Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Kembangkan Brokoli, Kelompok Tani Wewar Manggana Dukung Program Pertanian NTT Manfaatkan Lahan Kering

5 min read

Lahan tanaman sayur Brokoli milik Kelompok Tani Wewar Manggana , Kota Kupang (*)

anggota petani wewar manggana di kebun sayuran Brokali

KUPANG, NTTBANGKIT.COM,-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi agragris. Mayoritas masyarakat NTT adalah petani dan sisanya di berbagai profesi lainnya. Kurang lebih 70 persen petani di NTT adalah petani lahan kering dan sisanya lahan bahasa. Air masih menjadi kebutuhan dasar yang hingga saat ini belum terpenuhi secara cukup karena NTT adalah provinsi yang terkenal dengan kemerau panjang. Kebutuhan pangan di NTT semakin hari semakin meningkat seiring bertambahnya permintaan karen meningkatnya jumlah penduduk. Buah dan sayuran sebagian besar dipasok dari luar daerah sepertii Surabaya, Bali dan Bima-NTB. Kontrasnya masih begitu banyak lahan tidur di seluruh NTT belum maksimal dikelolah warga untuk menanam buah dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pasar maupun kebutuhan sehari-hari warga NTT.

Menyikapi masalah aktual yang tengah mendera warga NTT yang mayoritas petani, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, sejak awal pemerintahannya bersama Wagub Josef Nae Soi, mengajak rakyat NTT kembali ke kebun untuk terus bercocok tanam untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas pertanain dan menjaga ketahanan pangan. Gubernur Viktor dalam berbagai kesempatan kunjungan ke daerah, berkali-kali dengan lantang dan keras agar warga NTT bekerja keras mengolah lahannya, baik yang ada dipekarangan rumah maupun di kebun-kebun mereka dengan menanam berbagai macam sayuran dan buah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan meningkatkan ekonomi, salah satunya Kelor.

Melihat peluang menjadi petani seraya memanfaatkan lahan dan mendukung Proggram Pertanian Gubernur NTT, Ketua Kelompok Tani Wewar Manggana, Erlin Kupa, mencoba mengembangkan berbagai macam tanaman sayuran di atas lahan seluas setengah hektar di kawasan perkampungan Batuplat, Kota Kupang. Di atas tanah datar yang berdekatan dengan sumber mata air tersebut, Erlin memotori kerja keras bersama 14 anggota kelompok taninya sejak dua tahun lalu. Di lahan tersebut mulai ditanami dengan berbagai jenis tanaman, seperti jagung, padi dan sayuran secara bertahap. Salah satu sayuran yang dikembangkan Kelompok Tani Wewar Manggana adalah Brokoli.

Tanaman sayur Brokoli ini diuji coba dan hasilnya luar biasa. Ribuan pohon sayur Brokoli itu kemudian dipasarkan ke berbagai rumah makan di Kota Kupang, dan alhasil semua laris terjual dan meraup Rp36 juta. Uji coba pertama tersebut, bagi Erlin Kupa adalah sebuah motivasi yang besar untuk melanjutkan dan mengembangkan tanaman sayur brokoli yang kaya manfaatnya bagi kesehatan. Selain ingin meneruskan tanaman sayur Brokoli di lahan tersebut, Erlin juga berobsesi membentuk kelompok tani di beberapa kabupaten untuk mengembangkan berbagai tanaman sayuran.

“Kami dirikan kelompok tani ini dua tahun lalu. Anggota kami ada 14 orang. Kami mulai garap lahan ini dengan menyewa traktor. Ada beberapa tanaman yang awalnya kami kembangkan yaitu jagung dan berbagai jenis sayuran. Bibit sayuran dan pupuk organik kami beli sendiri dengan cara patungan, tidak ada bantuan. Setelah beberapa kali panen sayuran, belum lama ini kami kembangkan Brokoli. Hasilnya sangat memuaskan. Ribuan pohon Brokoli laris dibeli. Ada yang datang langsung ke perkebunan kami untuk membelinya dan ada yang kami jual ke rumah-rumah makan. Semua habis terjual. Brokoli ini sangat bergisi dan bermanfaat bagi kesehatan, sekalipun mahal tetap habis dibeli. Kami akan terus mengembangkan Brokli ini sebagai salah satu penghasilan bagi kelompok tani kami ini,” terang Erlin di sela-sela malam syukuran panen kelompok tani ini di rumah panggung yang dibangun ditepi lahan seluas setengah hentar tersebut.

Disentil apa latar belakang dirinya membentuk Kelompok Tani Wewar Manggana, ibu 3 anak tersebut, mengungkapkan bahwa ia terobsesi dari kakeknya Tadu Rebo di Sumba yang adalah seorang guru dan petani sukses di jaman dahulu. Di saat itu (di Lewa), Kakeknya mempunyai begitu luas lahan yang ditanami padi, jagung, dan berbagai tanaman pertanian lainnya. Kebutuhan pangan dalam rumah tangga semua terpenuhi karena mereka punya lumbung penuh bersokal-sokal padi. Selain bertani, kakek erlin juga seorang peternak yang memiliki ratusan ekor sapi. Sapi-sapi itu kemudian dijual untuk membiayai semua anaknya sekolah dan menjadi orang sukses.

Selain itu, Erlin mengatakan bahwa menjadi petani bukanlah sebuah pekerjaan hina dan kotor motor, tetapi sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Mengapa? Karena menjadi petani selain dapat hidup baik dengan pangan yang cukup juga dapat memberi makan begitu banyak orang melalui hasil panen yang dijual kepada berbagai kalangan masyarakat. Dalam kaca mata Erlin, di NTT saat ini kebutuhan sayuaran dan buah sangat tinggi, sayangnya produksi sayuran dan buah di NTT masih rendah dan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga. Untuk itu, ia mengembangkan berbagai tanaman sayuran untuk mendukung pemenuhan kebutuhan warga selain untuk meningkatkan pendapatan ekonomi anggota kelompoknya.

Ketua Kelompok Tani Wewar Manggana, Erlin Kupa

“Selain memiliki lahan ini, kami ingin juga membangun kelompok tani baru di beberap kabupaten untuk mengembangkan atau memudidayakan tanaman sayur Brokoli dan lain-lain. Kebutuhan sayuran kita banyak dari luar dan kita harus mulai bangkit dengan produksi sendiri di atas lahanlahan kita yang masih banyak tertidur. Kita dukung program pertanian Presiden Joko Widodo dan Gubernur NTT untuk swasembada pangan,” kata Erlin.

Fakta baru yang perlu diapresiasi, semua anggota Kelompok Tani Wewar Manggana adalah anak-anak muda. Ada anak muda yang sudah tamat sekolah dan ada pelajar dan mahasiswa yang masih kuliah. Anak-anak laki-laki dan perempuan ini mempunya semangat yang tinggi bergabung bersama Erlin mengolah lahan pertanian tersebut.Bagi Erlin, ia memilih anak-anak muda karena masih energik dan mempunyai banyak waktu luang yan bisa dipakai untuk bertani. Selain itu, ia ingin mendorong generasi muda NTT untuk bertani di tengah jaman modern yang serba instan yang membuat orang muda sudah malas masuk kebun.

“Anggota kelompok ini lebih banyak anak muda. Mereka ada mahasiswa juga yang masih kuliah. Dengan bergabung di sini selain saya berikan motivasi untuk menjadi petani, mereka juga mendapatkan uang dari hasil menanam sayuaran. Uang yang kami dapat kami atur dengan manajemen yang baik dan terbuka. Sebagian kami simpan dan sebagian dibagikan untuk semua anggota memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Erlin.

Disentil mengenai sarana yang dibutuhkan dalam mengembangkan tanaman sayuran, Erlin mengungkapkan bahwa ada beberapa kebutuhan yang digunakan untuk mendukung pertanian sayuran, seperti traktor, pompa air, selang, bibit dan pupuk. Hingga saat ini, semuanya masih swadaya, alias belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Erlin berharap, ke depan, ada perhatian dari pemerintah berupa traktor, pompa air dan pupuk sehingga tingkat produksi sayuran bisa lebih meningkat lagi.

“Kami terus berusaha meski dengan swadaya. Kami sedang berusaha mendapatkan bantuan traktor, pompa air dan pupuk serta bibit sehingga produksi bisa lebih baik. Kami juga sedang mencari lahan baru untuk mengembangkan sayuran dan buah sehingga kami dapat memenuhi kebutuhan sayuran warg kota Kupang yang terus meningkat pesat akhir-akhir ini. Kami berharap mendapatkan bantuan dari Menteri Pertanian dan Gubernur NTT melalui Dinas Pertanian NTT,” ungkap Erlin. (Kornelis Moa Nita/NB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi