Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Gong, Gendang, Suling dan Sasando, Musik Tradisional Pusaka Seni Budaya Lokal NTT

5 min read

Musik Suling Kabupaten Sikka, (Foto Kompas)

KUPANG, NTTBANGKIT.COM,- Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah masyarakat yang memiliki seni budaya yang sangat beragam. Sejak dahulu kala, para pendahulu sudah memiliki beragam alat musik tradisional buatan tangan sendiri. Alat-alat musik itu, seperti Gong, Gendang dan Suling, Gitar/Gambus dan Biola. Alat-alat musik tersebut dibuat dari kayu, logam aluminium, bambu, senar, dan kulit hewan seperti kambing dan sapi atau kuda.

Masyarakat NTT dahulu rupanya sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membuat alat-alat musik. Tentunya mereka bukan hanya sudah memiliki pengetahuan untuk membuat alat musik tetapi juga mereka mampu menciptakan lagulagu bersair adat dengan nilai sastra dan seni yang tinggi di jaman itu. Alat-alat musik tradisional yang mereka buat bukan hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga digunakan dalam berbagai pesta dan upacara-upacara adat.

Siapakah yang mengajari mereka membuat alat-alat musik, bermain musik dan menciptakan lagu-lagu? Belum diketahui pasti, namun sejarah membuktikan dengan arus kedatangan berbagai orang dari luar NTT juga dapat membawa berbagai pengetahuan. Pasalnya, dahulu NTT adalah daerah yang ramai didatangi pedagang dari luar, baik dari Arab, Bima, Makasar, Bajo, Jawa, dan juga para penjajah, seperti portugis, Jepang dan Belanda. Selain secara otodidak, rupanya juga pengaruh orang luar memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi orang NTT yang kala itu masih minum berbagai ilmu pengetahuan.

Menelusuri dari ujung Pulau Sumba, Pulau Timor, Rote, Sabu, Alor hingga pulau Flores, masyarakat lokal memiliki sangat banyak jenis alat musik. Namun dari sekian banyak alat musik, Gong, Gendang dan Suling, Gitar (Gambus) dan Biola paling banyak ditemui dalam setiap acara pesta adat dan penerimaan tamu-tamu penting. Gong dan Gendang jadi alat musik yang paling dominan di NTT. Setiap kabupaten di NTT hampir semua memiliki tradisi bermain musik Gong dan Gendang yang biasanya diiringi dengan tarian dan nyanyian adat dengan tampilan pakaian adat masing-masing.

Meski setiap daerah memiliki alat musik Gong dan Gendang, bentuk dan cara menebuh atau memukulnya tak sama. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, baik dalam bentuk alat musik dan cara memainkannya. Nada dan iramanya yang berbeda dan khas menunjukan identitas daerah masing-masing. Orang Sumba punya gong dan gendang, orang Malaka punya gong dan gendang, orang Timor punya gong dan gendang, orang Sikka, Manggarai, dan Ngada punya alat musik gong dan gendang, demikian pula kabupaten lainnya. Hal yang unik, orang NTT punya alat musik yang sama namanya, tetapi bentuk dan cara memainkannya berbeda-beda. Demikian pula tarian-tarian dan lagu-lagu yang biasa mengiringi musik gong dan gendang.

Selain alat musik gong dan gendang yang mendominasi sejarah budaya musik tradisional di NTT, alat-alat musik lainnya yang juga sangat populer adalah suling, gitar (gambus) dan biola. Ketiga jenis alat musik tersebut dibuat oleh masyarakat lokal sendiri yang mempunyai jiwa dan hoby seni. Suling terbuat dari bambu kecil yang dipotong dan kemudian diberi lubang-lubang yang dapat membunyikan not do re mi fa sol la si do bila dimainkan dengan cara meniup.

Di Flores, secara khusus di Ende-Lio dan Sikka, musik suling menjadi musik indah dan menarik yang dipadukan dengan gendang khusus. Lazimnya disebut musik suling gendang atau orang Maumere menyebutnya dengan “Kekor Gendang” (Kekor: Suling dan Gendang: Gendang). Lantunan suling dengan berbagai ukuran yang ditiup para peniup suling terdengar sangat merdu dan menarik ketiga serentak dengan tabuhan gendang yang dimainkan para penabuh. Saat ini, musik suling gendang masih bertahan di Ende Lio dan Sikka. Musik suling gendang ini menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan. Dalam setiap moment adat atau penerimaan tamu penting atau juga pesta-pesta di tengah warga, musik suling ini masih sering terdengar.

Alat musik berikutnya, adalah gitar (Gambus) dan Biola. Kedua alat musik ini adalah produksi dari luar NTT. Gitar dari eropa dan biola dari portugis. Ada gitar ukuran kecil (biasa) dan ada Gitar Bas (ukuran besar) yang cara memainkannya dipetik dan dipukl dengan sebilah kayu kecil. Untuk gitar kecil rata-rata hampir ada di seluruh NTT, tetapi lebih banyak dipakai anak-anak muda, dan lebih banyak terdengar di gereja-gereja untuk mengiringi paduan suara. Demikian pula Biola. Biola juga dipakai untuk mengiringi berbagai acara di gereja atau dalam acara tertentu saja. Di Belu dan Malaka biola ini lebih banyak karena menjadi salah satu alat musik khas dalam pesta-pesta dansa. Karena musik ini adalah warisan dari portugis, maka hanya ada di Belu, Malaka, dan beberapa kabupaten di Flores, seperti di Flores Timur dan Sikka.

Sebelum ada gitar dan biola, masyarakat di desa-desa di NTT dahulu, sangat gaul dengan Gambus. Gambus ini adalah alat musik yang serupa dengan gitar tetapi tali senarnya cuma tiga sampai 4 saja. Oleh masyarakat, teruama anak-anak muda dijadikan musik yang paling murah meriah untuk bernyanyi di kala waktu senggang. Mereka membuatnya sendiri dari kayu yang dibentuk dengan parang dan gergaji lalu dipasang dengn tali senar dan kemudian dimainkan. Lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak muda juga bervariasi, ada lagu pantun, ada lagu daerah dan lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri sesuai jamannya. Alat musik ini tidak terlalu berkembang di NTT. Saat ini, musik Gambus mungkin saja sudah hilang seiring perkembangan musik modern dimana anak-anak muda gila pada musik modern.

Di Maumere, Kabupaten Sikka, ada grup Musik Kampung. Dahulu kala, pesta-pesta di kampung-kampung tak ada musik modern seperti saat ini. Musik yang paling populer adalah musik kampung berupa gitar besar (Bas) dan Biola. Oleh para pemain musik kampung pesta-pesta sangat ramai dengan sajian permainan Gitar Bas dan Biola. Pesta-pesta bisa berlangsung sampai pagi bahkan berhari-hari karena saking merdunya musik kampung dan lantunan lagu-lagu dari para penyanyi dan pemain musik. Saat ini, kedua alat musik tersebut masih ada dan masih tetap dipakai, namun tidak lagi seperti dahulu.

Satu alat musik lagi yang serupa dengan gitar adalah alat musik petik dari Pulau Rote yang bernama Sasando. Alat musik ini sangat populer di NTT dan dunia karena termasuk alat musik tradisional terunik di dunia. Masyarakat Pulau Rote dahulu yang menciptakan alat musik ini. Sasando terbuat dari dahan-dahan lontar yang dibentuk seperti gitar dan dipetik dengan jari-jari. Bunyi Sasando sangat unik dan merdu menjadi simbol khas masyarakat Pulau Rote yang dikenal dengan julukan Nusa Lontar. Alat musik ini sering dipakai dalam berbagai acara adat, pesta, dan penyambutan tamu.

Fakta sejarah peradaban seni musik tradisional NTT ini, membuktikan bahwa masyarakat NTT adalah masyarakat dengan tingkat seni budaya yang tinggi. Jika provinsi lain hanya memiliki satu dua alat musik khas, tetapi di NTT ada begitu banyak alat musik yang diproduksi atau diciptakan oleh masyarakat lokal yang belum semuanya memiliki hak cipta. Agus Payong, salah satu warga Diaspora NTT di Jakarta berharap, Pemerintah NTT terus melindungi seluruh alat-alat musik tradisional NTT dengan membuat hak cipta agar tidak ditiru atau dicuri oleh siapapun.Pasalnya, menurut dia, semua alat musik tradisional tersebut adalah warisan seni budaya termahal karya para leluhur NTT, termasuk lagu-lagu daerah yang unik dan khas.
(Penulis: KornelisMoaNita/NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi