Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pemprov NTT Siap Dukung Peningkatan Produksi Coklat Kobar Nagekeo

2 min read

KUPANG, NTTBANGKIT.com – Sejalan dengan grand design Masyarakat Ekonomi NTT yang mandiri secara ekonomi, sosial, budaya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sinun Petrus Manuk mendorong perluasan pasar produk coklat yang dihasilkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kobar, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT.

“Produk coklat BUMDes Kobar saat ini sudah bagus, kualitas dan kemasannya sudah oke, namun pasarnya terus kami dorong agar lebih luas karena sejauh ini hanya di sekitar Pulau Flores,” katanya di Kupang, Sabtu (21/09/2019), sebagaimana dilansir dari antaranews.com.

Mesin produksi coklat Kobar (picture: twitter)

Sinus juga mengatakan bahwa Pemprov NTT sendiri di bawah kepemimpinan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi sedang gencar membangun sinergitas dengan Kabupaten/kota hingga tingkat Desa, agar unit-unit pengelolaan ekonomi yang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi NTT bisa di-upgrade.

Oleh karena itu, Sinus menginginkan agar produk Coklat Kobar yang sudah menyerupai produk coklat siap disajikan dari merek terkenal lainnya dapat masuk ke pasar modern di seluruh wilayah provinsi NTT.

Untuk itu, dia telah meminta pengelola BUMDes tersebut menambah variasi produk coklat yang saat ini hanya ada satu jenis berupa lempengan besar yang dijual seharga Rp18.000 per buah.

“Perlu ada variasi pilihan produk lain yang dihasilkan misalnya dengan ukuran lebih kecil dengan harga dibawah Rp10.000 sehingga mudah dijangkau konsumen,” tutur Sinus.

Coklat Kobar produk asli BUMDes Kobar Nagekeo, Flores, NTT (picture: twitter)

Bila harga pasarnya sesuai dengan daya beli masyarakat NTT, tentunya produk ini akan lebih mudah dijual di sekolah, perkantoran, warung, pasar, swalayan, serta tempat-tempat strategis lainnya.

Sinun pun menjelaskan bahwa berdasarkan hasil peninjauan langsung tim Dinas PMD NTT, ditemukan kendala yaitu bahwa peningkatan produksi coklat BUMDes tersebut masih belum bisa dilakukan karena kurangnya mesin produksi, yang mana saat ini hanya ada satu unit. Akibatnya, coklat lainnya justru dijual gelondongan.

Design kreatif bungkusan coklat Kobar (Picture: twitter)

“Jadi sisanya hanya dijual gelondongan karena mesin produksi yang terbatas sehingga ini juga bisa berdampak membuat harga coklat tidak stabil di sana,” ujar Sinus.

Keterbatasan ini yang membuat hasil komoditi kakao yang bisa diolah menjadi produk coklat hanya bisa mencapai enam ton dari jumlah yang dihasilkan dalam sekali panen sekitar 12 ton.

Menindaklanjuti kendala teknis tersebut, saat ini Pemprov NTT sedang mengkaji proposal bantuan mesin yang sudah diajukan BUMDes tersebut dengan harga sekitar Rp400 juta per unit.

“Kami berharap tahun 2020 ada intervensi bantuan dari pemerintah provinsi sehingga produksi mereka bisa maksimal dan bisa dipasarkan ke mana-mana,” katanya.

Menanggapi Hal ini, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengatakan bahwa inovasi yang dikembangkan oleh Desa Kobar akan menjadi perhatian Pemprov, khususnya sebagai supporting.

“Ini merupakan sebuah inovasi yang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi Kabupaten Nagekeo dan Propinsi NTT tentunya. Kita juga akan berjuang untuk mengalihkan APBD Provinsi ke sana dan beberapa UMKM. Selain itu, kehadiran Bank NTT pun bisa menjadi momentum untuk menjalin kerjasama dalam hal pengadaan mesin produksi.” Kata Nae Soi.

Selain itu, Nae Soi juga mengatakan bahwa Pemprov akan berusaha membangun komunikasi dengan Kementerian Desa agar BUMDes ini bisa diperhatikan. (*)

Penulis: Emild Kadju

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi