikan, diadaptasi, dan diterapkan secara inovatif dalam konteks NTT?

Konsep pembangunan Masyarakat Ekonomi NTT dalam Grand Design Pak Gubernur Viktor dan saya adalah pembangunan yang bersifat inklusif dimana semua produk barang dan jasa berasal dari kita sendiri, dan dibeli oleh kita sendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing sebelum barang dan jasa tersebut didistribusikan ke luar NTT. Maka, kita akan melakukan 3 hal yaitu sinergi, adaptasi, dan inovasi.

Dalam hal sinergi, kita memperkuat infrastruktur, baik darat, laut, maupun udara. Dengan infrastruktur yang baik, kita akan mampu mendistribusikan bahan pangan dan jasa secara merata. Melalui adaptasi, kita akan mempelajari sistem-sistem ekonomi yang diterapkan oleh pasar di negara-negara maju. Kita perlu belajar dari mereka. Maka Pemerintah Provinsi NTT akan mengirimkan putra-putri terbaiknya ke luar negeri untuk belajar teknologi terapan sehingga sepulangnya mereka bisa mengadaptasikan pengetahuan mereka untuk membangun NTT dari sisi budaya dan pariwisata sebagai motor penggerak Masyarakat Ekonomi NTT. Melalui inovasi, kita akan menerapkan penggunaan teknologi digital dalam setiap usaha. Setiap kekayaan budaya dan pariwisata akan kita berdayakan supaya memiliki dampak ekonomi.

NBC: Pemprov NTT akan mengirimkan anak-anak muda ke luar negeri untuk belajar. Bagaimana peran kaum muda dalam pemetaan konsep Masyarakat Ekonomi NTT?

Anak-anak muda NTT sekarang sudah sangat luar biasa. Mereka mampu mengelola dan menggunakan teknologi secara baik. Hal yang kurang dari anak muda adalah bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mengelola alam dan budaya kita di NTT. Maka hal yang sedang kami usahakan adalah bagaimana mengubah mindset mereka. Kemarin saya berdiskusi dengan kedutaan Australia agar anak-anak dari NTT yang akan dikirimkan bukan untuk pendidikan S1 atau S1, tetapi untuk vocational education. Melalui pendidikan vokasi, anak-anak muda NTT yang kita kirim akan diajarkan teknologi terapan dan kemampuan manajemen terapan sehingga ketika pulang ke NTT mereka bisa memberikan sentuhan inovatif bagi desain budaya dan pariwisata kita.

NBC: Apakah sudah ada anak NTT yang dikirim ke luar negeri untuk pendidikan vokasi atau masih dalam tahap rencana Pak?

Saat ini sudah ada 25 anak asli NTT yang kita kirim ke luar negeri. Fokus mereka adalah pariwisata. Kita ingin agar ketika pulang, mereka bisa mengelola pariwisata kita dengan standar internasional, sehingga para wisatawan yang datang nanti bisa memenuhi ekspektasi imajinasinya. Mungkin terkesan biasa saja, tetapi hal itu akan menjadi testimoni yang bagus ke depannya.

NBC: Apa yang membuat Pemprov NTT begitu berharap besar dari pembangunan sektor pariwisata?

Berbicara tentang pariwisata, berarti berbicara tentang orang mau datang, lihat, dan hospitality tuan rumah sehingga kita bisa memeroleh benefit yang baik untuk mencapai masyarakat ekonomi NTT, dengan pariwisata sebagai salah satu motor penggerak ekonomi. Maka kita sedang membangun sistem pengelolaan pariwisata berbasis internasional. Kita ingin agar para wisatawan yang datang mengatakan wawwwwouuu… (ekspresi kagum, red.). Kita ingin agar pariwisata kita berkesan di mata pengunjung sehingga menjadi snowball effect bagi peningkatan jumlah wisatawan yang datang. Kita juga akan membangun sistem yang win-win solution bagi para wisatawan dan kelestarian destinasi wisata kita sendiri. (Emild Kadju/NBC).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi