Jum. Okt 30th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Remaja NTT Wakili Indonesia dalam Pertemuan Virtual bersama Perwakilan PBB

2 min read
Roslinda, remaja asal Kabupaten Sumba Timur, Nusa Provinsi Tenggara Timur mewakili anak Indonesia berbicara di hadapan perwakilan negara PBB tentang dampak pandemi Covid-19 bagi anak-anak, Rabu (8/10/2020) (image: Antara)

NTTBANGKIT.COM, KUPANG — Roslinda, remaja perempuan berusia 15 tahun asal Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dipercaya mewakili anak Indonesia untuk berbicara di hadapan perwakilan negara Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mengenai dampak pandemi Covid-19 bagi anak-anak Indonesia.

Dalam pertemuan virtual pada, Rabu (8/10/2020) tersebut, Roslinda menyampaikan gambaran tentang situasi dan kondisi anak-anak Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) selama pandemi Covid-19 kepada perwakilan negara anggota PBB di New York, Amerika Serikat.

Roslinda, yang diminta oleh Wahana Visi Indonesia (WVI), sesuai dengan undangan World Vision Asia, menyampaikan rasa sedihnya, karena selama pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, banyak anak yang harus tinggal di rumah dan belajar dari rumah.

“Kami sedih karena selama pandemi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja dan tidak bisa bertemu teman-teman,” katanya dilansir dari Antara.

Ada beberapa hal yang membuat Roslinda sedih, antara lain: pertama, ketika belajar di rumah dan menemukan kesulitan, umumnya anak-anak tidak bisa langsung bertanya kepada guru seperti lazim di sekolah.

Kedua, Karena belajar dari rumah, anak-anak wajib memiliki smartphone untuk mengirimkan tugas-tugas dari guru dan harus mengisi pulsa data. Dirinya mengaku bahwa banyak anak yang tidak bisa memenuhinya karena kondisi ekonomi orang tua yang sulit di tengah resesi ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, tidak semua anak dapat memenuhi tuntutan tersebut karena penghasilan orang tua mereka yang berkurang selama masa pandemi.

Ketiga, akses internet di daerah boleh dibilang masih terbatas, sehingga ada wilayah yang belum terjangkau signal internet.

Keempat, akses air bersih yang kurang. Roslinda menambahkan bahwa pandemi Covid-19, semua orang termasuk anak-anak diwajibkan selalu mencuci tangan. Kendalanya adalah bahwa tidak semua daerah di Indonesia, khususnya di NTT memiliki akses air bersih yang cukup.

“Saya beruntung, walaupun harus membeli air atau berjalan jauh untuk mendapat air, orang tua kami bisa mengusahakan agar rumah memiliki tempat cuci tangan. Saya berharap, para pemangku kebijakan dapat memberi solusi atas apa yang dihadapi anak-anak di masa pandemi ini,” tuturnya dilansir dari Tempo.

Adapun pertemuan virtual tersebut dimaksudkan untuk melakukan penilaian cepat tentang dampak sosial ekonomi pada kehidupan anak-anak di Asia Pasifik dalam masa pandemi Covid-19. (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi