Ming. Jul 25th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bicara Berapi-api, Wagub Nae Soi: Meski Tak Dapat Bonus Demografi, NTT Bagian dari NKRI!

3 min read

Wakil Gubernur NTT, Drs Josef Nae Soi, MM saat menjadi pembicara dalam seminar nasional 2019 di Lemhanas, Sabtu (20/2/2019).

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,–Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef Nae Soi, MM didampingi Kepala Badan Penghubung NTT Jakarta, Drs. Viktor Manek, M.Si, tampil berbicara berapi-api dalam Seminar Nasional 2019 di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Jakarta Pusat, Sabtu (20/9/2019). Wagub Nae Soi penuh semangat bergegas berdiri kala moderator Prita Laura memberikan kesempatan untuk mempresentasikan data program pembangunan yang tengah dilakukan Pemerintah Provinsi NTT.Dengan gaya santai nan tegas, pentolan Lemhanas ini, mengatakan, NTT tidak ada Bonus Demografi’jadi tidak perlu berbicara terlalu panjang dan lama. Dia hanya memberikan gambaran umum mengenai kondisi geografis, potensi kekayaan alam, tingkat kemiskiknan, kondisi infrastrukur dan potensi SDM dan tantangannya.

“Karena kami tidak dapat bonus demografi jadi saya tidak mau berbicara panjang dan lama. Soal data sudah diketahui semua oleh Lemhanas dan semua pihak, jadi saya hanya sampaikan apa adanya saja. Lemhanas adalah salah satu lembaga yang melakukan kajian dan penelitian juga, jadi data-data tentang NTT sudah ada,”kata Nae Soi kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Sekda Banten, dan seluruh peserta dalam Seminar Nasional 2019 Lemhanas bertajuk tema “Pengembangan SDM Unggul untuk Memanfaatkan Peluang Bonus Demografi Menuju Indonesia Maju pada RPJMN 2020-2024,”di ruangan lantai 3, gedung Astra, Lemhanas, Jakarta Pusat.

Mengawali materinya, Wagub Nae Soi menegaskan bahwa Provinsi NTT terkenal dengan berbagai julukan, yaitu Nanti Tuhan Tolong, Nusa Terindah Toleransi, New Tourism Teritory. Selain itu, ada juga yang menjuluki NTT sebagai Nusa Tetap Teringgal, termiskin dan terkorup.Pokoknya semua ‘ter’ ada di NTT. Namun demikian, Nae Soi, menegaskan bahwa sesungguhnya NTT adalah provinsi kaya sumber daya alam yang telah menjadi tempat hidup bagi banyak orang. NTT memiliki lautan yang luas, NTT memiliki potensi angin yang tinggi, NTT memiliki musim panas yang panjang selama 9 bulan, dan NTT memiliki potensi pariwisata yang termahal dan terlangka serta terunik di dunia.

“Salah satunya adalah Komodo di Pulau Komodo dan hotel Nihiwatu di Pulau Sumba yang kini menjadi hotel termahal di dunia berdasarkan publikasi dan pengakuan dari para wisatawan dunia yang ditulis majalah dari Jerman. Ayolah ke Nihiwatu dan Komodo sebelum mati. Nanti saat mati malekat tanya sudah ke Komodo belum, kalau belum maka kembali dulu liat komodo. Jadi jangan dulu mati sebelum liat komodo,” ujar Nae Soi disambut sorak tawa ratusan peserta seminar.

Nae Soi seolah membantah berbagai anggapan dan sematan negatif yang diberikan berbagai pihak kepada NTT.Dia menegaskan bahwa sebagai provinsi kaya yang memiliki berbagai potensi, NTT belum maksimal dibangun oleh pemerintah karena keterbatasan anggaran, buka karena orang NTT tertinggal SDM nya. “Kami tidak bodoh, tetapi kami masih terbatas dalam anggaran. Dengan APBD yang rendah, tentu tidak mungkin kami membangun dalam waktu cepat. Kondisi geografis NTT yang berpulau-pulau memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk itu, kami masih sangat butuh perhatian pemerintah pusat dalam hal pembangunan infrastruktur,” tegasnya semangat.

Ditegaskan mantan anggota DPR-RI Fraksi Partai Golkar ini, bicara soal bonus demografi memang NTT tidak mendapatkan bonus demografi, apalagi masih dinilai tertinggal dan termiskin ketiga di Indonesia. Walau tidak mendapatkan bonus demografi, menurut dia, sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), NTT wajib mendapatkan pemerataan pembangunan dengan dukungan anggaran.”Kalau bicara Indonesia timur ya NTT karena timur itu ada di NTT yang letaknya paling timur, bukan yang lain toh. Tanpa NTT NKRI tidak ada,”tegas Nae Soi.

Ada fakta yang menarik muncul dalam sesi dialog ketika salah satu penanya dari Universitas Pertahanan Nasional (UNHAN). Setelah mendengarkan pemaparan Wagub Nae Soi, pria muda sarjana pertahanan berbaju merah tersebut berdiri dan menegaskan bahwa setelah mendengar penjelasan 3 pembicara (Josef Nae Soi, Ganjar Pranowo dan Sekda Banten), ia merasa belum adanya keadilan, pemerataan dan gotong -royong dalam pembangunan nasional. Pasalnya, sebagaina ditangkap media ini, pria muda tersebut mendorong adanya kerja sama antar provinsi, baik di bidang SDM dan kerja sama pengelolaan sumber daya alam (SDA) untuk saling mendukung pembangunan daerah.

“Saya cermati selama ini belum ada kerja sama yang baik antara provinsi yang mendapatkan bonus demografi dengan yang tidak mendapatkan bonus demografi seperti NTT. Seharusnya kalau kita ini NKRI, maka daerah yang maju wajib membantu atau mendukung pembangunan daerah yang tertinggal. Kami siap mendukung dan terlibat dalam pembangunan NTT sesuai dengan bidang keilmuaan yang kami,” kata pemuda tersebut.

Wagub Nae soi terlihat gembira mendengar pernyataan sarjana pertahanan tersebut, dia menegaskan bahwa Pemerintah NTT membuka diri bagi siapapun yang ingin datang membangun NTT. Salah satu project terbesar saat ini, kata dia, saat ini pemerintah dengan investor Jerman sedang mengelolah energi panas bumi. Selain jalan raya yang masih 2.000 kilo meter belum bagus, juga masalah listrik yang masih jadi masalah besar. (korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi