Kam. Apr 15th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tingkatkan Ekonomi, Martina Raga Lay Dorong Ibu Rumah Tangga Olah Pangan Lokal, Kembangkan Mie Kelor

7 min read

Martina Raga Lay bersama suami Nikodemus Rihi Heke (*)

Di balik suami sukses ada seorang perempuan hebat. Penegasan ini cocok dan tepat disematkan kepada Dra Marthina Rihi Heke-Raga Lay, M.Si yang adalah istri dari bupati Kabupaten Sabu Raijua Drs. Nikodemus Rihi Heke, M.Si (saat ini kembali maju dari jalur Partai NasDem). Perempuan kelahiran Sabu Seba, 7 Mei 1962 ini dengan setia dan sabar mendampingi sang suaminya Rihi Heke dari Camat di Kecamatan Kupang Timur hingga menjadi Wakil Bupati, Plt. Bupati dan Bupati Sabu Raijua. Meski tantangan dan badai menghampiri, Marthina Raga Lay tetap setia menghadapinya dengan kekuatan doa.

Sebagai seorang dosen Ilmu Administrasi Pemerintahan di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, ia mendukung penuh karier sang suami dengan terlibat aktif dalam kegiatan kaum ibu di Sabu Raijua. Ia menjadi Ketua Tim Penggerak PKK yang mengurusi program PKK bagi kaum ibu dan anak-anak di Kabupaten Sabu Raijua yang masih tertinggal dari kabupaten lainnya di NTT.

Melalui PKK, ia bersama para ibu pejabat dan pegawai PNS lainnya mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan sesuai program PKK. Ada kegiatan pelatihan-pelatihan, pembinaan-pembinaan, dan sosialisasi pendidikan dan kesehatan ibu dan anak-anak. Melalui PKK, ia jug mendorong berbagai jenis usaha kecil untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga dengan memanfaatkan potensi lokal.

“Saya sebagai istri mendukung apa yang dilakukan suami dalam politik karena itu pilihan hidup berkarya bagi orang banyak. Secara fungsional, saya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK (saat ini sedang tidak aktif karena cuti kampanye pilkada). Ada banyak kegiatan yang sudah kami lakukan melalui PKK. Yangg jelas program PKK intinya pemberdayaan masyarakat dan keluarga. PKK punya 10 program kerja. Dari 10 itu, tidak semua program yang kami lakukan, tetapi kami buat sesusi potensi daerah. Kami berikan pelatihan-pelatihan kepada ibu-ibu dalam bentuk kelompok dengan potensi-potensi yang ada. Kami datangkan teknologinya dan kami ajarkan mereka untuk belajar mengolahnya. Kami harapkan dengan pelatihan tersebut mereka bisa mengelolahnya demi kesejahteraan keluarga mereka sendiri,” kata.

Master Ilmu Administrasi Negara dari Universitas Padjadjaran Bandung ini, mengungkapkan, ada beberapa program dan kegiatan yang dilakukan, antara lain, pengolahan gula air menjadi gula semut yang kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi. Selama ini, orang Sabu hanya menggunakan tuak manis untuk minuman segar dan dimasak gula air untuk dijual.Sementara, harga jualnya sangat rendah. Nah, kalau diolah tuak dalam bentuk produk yang lain, seperti gula semut, maka harga jualnya lebih tinggi dan daya tahannya lebih lama. Untuk gula semut ini, ia mengaku melatih masyarakat penyadap tuak sudah di semua kecamatan.Hanya saja, membuat gula semut gampang-gampang susah.

.”Kita punya masyarakat begitu coba satu kali tidak jadi atau gagal mereka langsung stop. Padahal, gula semut ini harus diuji coba terus. Gula semut ini memang dibutuhkan kebersihan kalau tidak bersih tidak jadi, karena kalau sudah fregmetasi asam sedikit saja tidak jadi. Hal ini yang jadi kendala. Apalagi masyarakat tidak mau cape, maunya begitu coba langsung jadi. Kami terus mendorong dan memberikan pelatihan terus. Pasalnya, untuk mendapatkan hasil butuh proses. Ada kelompok yang sudah berjalan baik. Kendala kami IPRT atau ijin produk rumah tangganya belum ada. Kami sudah sampai ke Balai POM dan hasilnya layak dikonsumsi. Karena IPRT nya belum ada maka belum bisa dijual ke luar, cuma promosi saja. Usuran ini porsinya dinas perindustrianyang mempunyai kriteria yang sangat ketat. Saat ini, masih tetap produksi walau terbatas, lokasinya mereka di Loboadju,”ungkapnya.

Selain gula semut, lanjut Marthina, ia bersama rekan-rekannya juga mendorong pelatihan membuat VCO (minyak kelapa murni). Selama ini, dalam pengamatannya masyarakat menggunakan kelapa tua untuk makanan babi. Kalau rajin ya mereka masak minyak kelapa dan dijual dengan harga sangat rendah. Melihat peluang ini, maka tim PKK Sabu Raijua memberikan pelatihan membuat VCO. Prosesnya gampang, tidak merepotkan.

“Kami dari PKK memberikan pelatihan membuat VCO. prosesnya gampang, tidak merepotkan. Harganya jualnya lebih tinggi, sekitar Rp25.0000, – VCO adalah minyak non kolesterol. Minyak ini sudah dikembangkan beberapa tahun yang lalu. Saat ini, ada produksinya. Sekarang mereka lagi jual 1 botol akua sedang seharaga Rp50.000,-Namun mereka tak bisa produksi banyak dan kirim keluar karena belum ada ijin produksinya,” ungkapnya.

Kembangkan Mie Kelor

Selain VCO, lanjut dia, para ibu juga memproduksi produk makanan ringan, seperti Mie Kelor. Pada tahun lalu, sebelum Covid-19 melanda, ia bersama tim kerjanya dan para ibu pergi Studi Banding di Blora yang adalah pusatnya Kelor. Di sana, ada berbagai informasi tentang beragam produksi atauh olahan dari kelor, seperti snack dan Mie Kelor.Karena mereka lebih tertarik dengan Mie Kelor, maka tertarik. Tahun lalu, (sebelum Covid), ia bersama ibu-ibu pergi studi banding di Blora. Blora adalah pusat Kelor terbesar di Indonesia. Di sana ia dan para ibu belajar mengolah menjadi makanan, seperti snack dan mie kelor. Ia juga banyak mendapatkan informasi tentang cara pengeringan kelor menjadi teh. Namun ia lebih fokus pada pengolahan mie kelor. Ketika pulang, ia mulai kembangkan di Sabu Raijua.

“Pada saat acara apa saja, kami turun supervisi ke kecamatan dan desa, kami terus melakukan demo pengolahan kelor, mau mie kelor stik kelor kami promosikan. Selama ini, pesta-pesta menggunakan mie instan dari tokoh. Dari pada kita beli mie di toko lebih baik kita olah kelor jadi mie. Karena lebih higienis dan sehat. Kami juga siapkan peralatan untuk warga. Setiap habis latihan kami beri alatnya untuk mereka lanjutkan. Jadi kami beri alatnya biar warga mulai mengolahnya sendiri. Kami harapkan apa yang kami berikan berkelanjutan dan mereka jalankan sampai. Harapan saya, para ibu terus mencoba dan mandiri. karena di Sabu belum ada orang jual mie basah. Jadi ini peluang besar untuk dikembangkan, paling tidak dalam acara-acara pesta bisa menggunakan mie kelor ini. Kami juga merintis usaha kantin, khsusu untuk mie soto ayam kelor. mungkin sekarang Covid ini terhenti,” terangnya semangat.

Dia ingin di Sabu ada warung-warung makan special dikembangkan warga. Pasalnya di Sabu belum ada warung makan yang special. Jadi dia ingin fokus dengan satu dua warung dulu yang special.Misalnya, warung soto ayam mie kelor. Dia ingin mendorong para ibu ada yang mau membuka usaha tersebut. “Nanti kalau sudah jalan kita kembangkan lagi dengan menu lainnya. Sabu memang masih berkembang dan membutuhkan banyak warung makan ke depan. Hanya sekarang ini tinggal dari kemauan warga saja, kita terus mendorongnya. Produksi pangan lokal yang kecil-kecil tidak susah.Harga juga jangan terlalu tinggi sehingga bisa dijual di seklah-sekolah.Kami sudah berupaya, memang ada tantangan di mana masyarakat maunya keuntungan yang besar sekaligus. Nah, ini yang masih butuh pemahanam,” ujarnya.

Selain itu, melalui PKK, ia bersama para ibu juga memberikan pelatihan jus mangga dan dodol mangga. Menurutnya, di Sabu setiap musim mangga, buah mangga cukup banyak sehingga bisa dianfaatkan untuk membuat jus dan dodol mangga. Ie memberikan pelatihan praktek dan juga membantu memberikan pelatannya bagi ibu-ibu.”Kami mau supaya ada sesuatu yang dihasilakan dari apa yang kami sudah ajarkan. Semua memang butuh proses yang agak lama. Karena nilai jualnya sangat tinggi.Ada juga pangan lokal lainnya, seperti kripik pisang dan ubi yang diajarkan. Semua kami berikan dengan pelatan untuk mereka,”katanya.

Sementara itu, untuk meningkatkan kesehatan gisi ibu dan anak-anak, secara khusus program mencegah stunting. Program anak sehat melalui pencegahan stunting ini karena di Sabu Raijua ada data bahwa anak-anak terhambat petububhan tulangnya karena kekurangan gisi. Dimana kalau sudah terlanjur stunting anak mengalami kesulitan untuk kembali normal lagi. Jalan satu-satunya melalui pencegahan saja mulai dari ibu hamil. Ibu tersebut diberi makanan bergisi sehingga janin atau bayi dalam kandungan bertumbuh normal. “Kami berikan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita. Dan makanan tambahan itu adalah kelor. Kami mendorong mereka konsumsi kelor, dan di rumah mereka harus ada tanaman kelor. Untuk itu, setiap kami turun ke masyarakat selalu bawa anakan kelor untuk ditanam warga. Satu dua pohon dulu tidak apa-apa, tidak perlu harus banyak banyak,” bebernya.

Ia berharap, ke depan, tim PKK dapat melakukan lebih banyak program untuk meningkatkan kesejateraan eknomi rumah tangga dan menigkatkan kesehatan ibu dan anak. Sebanarnya, ia ingin melakukan banyak kegiatan, namun terbentur masa jabatan bupati yang hanya 1 tahun lebih, dan tim PKK belum memiliki kantor sendiri. Selama ini, hanya menggunakan salah satu ruangan kantor sebagai kantor Tim PKK. Selain itu, dia sangat berharap Dinas Perindustrian dan Perdanganan dapat mendukung legalitas produk-produk pangan lokal yang dihasilkan kaum ibu, dengan mengeluarkan PIRT (ijin produksi rumah tangga) agar hasil karya para ibu di Sabu Raijua bisa dipasarkan ke luar daerah.

Selain sebagai ibu rumah tangga tiga anak yang mengurusi rumah tangga dan mendampingi suami sebagai istri bupati, Marthini juga masih aktif mengajar Ilmu Administrasi Negara di Fisipol Undana Kupang. Ia pergi pulang Kupang untuk mengajar. Tercatat ia sudah mengabdi menjadi dosen Undana sudah hampir 30 tahun. Dan sudah begitu banyak mahasiswa dan mahasiswi bimbingnnya yang meraih gelar sarjana. Sebagai serang akademisi Undana asal Sabu Raijua, ia berharap anak-anak Sabu Raijua harus sekolah hingga tingkat perguruan tinggi dan meraih gelar di berbagai bidang ilmu. Dengan demikian, SDM orang Sabu di masa depan akan lebih baik dari hari ini.

Biodata:

  1. Nama Lengkap : Dra Marthina Rihi Heke-Raga Lay, M.Si
  2. Tempat/Tanggal Lahir : Sabu Seba, 7 Mei 1962
  3. Orang Tua : Ayah: Benyamin Raga Lay dan Ibu Sarlin Raga Lay-Thung.
  4. Pendidikan : SDN 2 Seba, SMPN seba, SMA Palapa Kupang, S1 jurusan Ilmu Adm Negara- Undana Kupang, S2 Prodi Administrasi Negara di Univ Padjadjaran Bandung.
  5. Pekerjaan : Dosen tetap Prodi Ilmu Administrasi Negara-Fisip Undana Kupang dari Tahun1989-sekarang.
  6. Suami : Drs. Nikodemus Rihi Heke,M.Si
  7. Anak-anak : Arles Mariko Rihi Heke, S.Sos, Ari Stiven Rihi Heke, S.Sos, Winny Rihi Heke.
    8.Pengalaman Organisasi : Ketua TP PKK Kecamatan Kupang Timur 1991-1999, Wakil Ketua TP PKK Kab Sarai, Ketua TP PKK/ Dekranasda Kabupten Sarai 2019-sekarang. (KornelisMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi