Jum. Mei 29th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Joka Ju, Upacara Adat Tolak Bala dengan Memberi Makan Tuhan dan Leluhur

2 min read

Para mosalaki (tua adat) Komunitas adat Pemo ketike menggelar upacara adat Joka Ju (tolak bala). (Foto: dokumen suaraflores.net)

NTTBANGKIT.COM,-Keindahan alam kawasan wisata Kelimutu di Kabupaten Ende, Flores, sudah mendunia. Selain keunikan alam langkah danau tiga warna di puncak Kelimutu, warga setempat juga memiliki sebuah tradisi budaya  warisan nenek moyang, yaitu pesta adat Joka Ju atau tolak bala di Kampung Adat Pemo. Ritus atau upacara adat ini sudah berlangsung berabad-abad dan masih bertahan hingga saat ini.

Dalam pesta adat Joka Ju, Ana Kalo Fai Walu (komunitas masyarakat adat) sebagai penggarap lahan, wajib mboko satu tu gha tubu, (membawa beras, ayam dan tuak) yang diantar ke rumah adat. Setelah itu baru upacara Joka Ju, sehingga harapan Mosalaki dan Ana Kalo Fai Walu (tua adat bersama komunitas masyarakat adatnya) tentang Tedo Tembu Wesa Wela (tanam, tumbuh, hambur pun hidup) dapat tercapai.

Untuk melaksanakan upacara adat Joka Ju,semua mosa lai (tua adat) berpakaian adat Luka Lesu, Senai (kain destar dan selendang). Para Mosalaki Pu’u, Mosalaki Ria Bewa, Mosalaki Ulu Eko, Mosalaki Turu Tengu Kana Wara, Mosalaki Tuke Sani Ria Bewa, dan Mosalaki Ine Tana Embu Watu melaksanakan ritual adat Joka Ju untuk menolak roh-roh jahat agar seluruh masyarakat desa di Kampung Adat Pemo bekerja dengan hasil berlimpah. Upacara pesta adat ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Oktober.

Rangkaian upacara tersebut melalui beberapa tahapan, seperti mengambil hati babi dalam keadaan hidup-hidup untuk dilihat (meramal) tentang keadaan atau peristiwa yang akan terjadi dikampung mereka. Melalui hati babi, mosalaki dapat memperlihatkan atau meralamalkan bahwa kampung mereka dalam bercocok tanam dan bertani akan mendapat rejeki dan memperoleh hasil yang berlimpah dan semua kehidupan di masyarakat berjalan lancar. Selain itu, mengenai situasi dan kondisi politik dan kejadian bencama alam pun dapat diramalkan.

Ramalan yang diramalkan oleh mosalaki biasanya benar-benar terjadi dan sudah terbukti pada tahun-tahun sebelumnya, baik ramalan untuk keadaan bangsa dan negara. Maka, untuk mengetahui keadaan atau kejadian yang akan dialami nanti, komunitas masyarakat adat Pemo selalu melaksanakan upacara ritual adat setiap tahun. Hal ini agar tradisi adat tetap dijaga dan dilestarikan.

Menurut mereka, tradisi Joka Ju sebagai bentuk apresiasi pertanggungjawaban manusia dalam menggandakan talenta kehidupan yang dimaknai dengan “mboko satu tu gha tubu, wi ana kalo fai walu tedo. Tembu wesa wela” yang dapat diartikan ‘kami mempersembahkan kepada Mu Allah dan leluhur kami apa yang telah kami hasilkan agar Allah dan leluhur menambahkan kami benih yang akan mendatangkan hasil berlimpah.

Joka Ju adalah momen konservasi makna sakralitas, spiritualitas dan moralitas dalam diri orang-orang di kampung adat Pemo, sebagaimana termuat dalam tuturan tentang sejarah asal-usul Pemo dan syair-syair bermakna ajaran yang dilantunkan berulang-ulang dalam Tari Gawi (tandak) bersama antara Ana Kalo Fai dan Mosalaki (komunitas masyarakat adat dan tua adat) Pemo. (korneliusmoanita/dami/sfn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi