Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Home Stay Dukung Pembangunan Pariwisata, Pacu Ekonomi Warga

6 min read

Para wisatawan asing sedang menikmati panorama keindahan Teluk Maumere di Blue Ocean Home Stay dan Restourant, Maumere, Kabupaten Sikka. (*)

Pemilik Blue Ocean Home Stay And Restourant, Iganatius Kasar saat berdiskusi dengan para wisawatan asing.

NTTBANGKIT.COM,–Home stay adalah salah satu tempat istirahat atau singgah paling murah-meriah bagi para wisatawan asing penat dengan kehidupan mewah di negara maju. Para wisatawan sangat menyukai home stay yang sederhana, bernuansa budaya dan alami apa adanya. Banyak wisatawan datang ke kota-kota wisata di Pulau Flores, Alor, Timor dan Sumba memilih menginap di home stay.

Dalam kesaksian media ini, ada home stay-home stay yang dibangun oleh pengusaha pariwisata dan dibangun oleh warga sebagai usaha permanen. Ada home stay yang lengkap dengan restaurat dan travel dan ada yang hanya menyiapkan tempat istirahat dengan fasilitas terbatas, atau apa adanya namun nyaman bagi wisatawan. Rata-rata pengusaha home stay mampu berbahasa Inggris, meskipun apa adanya.

Home stay, oleh pengusaha pariwisata dan warga  banyak dibangun di sekitar obyek-obyek wisata. Ada yang sudah llebih modern lengkap dengan fasilitas AC, TV, toilet bersih, dan fasilitas internet, namun masih banyak yang tanpa fasilitas modern, hanya menggunakan lampu lentera yang suram dengan bangunan dari kayu dan dahan-dahan ilalang atau dahan kelapa dengan dinding bambu, dan berlantai tanah dengan tempat tidur sangat sederhana.   

Di Pulau Flores, sejak ramainya para wisatawan mengunjungi obyek-obyek wisata, home stay telah lama menjadi usaha bisnis yang dibangun dan dikembangkan untuk melayani para wisatawan. Usaha home stay terus berkembang dari waktu ke waktu, karena Pulau Flores telah menjadi destinasi pariwisata dunia yang paling diburuh para wisatawan.

Saat ini, banyak warga mulai melirik home stay sebagai usaha produktif untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Dengan modal yang terbatas, mereka membangun home stay di kawasan pariwisata, seperti yang telah dilakukan Ignatius Kasar salah satu warga Kabupaten Sikka yang kini telah banyak meraup untung dari usaha tersebut. Bermodalkan semangat kerja keras yang tinggi, ia bersama istrinya membangun home stay di tepi Pantai Lokaria, Maumere, Kabupaten Sikka, berhadapan dengan Teluk Maumere yang indah.

Home stay bernama Blue Ocean yang terletak kurang lebih 100 meter dari pinggir jalan Maumere-Larantuka itu kini sudah sangat ramai menjadi tempat singgah atau nginap para tamu, baik wisawatan asing, domestik maupun para pengunjung warga biasa dari luar daerah.  Ketika sampai di Blue Ocean Anda pasti tidak percaya kalau itu adalah home stay karena Blue Ocen berada dalam pemukiman warga. Yang membedakannya, ia terlihat jauh lebih sederhana dari rumah-rumah warga dibawa naungan pohon nyiur, ketapang, kelapa, dan beberapa pohon yang  sangat lebat dan hijau.

Para wisatawan asing sedang santai di Blue Ocean Home Stay And Restourant.

Saat memasuki pintu Blue Ocean, suasana alami sangat terasa karena banyak tanaman bunga dan pohon hijau yang menutupi beberapa bangunan kamar tidur, toilet, restaurant dan sebuah panggung yang lengkap dengan kursi dan meja sederhana tempat wisatawan bersantai menikmati suara ombak dan indahnya teluk Maumere di pagi hari dan senja tiba. Rasanya Anda berada di sebuah hutan kecil sangat tenang dan alami.   

Disaksikan media ini yang sempat menikmati suasana alami di Blue Ocean, beberapa turis tampak hilir –mudik di home stay tersebut. Ada yang datang untuk check in dan ada yang check out. Selain para turis, ada pula warga lokal yang memilih Blue Ocen sebagai tempat bersantai untuk menikmati panorama alam laut Teluk Maumere.

Menurut Arnold, salah satu pengunjung yang sering ke Blue Ocean, tarif nginap sehari juga tidak terlalu mahal, hanya dengan mengeluarkan Rp300 ribu Anda dapat menikmati suasan alami dalam dekapan pepohonan hijau. Anda juga dapat menikmati panasnya arak asli (Moke) Maumere, Bir dan berbagai jenis ikan bakar sesuai selera dan pesanan. Namun, soal menu Anda harus mengeluarkan uang lebih.

Sementara itu, Ignas yang adalah seorang yang sangat peduli pada pembangunan pariwisata di Flores, mengungkapkan, usaha tersebut ia jalani sudah beberapa tahun. Selain untuk meningkatkan ekonomi keluarga dan ekonomi para karyawan yang bekerja di Blue Ocean, ia juga ingin mendukung pembangunan pariwisata di Kabupaten Sikka yang salah satunya menyiapkan sarana penginapan.    

“Usaha ini saya bangun pelan-pelan, tidak sekaligus. Kadang ramai para turis datang sampai semua kamar penuh, kadang hanya satu dua orang, dan kadang sepih. Banyak juga warga lokal yang datang, ada pula warga dari luar daerah. Saya senang menjalankan usaha ini untuk membangun daerah dan tentunya untuk meningkatkan ekonomi,”kata Ignas Kasar yang tengah menyapa para turis dan tamu yang datang ke Blue Ocan, beberapa waktu lalu.

Dahulu, di Kota Maumere tidak ada home stay-home stay yang dibangun warga, kecuali di Sao Wisata Maumere di Waiara yang pertama kali dibangun oleh Frans Seda. Seiring waktu berjalan dan ramainya para turis mengunjungi Kabupaten Sikka, maka saat ini di kawasan tepi pantai Maumere sudah terlihat banyak home stay, restourant dan kafe-kafe yang ramai di malam hari, seperti di tepi Pantai Lokaria.

Home Stay Dongkrak Ekonomi Rakyat Kecil

Sebagaimana perkembangan home stay dan restourant di obyek-obyek pariwisata terbesar di NTT, seperti Labuan Bajo, Bajawa, Ende, Maumere, Lembata dan Alor serta Sumba, Pemerintah Provinsi NTT kini terus mendorong warga untuk membangun home stay sebagai usaha produktif rakyat kecil dalam meningkatkan ekonominya.

Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, SH dan Drs. Josef Alexander Nae Soi, MM mendorong Bank NTT untuk membantu warga memberikan dana kredit agar warga kecil berkembang ekonominya. Keduanya berharap dengan modal tersebut, setiap warga yang tinggal di sekitar obyek-obyek wisata segera membangunnya mulai dari satu atau dua kamar yang tentunya sederhana tetapi dengan fasilias toilet dan penerangan yang baik.

Gubernur Laiskodat dan Viktor bahkan lebih ekstrim melarang para pengusaha besar dan menengah membangun home stay-home stay di daerah wisata, dan peluang membangun home stay itu diberikan sepenuhnya kepada warga lokal yang berekonomi lemah dengan modal dari Bank NTT.

“Saat ini NTT telah menjadi New Tourism Teritory. NTT  juga telah menjadi destinasi pariwisata dunia. Oleh karena itu, sarana –sarana pendukung pariwisata terus kita bangun. Ada bandara-bandara, ada jalan provinsi dan pelabuhan-pelabuhan serta hotel-hotel dan home stay. Pengusaha besar silakan membangun hotel-hotel tetapi home stay kami larang. Home stay kita akan berikan kepada masyarakat, biarlah itu dibangun dan dikelola masyarakat untuk memajukan ekonomi mereka. Dengan demikian, masyarakat terlibat aktiv dalam pembangunan pariwisata di daerah kita karena dampaknya juga mereka rasakan,” kata Wakil Gubernur Josef Nae Soi saat pertemuan dengan para pengusaha dalam Forum Masyarakat Ekonomi NTT (ME-NTT) di Jakarta dan Jogyakarta beberapa waktu lalu.     

Selain home stay, Nae Soi juga meminta warga di sekitar obyek-obyek wisata juga membangun restourant, kafe-kafe, warung-warung makan dan menyiapkan buah dan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari dan secara khusus melayani para wisatawan yang datang. Diakuinya, memang sudah ada, tetapi belum banyak dan masif. Oleh karena itu, ia mendorong warga untuk mulai membangun dan menjalankan berbagai jenis usaha itu. Ia berharap pemerintah-pemerintah di daerah kabupaten pun harus gesit menggerkan warga, agar usaha kecil dan menengah (UKM) bisa berkembang, sehingga warga tidak menjadi penonton di daerah sendiri di tengah maraknya pembangunan pariwisata.

Lebih jauh, Nae Soi mengajak, agar semua warga NTT mulai belajar Bahasa Inggris. Meskipun tidak fasih dan sesuai tata bahasa yang baik dan benar, paling tidak bisa berkomunikasi sepotong-sepotong dan dapat dimengerti para wisatawan. Pasalnya, jika tidak belajar berbicara bahasa Inggris, akan sulit dalam menjual atau menawarkan barang-barang mereka kepada para turis asing. “Jangan malu belajar bahasa Inggris. Biar jatuh bangun atau sepotong-sepotong tidak apa-apa, yang penting dapat ditangkap dan dipahami orang asing. Kalau tidak kita mau jual kita punya barang bagaimana. Pasti susah toh,” ujar Nae Soi.

Selain itu, dia juga berharap dengan ramainya wisatawan ke NTT, warga juga harus menjaga etika atau tata krama yang lembut dalam berkomunikasi terhadap para wisatawan agar mereka merasa aman, nyaman dan mau kembali lagi ke NTT. Pasalnya, kesan yang berkembang bahwa orang NTT kasar dan jarang tersenyum.

“Ukuran keberhasilan pariwisata kita ketika wisawatan yang datang merasa betah dan mau kembali lagi. Setelah pulang ke negara mereka, mereka akan menceritakan tentang keindahan alam dan keramahtamahan warga dengan adat dan budayanya yang tinggi kepada keluarga dan sahabat mereka. Dan akhirnya, mereka mau kembali lagi ke NTT,” kata Nae Soi. (korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi