Sab. Feb 22nd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Festival Budaya Sumba Ditandai Ritus Adat Tunu Woleka, Tari Kataga dan Tari Weemaringing

4 min read

Seorang tua adat Sumba IKBS usai menikam dua ekor babi dengan tombak dalam ritus adat Tunu Woleka.(Foto: bungkornell)

Pemudi-pemudi Sumba ketika menarikan tarian Woleka

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) Jakarta menggelar Festival Budaya Sumba 2019 untuk mempromosikan berbagai potensi Pulau Sumba, NTT. Festival yang digelar di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (15/12/2019) dari pagi hingga sore hari ini, dihadiri tokoh-tokoh, kaum perempuan, pemuda-pemudi dari 4 kabupaten di Sumba yang ada di Jabodetabek. Festival yang dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si ini ditandai dengan upacara adat Tunu, Tari Kataga, tari Weemaringing Tarin Woleka, dan lain-lain.

Kepala Badan Viktor Manek, dalam sambutannya ketika membuka Festival Budaya Sumba 2019, mengatakan bahwa festival ini digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Provisi NTT ke-61 yang jatuh pada tanggal 20 Desember 2019. Selain itu, kata viktor Manek, festival ini juga untuk mendukung program Gubernur dan Wakil Gubernur NTT di bidang pariwisata.

“Dengan melakukan festival ini, orang Sumba dapat memperkenalkan budaya Sumba di Jakarta, sehingga orang bisa mengenal seperti apa atau apa saja potensi-potensi budaya yang dimiliki orang Sumba, baik Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah,” kata Kaban Viktor Manek sembari mengajak agar semua IKB di Jakarta harus dapat memanfaatkan Anjungan NTT untuk mengelar berbagai macam festival dari seluruh kabupaten di NTT.

Kaban Viktor Manek bersama Ketua IKBS, Mikhael Umbu Zasa ketika pembukaan Festival Sumba 2019.

Ditegaskan Viktor, pada tahun 2019 ini merupakan awal dari gerakan promosi seni budaya NTT melalui berbagai iven festival yang digelar Badan Penghubung NTT bersama IKB-IKB di Jakarta. Untuk tahun 2020, dia memastikan Pemprov NTT melalui Badan Penghubung NTT akan menyiapkan anggaran khusus bagi setiap kabupaten (IKB) untuk menggelar festival di TMII selama 2 Minggu berturut-turut untuk setiap bulan secara bergantian.

“Tahun ini kita baru mulai, jadi masih banyak kekurangan. Namun, tahun depan kita akan siapkan anggaran sebesar Rp25 juta per kabupaten atau per IKB untuk menggelar festival seni budaya secara besar-besaran di tempat ini. Anggaran ini bersumber dari APBD NTT 2020. Dan akan digelar pada bulan Desember 2020 nanti,” tegas Viktor Manek.

Tenun Ikat Sumba dipasarkan dalam Festival Sumba 2019 di Anjungan NTT.

Upacara Adat Tunu

Mengenai pelaksanaan Festival Budaya Sumba 2019, Ketua IKBS, Mikhael Umbu Zasa,mengatakan, acara festival budaya dalam rangka HUT NTT ke 61. Dari 22 kabupaten kota di NTT yang dipilih melaksanakan festifal pada tahun 2019 ini ada 4 kabupaten. Menurutnya, pelaksanaan festival ini hanya sebagai contoh atau model untuk tahun 2020, dimana festival seperti ini akan digelar setiap bulan oleh seluruh IKB atau seluruh kabupaten-kabupaten se-NTT yang ada di Jakarta.

“Jadi dalam sebulan akan diisi oleh 2 kabupaten. Hari ini kami dari Sumba membuat upacara adat Tunu Woleka. Itu adalah pesta kenduri atau syukuran yang dilaksanakan oleh satu keluarga dari Sumba atas berkat dan rejeki atau mungkin ada sesuatu hal baik yang mereka dapatkan dalam hidup sehingga mereka membuat upacara adat Tunu. Ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui upacara adat kepada leluhur. Tapi tujuan semuanya kepada Tuhan sebagai tanda terima kasih,” terang Umbu Zasa.

Dalam upacara Tunu, lanjut dia, biasanya sebuah keluarga yang membuat acara mengundang beberapa keluarga inti untuk datang bergembira bersama-sama. Mereka datang membawa babi, kambing, ayam dan juga hewan-hewan yang besar seperti sapi. Apa yang dilakukan hari ini hanya Tunu saja (pesta kecil), kalau Tunu Woleka berarti pesta besar yang harus melibatkan hewan bawan lebih besar seperti sapi dan kerbau yang dipotong dan di makan bersama-sama. “Ini memang benar-benar hanya Tunu saja karena hanya ada dua ekor babi yang dibawa,” ujarnya.

Apresiasi Pemprov NTT

Kepada Pemprov NTT, Umbu Zasa mengucapkan terima kasih melalui Badan Penghubung NTT karena telah menggelar pertama kali acara adat Tunu. Meski dalam cuaca yang kurang baik (hujan), dan persiapan apa adanya kegiatan festival dan upaara adat Tunu bisa berjalan.

Para wisatawan yang datang menyaksikan Festival Budaya Sumba

“Mungkin hari ini terlihat sangat sederhana, tetapi tidak apa-apa. Yang penting kita mulai dahulu, nanti tahun depan baru kita buat lebih meriah, melalui promosi yang lebih baik pula. Kami apresiasi Badan Penghubung NTT yang telah memulai kegiatan-kegiatan festival budaya ini. Kami juga ucapkan terima kasih kepada Pemprov NTT.

“Intinya, kami sangat bersuka cita hari ini karena Pemprov mulai membuka ruang berekspresi budaya bagi seluruh ikatan keluarga besar (IKB-IKB) NTT di Jakarta,” akunya.

Menurut Umbu Zasa, momentum festival tersebut sebagai ajang promosi seni budaya dan adat istiadat Sumba. Ada upacara adat Tunu, ada tarian Kataga, dan ada tarian Woleka, tarian Weemaringing (tarian terima berkat, ada pameran tenun ikat sumba, dan lain-lain.

Para pemuda Sumba menarikan tari Kataga.

Disaksikan NTTBangkit.com, dalam Festival Budaya Sumba tersebut ditandai dengan upacara adat penikaman dua ekor babi oleh para sesepuh dan perwakilan dari masing-masing kabupaten secara simbolis, dan kemudian dua ekor babi tersebut ditikam oleh seorang tua adat hingga mati. Babi tersebut kemudian dibakar dan dibersihkan, dan setelah itu dibela dan dipotong-potong untuk dimasak oleh kaum ibu. Setelah daging babi adat matang, daging babi yang telah disipakan dengan nasi dan sayur serta sambal tersebut kemudian diberikan kepada seluruh warga Sumba yang hadir mulai dari orang tua, anak muda hingga anak anak kecil.

Setelah upacara adat Tunu yang ditandai dengan jamaun makan bersama usai, maka acara dilanjutkan dengan pegelaran berbagai jenis tarian adat Sumba, seperti tarian Koka, tarian Weemaringi dan tarian Kataga yang dipentaskan pemuda dan pemudi Sumba. Festival ini, meskipun dilaksanakan secara sederhana, namun mendapat perhatian dari wisatawan asing yang menyempatkan diri datang menyaksikan festival bersama rekan-rekannya. Wisatawan perempuan tersebut tampak sangat serius lama tidak bergeming memotret dan memvideokan hampir seluruh rangkaian upacara adat penikaman babi.(korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi