Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Sejarah Singkat Gua Jepang di Waingapu, Jadi Saksi Bisu Peninggalan Perang Dunia II

5 min read

Gua Jepang yang terletak di Bukit Persaudaraan Mauliru, Kelurahan Mauliru Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur. (Foto: Poskupang)

NTTBANGKIT.COM,–Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak situs sejarah zaman perang dahulu yang ditinggalkan oleh tentara Jepang, Belanda, dan Portugis. Selain bangunan gereja Protestan dan Katolik, gedung dan rumah tua, infrastuktur jalan dan jembatan dengan konstruksi yang kuat, juga meriam tempur dan gua-gua bawa tana yang dibangun Jepang yang masih ada hingga saat ini. Gua-gua Jepang itu dibangun di daerah-daerah yang menjadi benteng pertahanan, yaitu di Maumere, Kabupaten Sikka, Kupang dan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Dalam tulisan pertama ini, NTTBangkit.com sekilas menelusuri sejarah gua Jepang di Waingapu Sumba Timur yang dibangun tentata Dai Nipon di kala perang dunia II. Menurut salah satu saksi mata perang dunia II, Samuel Jonatan (Yo Hong Sem), yang kini berusia 91 tahun, Waingapu dijadikan salah satu markas (basis) pertahanan tentara Jepang, selain Kupang dan Maumere untuk menyerang Australia yang adalah sekutu Amerika Serikat.

Lelaki tua kelahiran RRC (Tionghoa) pada 12 Agustus  1921 ini mengisahkan bahwa dirinya berlayar dari Cina di masa pecah perang dunia II dimana Jepang mendan tiba di Waingapu pada tahun 1938 untuk berdagang bersama ayahnya yang sudah lebih dahulu berdagang dan menetap di Waingapu. Setelah beberapa tahun berdagang, Yo Hong Sem dan pamannya kembali ke Cina, dan pada tahun 1941 dalam perjalanan menuju Waingapu ia mendengar kabar di atas kapal bahwa pecah perang dunia II dimana tentara Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour.

Ketika tiba di Waingapu, Yo Hong Sem yang tinggal di sebuah rumah kios menjalankan usaha bersama ayahnya. Rumah mereka letaknya tak jauh dari gudang tentara Jepang. Saat itulah, dia melihat di Waingapu sudah ada tentara Jepang di mana-mana yang telah membangun markas pertahanan seperti gua-gua dan landasan pesawat (bandara). Tak berapa lama kemudian, dikisahkan Yo Hong Sem, pesawat-pesawat tempur Amerika datang membombardir pertahanan Jepang di Kota Waingapu.

“Kota Waingapu diserang pesawat pembom Amerika Serikat. Amerika mau menghancurkan basis-basis pertahanan tentara Jepang. Serangan bom tiba-tiba itu membuat warga panik dan berlarian menyelamatkan diri. Rumah-rumah warga hancur lebur dan terbakar akibat bom-bom yang dilepaskan pesawat tempur Amerika. Ia bersama ayahnya luput karena bersembumyi dalam lubang yang telah disiapkan,” kenang pengusaha sukses ini.

Ia mengatakan, bom Jepang beratnya kurang lebih 60kg dan bom Amerika kurang lebih 10kg. Bom Jepang ketika dijatuhkan, setiap orang harus tiarap di bawah pohon di atas tanah. Kalau bom Amerika tidak bisa dan tidak boleh tiarap di atas tanah, tetapi harus di dalam lubang. Jika tiarap di atas tanah bisa langsung meninggal dunia. Bom Jepang pecahannya kecil-kecil sedangkan bom Amerika pecahannya besar-besar. Berbekal pelatihan ini, maka ketika bunyi sirene dari markas tentara Jepang, ia langsung bergegas masuk bersembunyi di dalam lubang yang sudah disiapkan.

Waktu itu, kisah Yo Hong Sem, tentara Jepang di Sumba jauh lebih banyak dari tentara Jepang di Surabaya. Jepang memakai Kupang, Waingapu, Maumere menjadi ujung tombak menghantam Australia. Pesawat Jepang di Waingapu hampir 30-an buah berlabuh di pangkalan perang Mau Hau. Setiap hari ia menyaksikan pesawat-pesawat Jepang terbang meluncur menuju Australia.

Lanjut dia, setiap ada aba-aba dari komandan Jepang, maka pesawat-pesawat tempur tersebut bergeak terbang ke Australia menyerang. Serangan itu beruntun setiap hari. Namun, kisah dia, banyak pesawat-pesawat Jepang yang tidak pulang lagi karena diduga ditembaki tentara Australia. Sebelumnya, kisah Yo Hong Sem, tentara Jepang banyak membuat lubang-lubang pertahanan di bawah tanah yang sangat panjang. Di Kota Waingapu ada gua yang panjangnya 6-7 Km. Lubang-lubang bawah tanah itu menjadi tempat tinggal dan benteng tentera Jepang.

Demikian kisah sejarah pendudukan tentara Jepang di Waingapu ketika perang dunia II berlangsung. Selama musim perang, Jepang bertahan dalam lubang atau gua yang mereka bangun hingga Indonesia Merdeka. Tentara Jepang banyak yang mati dan banyak yang kembali ke Jepang. Gua-gua bawa tanah yang dibangun Jepang hingga kini masih ada. Saat ini dijadikan obyek wisata sejarah oleh Pemerintah Sumba Timur.

Apa yang dikisahkan saksi mata perang dunia II, Yo Hong Sem memang benar adanya. Dikutip dari Pos Kupang.com, salah satu gua Jepang yang terletak di Bukit Persaudaraan Mauliru, Kelurahan Mauliru Kecamatan Kambera. Kini, tempat ini menjadi salah satu obyek pariwisata favorit memiliki pandangan indah berupa hamparan sawah di Mauliru dan Pada Savana yang terbentang di pundak dan lereng bukit yang terukir begitu indah. Selain itu, ketertarikan wisatawan karena di bukit inilah terdapat sebuah gua peninggalan tentara Jepang pada perang dunia II.

Gua tersebut berukuran sangat kecil, tidak selebar seperti gua alam yang lain. Tinggi gua ini sekitar 1 meter, dengan lebar sekitar 1 meter. Dinding, atap dan lantai dari gua itu benar-benar asli dari batu karang. Di dalam gua itu ada yang berbentuk lorong dan dalam bentuk tangga untuk menurun hingga ke dasar. Di ujung gua bagian timur, terlihat sebuah jendela kecil, sehingga sinar matahari langsung menembus masuk dalam gua itu. Namun untuk di lokasi area tengah ruangan pada gua itu gelap.

Ada 62 Gua di Sumba

Pada 27 November 2015, Tribunnews.com memberitakan ada seorang periset dari Universitas Ritsumeikan Tokyo-Jepang, dalam risetnya di Pulau Sumba menemukan sebanyak 62 Gua. Menurut sang periset, eksplorasi Ritsumeikan musim panas tersebut ternyata telah menemukan gua di 62 lokasi di Pulau Sumba. Dengan bantuan dari staf Taman Nasional lokal, sang periset melakukan survei dan penelitian biologi.

Sumba adalah timur sekitar 400 kilometer dari posisi Bali, dengan luas sekitar 11 ribu kilometer persegi, mirip dengan ukuran luas daerah perfektur Akita. Survei dilakukan pertama kali sejak sembilan tahun lalu untuk bagian eksplorasi, dengan 7 orang pria dan wanita yang berpengalaman eksplorasi antara 2-4 tahun. Mereka memulai sejak 18 Agustus 2015 selama 35 hari. “Di sekitar radius 50 kilometer persegi dari taman nasional, kami mencari gua dengan mengandalkan informasi pulau Sumba yang ada,” kata Kapten ekspedisi Kuroki IsamuShiro (22).

Kurosi melakukannya dengan bertenda di hutan. Selain menyelam melihat vena air bawah tanah dalam upaya menemukan sebuah gua. Ia juga merangkak celah sempit, dan melanjutkan untuk mencari ke segala arah. “Bahkan saya turun dengan tali hingga sekitar 20 meter di bawah tanah,” ungkap Kuroki.

Dengan penggunaan laser survei instrumen, mereka menghasilkan peta gua, seperti 20 lokasi yang mencakup diperkirakan tiga kilometer. Banyak rayap dan kelelawar membuat gundukan semut dalam gelap, fosil siput, seperti lebih dari 50 jenis makhluk. Banyak yang diperoleh selama ekspedisi tersebut. Penyelidikan di sana dilakukan berdasarkan informasi masih ada gua yang belum ditemukan sehingga mereka melakukan ekspedisi tersebut mencarinya. Banyak yang menganggap berbahaya tetapi tampaknya semua anggota tim selamat dan berhasil dengan sukses. (Korneliusmoanita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi