Jum. Des 4th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Bangun Koperasi Indonesia Sehat, Menteri Koperasi Siap Bersihkan Renteiner dan Tempat Cuci Uang

4 min read

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Teten Masduki (*)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Koperasi adalah soko guru (penopang utama) ekonomi Indonesia yang telah dibangun sejak awal Pemerintahan Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Dr. Muhammad Hatta. Koperasi dalam sejarah perjalanannya telah sangat besar membantu memajukan ekonomi rakyat kecil baik di kota maupun di desa-desa.

Koperasi terus berkembang pesat dari pemerintahan ke pemerintahan. Hingga saat ini, koperasi masih tetap menjadi mesin utama penggerak ekonomi rakyat meskipun bersaing ketat di era ekonomi digital dimana ekonomi berbasis (keuangan) digital kian gencar.

Dalam perkembangan koperasi yang makin pesat atau membumi di basis akar rumput, pertumbuhan koperasi terus membaik meskipun menghadapai tantangan dari dalam yaitu munculnya begitu banyak koperasi yang tidak menjalankan aturan perkoperasian yang diatur undang-undang. Salah satunya adalah maraknya ‘koperasi nakal’ atau yang disebut renteiner berbendera koperasi dan juga pencucian uang.

Menyadari masalah ‘koperasi nakal’ (renteiner dan pencucian uang), Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah,  Teten Masduki, menegaskan akan membersihkan koperasi-koperasi nakal seperti koperasi rentenir serta tempat cuci uang.

“Kami akan benahi koperasi nakal, seperti koperasi cuci uang, koperasi investasi ilegal, dan koperasi berkedok retenir,” ucapnya di Museum Bank Indonesia, Sabtu (1/2/2020) lalu seperti dilansir Kompas.com dan depkop.go.id. Selain koperasi nakal, Kemenkop UKM juga akan membereskan berbagai koperasi yang mati suri.

Untuk diketahui saat ini marak sekali koperasi rentenir dan investasi ilegal yang telah memakan begitu banyak korban. Biasanya koperasi simpan pinjam atau KSP sangat marak terjadi karena kasus rentenir. Dilansir dari Kontan, Melalui langkah  ‘Reformasi Total Koperasi’ yang dicanangkan pada 2014 tercatat sebanyak 40.013 koperasi di Indonesia yang tidak aktif dan nakal dibubarkan, sedangkan sisanya masih dikaji.

Melalui langkah tersebut, dari total jumlah koperasi pada 2014 atau sebelum ‘Reformasi Total Koperasi’ terdapat 212.570 unit, dan per 2018 tinggal 138.140 unit usaha. Kemudian sepanjang 2019, menurut data Kementerian Koperasi dan UMKM mencatat terdapat 153 badan usaha menyeleweng.

Luncurkan 5 Program Unggulan Hadapi Global Value Chain

Selain mengambil sikap tegas untuk membersihkan koperasi nakal Menteri Teten Masduki juga bertekad kuat membawa produk-produk Koperasi dan UKM memiliki daya saing tinggi supaya bisa masuk dalam global value chain. Untuk itu Kemenkop dan UKM menyusun dan menetapkan lima program unggulan.

Dilansir Republika.cco.id, Teten Masduki, menyampaikan, lima program tersebut sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo untuk menjadikan Koperasi dan UMKM yang jumlahnya lebih dari 60 juta. “Ini sebagai andalan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan penyerapan tenaga kerja, terutama di tengah situasi perekonomian global yang kurang baik saat ini,” katanya dalam jumpa pers, (05/11/2019) lalu.

Program strategis pertama yang akan dilakukan adalah memperbesar akses pasar baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga tercipta peluang dan permintaan terhadap produk-produk Koperasi dan UMKM. Teten mengatakan, ke depan pelaku Koperasi dan UMKM dapat bekerja maksimal tanpa perlu takut produknya tidak bisa dipasarkan. Salah satu caranya adalah mendukung dan membantu penjualan secara online, dengan membuat regulasi agar perusahaan aplikasi dari luar negeri turut mempromosikan dan menjual produk Koperasi dan UMKM.

Kedua, peningkatan kualitas produksi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing produk dan jasa yang dihasilkan. “Kita bantu menyediakan teknologi dan sarana pendukung, untuk memperbaiki kualitas dan kapasitas produksi yang bisa digunakan secara kolektif,” jelas Teten seraya menambahkan bahwa Kemenkop Dan UKM juga akan membantu sertifikasi produk-produk baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga dapat bersaing di pasar global.

Program strategis ketiga menyangkut agregasi pembiayaan yang akan menjadi solusi untuk meningkatkan pertumbuhan Koperasi dan UMKM. Menurut Teten, pihaknya sudah mengadakan pembicaraan dengan instansi dan lembaga terkait untuk mencari skema pembiayaan yang tepat, dengan membangun kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar, untuk menjadi off-taker produk UMKM dan avalis untuk pembiayaan. Selain itu, ditekankan pula pentingnya kelancaran dan efisiensi transaksi bagi UMKM seperti digital payment, dan juga kelancaran logistik sehingga memperkuat daya saing.

Adapun program strategis keempat adalah pengembangan kapasitas manajemen dan usaha Koperasi dan UMKM yang diwujudkan antara lain melalui pemberian konsultasi, pelatihan, dan pendampingan oleh para ahli. Selain untuk memperbaiki kualitas layanan, program ini diharapkan dapat menambah pengetahuan untuk memasarkan produk ke luar negeri.

Kelima adalah memberikan kemudahan dan kesempatan mengembangkan usaha bagi Koperasi dan UMKM. Dengan langkah ini diharapkan produk-produk lokal memiliki kesempatan yang sama untuk ditempatkan sejajar dengan produk-produk impor di mal-mal besar di Indonesia maupun negara sahabat. Teten juga menargetkan untuk menumbuhkan usaha dan startup-startup baru di kalangan anak muda dengan melibatkan universitas dan pusat-pusat UKM sehingga pengusaha muda tumbuh dengan signifikan.

Untuk itu, menurutnya, sangat perlu menyediakan playing field atau ladang usaha yang sama bagi Koperasi dan UMKM dengan importir, sebab itu perlu didukung dengan insentif seperti pajak. Selain itu akan ada pendampingan dan mitigasi hukum bagi pelaku Koperasi dan UKM dari berbagai ancaman masalah, termasuk melindungi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang mereka miliki dan juga perlindungan dari risiko fraud.

“Ke depannya Koperasi dan UMKM Indonesia yang memiliki potensi di sektor unggulan seperti perkebunan, pertanian, perikanan, fesyen, makanan dan minuman, home decor, kerajinan dan pariwisata dapat benar-benar menjadi andalan dalam menggerakkan pertumbuhan perekonomian Indonesia melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan devisa,” ujar Teten. (kompas.com/dekop.go.id/republika.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi