Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Menenun Itu Seni Budaya Tinggi Yang Menghasilkan Rupiah

4 min read

Theresia Riwu, ibu rumah tangga asal Desa Lobohede, Mesara, Sabu Raijua yang menenun demi eknomi keluarga (*)

NTTBANGKIT.COM,-Masyarakat NTT memiliki beragam tenun ikat. Setiap kabupaten di NTT memiliki produk tenun ikat sendiri dengan motif dan ciri khas daerahnya masing-masing. Meski saat ini,produk tekstil merajai pasaran pakaian, tidak menyurutkan kaum ibu perempuang di NTT, secara khusus ibu rumah tangga untuk menenun. Pasalya, budaya menenun telah lahir sejak dahulu kala dan terus diwariskan dari masa ke masa untuk menjaga tradisi.

Salah satu kelompok masyarakat yang masih mempertahankan tradisi menenun di NTT adalah masyarakat (kaum perempuan) di Kabupaten Sabu Raijua. Kaum ibu di pulau sejuta lontar itu, masih terlihat rutin menenun untuk mempertahankan budaya dan tradisi leluhur mereka. Selain untuk dipakai sehari-hari atau dalam acara adat, kain tenunan yang dihasilkan juga untuk dijual demi menyambung hidup mereka.Berbagai kebutuhan rumah tangga mereka terbantu dengan menjual kain tenun.

Ibu Theresa Riwu adalah salah satu ibu rumah tangga yang rutin menenun di rumahnya di rumahnya. Setiap hari, seusai menyiapkan makanan dan minuman untuk keluarganya, ia menenun dari sing hari hingga sore. Ditemui di kediamannya, Desa Lobohede, Kecamatan Mesara, ibu muda tiga anak tersebut mengisahkan tentang aktivitasnya sehari-hari menenun di rumah, setelah sang suami yang adalah petani rumput laut pergi ke laut.

Disentil media, sejak kapan ia sudah menenun, Theresa mengaku sejak ia masih gadis muda, ia sudah diajari ibunya untuk menenun. Sejak itu, ia sering menenun membantu ibunya. Setelah menikah, Theresia tetap menenun dengan berbagai motif. Pekerjaan menenun baginya, adalah sebuah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Apalagi setelah kain tenun sudah jagi, maka itu memberikan kepuasaan batin tersendiri.

“Menenun itu menyenangkan sekali. Menenun bagi saya adalah sebuah proses seni yang berbudaya tinggi sekali. Hanya orang atau ibu-ibu yang memiliki keterampilan seni yang tinggi yang mampu menghasilkan motif-motif dengan warna-warni yang unik dan indah. Menenun itu terlihat mudah, tetapi tidak mudah dilakukan, hanya orang yang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi yang mampu menghasilakn kain tenun,” cerita Theresia yang duduk di ruangan tengah rumahnya sambil menenun.

Dalam proses menenun, lanjut Theresia, membentuk benang-benang menjadi kain dengan motif-motif dan memberikan zat pewarna pada benang-benang juga diperlukan kehati-hatian yang tinggi agar tidak salah.Selain itu, dalam menenun juga diperlukan kesabaran, kelembutan dan totalitas pikiran, hati dan energi agar dapat menghasilkan kain yang baik.

Lama proses menenun untuk menghasilakan selembar kain sarung, terang Theresa, butuh waktu 2-3 bulan. “Untuk kain sarung biasaya bisa sampai 2 bulan lebih, kalau untuk kain selendang biasaya 1 bulan sudah selesai karena dia lebih kecil jadi prosesnya lebih mudah dan cepat. Kalau kita rutin dan fokus biasanya lebih cepat. Semua tergantung kita saja,”katanya.

Dari kain tenun yang ia hasilkan, rata-rata ia jual. Satu lembar kain sarung biasayan ia jual dengan harga Rp400-500 ribu. Biasaya, ia menenun tergantung orderan atau pessanan para pembeli. Motfnya juga tergentang selera atau pilihan para pemesan.

Memang diakuianya, hasil uang yang didapat tidak sebanding dengan waktu, energi dan biaya yang dikeluarkan.Namun, baginya, jika perempuan tidak menenun, maka tradisi budaya Sabu perlahan akan lenyap. Saat ini, generasi muda Sabu sudah banyak yang menyukai kain tekstil buatan pabrik. Di desa-desa sudah jarang terlihat kaum muda menenun. Oleh karena itu, ia berharap kaum remaja putri Sabu harus mencintai budaya menenun dengan belajar menenun.

“Salah satu identitas utama orang Sabu adalah atau terlihat dari kain tenun. Untuk itu, kaum remaja putri Sabu harus belajar dan bisa menenun. Perempuan Sabu harus menjadikan aktivitas menenun untuk mempertahankan tradisi adat istiadat orang Sabu yang kental dengan berbagai ritus kebudayaan, dimana dalam setiap acara adat wajib mengenakan kain tenun.

Selain belajar menenun tenunan dari benang-benang dan zat pewarna yang dibeli dari toko, ia juga berharap kaum muda belajar menenun kain tenunan asli yang dibentuk dari benang-benang kapas yang dipintal dengan zat pewarna yang diolah sendiri dari beberpa jenis tumbuhan. Pembuatan atau proses tenuan asli memang waktunya lebih lama dan lebih rumit daripada proses tenunan modern. Namun keuntungannya, harga jualnya lebih mahal dari tenunan modern dengan benang-benang toko.

Toko perempuan Sabu Raijua, Martina Raga Lay (istri bupati Sabu) menerangkan bahwa di Sabu saat ini, hanya tinggal beberapa ibu saja yang masih mempertahankan tradisi menenun tradisional dengan menggunakan kapas-kapas dan zat pewarna dari ramuan tumbuh-tumbuhan. Di Sabu juga kata dia, ada satu kelompok ibu-ibu penenun yang rutin melakukan aktivitas menenun. Kaum ibu tersebut sudah banyak menghasilakan kain-kain tenun tradisional yang harga jualnya lebih tinggi.

“Kain tenun asli atau tradisional harganya lebih mahal dari kain tenun moderen. Harga kain tenunan asli mencapai Rp1 juta per lembar. Jenis kainnya lebih tebal dan lebih berat dari kain modern. Mahalnya harga juga disebabkan proses pembuatan yang lebih lama,. Alat-alat untuk menenun memang sama, tetapi proses pembuatannya lebih lama dan lebih rumit. Untuk itu, harganya memang jauh lebih mahal,” ungkapnya.

Tentang pembeli, Martini menerangkan,pembeli tenuan ikat asli Sabu berasal dari luar Sabu, di antaranya dari Kota Kupang dan Jakarta yang mencintai atau suka dengan motif-motif asli kain Sabu. Ada pula para pembeli adalah wisatawan asing yang mengunjungi Sabu. Bagi mereka, uang tidak menjadi halangan untuk memiliki selembar kain tenun asli Sabu. (kornelisMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi