Ming. Jul 25th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Proyek Air Minum Dinilai Mubazir, Kades Bangka Ara: Air Masih Mengalir

4 min read
Proyek Air Minum Dinilai Mubazir, Kades Bangka Ara: Air Masih Mengalir

Foto kondisi air di mata air Wae Kaung, Desa Bangka Ara, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai/Ist

RUTENG, NTTBANGKIT.COM – Proyek air minum dari Wae Kaung menuju Kampung Munta, Desa Bangka Ara, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai dinilai oleh sejumlah masyarakat tidak berguna (mubazir).

Penilain masyarakat itu didasarkan pada fakta di lapangan bahwa memang saat ini masyarakat tidak merasakan manfaat dari proyek itu.

“Proyek air minum dari Wae Kaung menuju Kampung Munta tidak berguna, karena kami tidak merasakan manfaatnya saat ini”, tutur Mathias Sardin, salah satu dari sekian masyarakat Bangka Ara yang mengeluhkan proyek tersebut.

Menanggapi penilaian masyarakat itu, kepada media ini, Kades Bangka Ara, Bapak Wensislaus Kadirman tetap ngotot mengatakan bahwa air dari Wae Kaung menuju Kampung Munta sampai saat ini masih mengalir.

“Airnya masih mengalir sampai saat ini”, kata Kadirman kepada media ini pada Senin (12/07/2021).

Namun, berdasarkan penelusuran media ini di lapangan tidak ada air yang mengalir dari mata air Wae Kaung menuju Kampung Munta.

Pertama kali media ini melakukan penelusuran di lapangan pada Jumat (09/07/2021).

Saat itu tidak ada air yang mengalir dari mata air ke bak penampungan utama di Wae Kaung.

Debet air di bak induk Wae Kaung saat itu berkisar hanya lima sentimeter dari dasar bak.

Dengan debet yang sangat rendah itu, air tidak bisa mengalir dari bak induk Wae Kaung menuju bak penampungan yang terletak di Kampung Munta.

Selain pada Jumat (09/07/2021), media ini juga melakukan penelusuran pada Senin (12/07/2021) dan Rabu (14/07/2021).

Fakta yang ditemukan di lapangan tetap sama. Tidak ada air yang mengalir dari mata air ke baik penampungan induk di Wae Kaung dan bak penampungan di Kampung Munta.

Temuan media ini dibenarkan juga oleh Ketua OPAM Bangka Ara, Bapak Ferdinandus Rondam (Fery) yang dikonfirmasi media ini pada Selasa (13/07/2021).

“Sekarang tidak ada air yang mengalir dari Wae Kaung menuju kampung Munta”, kata Fery.

Wensislaus Kadirman, Kepala Desa Bangka Ara, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai
Wensislaus Kadirman, Kepala Desa Bangka Ara, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai/FB Vinsen Bangka Ara

Sejumlah Kejanggalan

Berdasarkan hasil investigasi media ini, proyek air minum dari Wae Kaung menuju Kampung Munta merupakan anggaran tahun 2020 dan dikerjakan pada akhir tahun 2020.

Proyek ini menghabiskan dana desa senilai 90 juta rupiah.

Dari dana 90 juta rupiah itu, 60-an juta rupiah digunakan untuk belanja bahan atau material, 22 juta rupiah untuk membayar tenaga kerja, dan 2 juta rupiah untuk membayar tenaga tekhnis.

Team Pelaksana/Pengelola Kegiatan (TPK) dari proyek itu ialah Paulus Kompo, Thobias Samin, Agustinus Pampung, dan Ferdinandus Gonu.

Keempatnya merupakan aparat Desa Bangka Ara. Padahal, menurut ketentuan Permendagri Pasal 7 Ayat (2) Nomor 20 Tahun 2018, TPK berasal dari unsur perangkat desa, lembaga kemasyarakatan desa, dan/atau masyarakat.

Adapun sejumlah tugas TPK ialah sebagai berikut: pertama, menyusun DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran), DPPA (Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran), dan DPAL (Dokumen Pelaksanaan Anggaran Lanjutan) sesuai bidang tugasnya.

Kedua, melaksanakan kegiatan pengadaan barang/jasa sesuai DPA, DPPA, dan/atau DPAL yang telah disetujui oleh kepala desa melalui swakelola dan/atau penyedia brang/jasa.

Ketiga, melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja kegiatan sesuai bidang tugasnya.

Keempat, mengawasi pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa melalui swakelola dan/atau penyedia barang/jasa.

Kelima, mengumumkan tender untuk kegiatan pengadaan barang/jasa melalui penyedia barang/jasa.

Keenam, memilih dan menetapkan penyedia barang/jasa.

Ketujuh, memeriksa dan melaporkan pelaksanaan pengadaan barang/jasa kepada Kasi/Kaur sesuai bidang tugasnya.

Kedelapan, mengumumkan hasil pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa melalui swakelola dan/atau penyedia barang/jasa.

Salah satu TPK, Agustinus Pampung, yang dimintai keterangannya oleh media ini, mengaku tidak tahu apa yang harus dikerjakannya sebagai TPK berdasarkan ketentuan undang-undang.

Ia hanya melakukan pengawasan di Lapangan. Pengadaan barang dan jasa juga menurut dia diambilalih oleh kepala desa.

Kades Bangka Ara membenarkan itu.

“Pengadaan barang dan jasa dilakukan oleh saya sendiri”, kata Kades Bangka Ara kepada media ini pada Senin (12/07/2021).

Lebih lanjut, Pemdes Bangka Ara menampik berita laporan masyarakat sebelumnya bahwa proyek air minum dari Wae Kaung menuju Kampung Munta dikerjakan tanpa tender dan papan informasi.

Menurut mereka, tender dan papan informasinya ada dan dipancangkan di mata air Wae Kaung.

Sampai saat berita ini diturunkan, media ini belum mendapatkan bukti bahwa tender dan papan informasi itu benar dipasang di mata air.

Namun, ketika ditanyai tentang alasan tender dan papan informasi dipasang di tempat tertutup, Pemdes Bangka Ara tidak memberikan jawaban yang jelas.

Padahal, tujuan tender dan papan informasi ialah agar masyarakat memperoleh akses terhadap informasi proyek yang sedang dikerjakan.

Apa yang dilakukan oleh Pemdes Bangka Ara dalam konteks ini dinilai masyarakat menyalahi asas keterbukaan.

Tidak Sesuai Rekomendasi Musyawarah Desa
Selain sejumlah kejanggalan di atas, media ini juga menemukan kejanggalan lain dari proyek air minum dari Wae Kaung menuju Kampung Munta.

Proyek itu ternyata dikerjakan tidak sesuai dengan musyawarah desa.

Menurut sejumlah tokoh masyarakat yang sempat diwawancarai, dalam masyawarah desa yang pernah dilakukan di kantor Desa Bangka Ara, masyarakat memang menyetujui adanya penambahan debet air untuk dialirkan ke kampung Munta, tetapi mereka tidak setuju jika sumber mata air yang dimanfaatkan hanya berasal dari mata air yang terletak di kebun Bapak Martinus Medo di Wae Kaung.

Harus ada penambahan debet dari sumber lain, yakni dari mata air yang terletak di kebunya Bapak Lukas Wadus.

Sebab, debet air yang cukup besar berasal dari situ.

“Benar bahwa ada rekomendasi dari masyarakat untuk penambahan debet air ke kampung Munta. Namun, masyarakat tidak setuju jika air yang dimanfaatkan hanya bersumber dari mata air di kebunya Bapak Martinus Medo. Harus ada penambahan debet air dari sumber lain, yang alternatifnya waktu itu dari kebunnya Bapak Lukas Wadus. Sebab debet air yang cukup besar berasal dari situ. Kalau tidak, proyek itu jangan dipaksakan untuk dikerjakan. Namun, belakangan kami heran karena ternyata realisasinya hanya mata air yang terletak di kebunya Bapak Martinus Medo yang dimanfaatkan,” kata Bapak Hendrikus Jehadut.

Kesaksian yang sama juga disampaikan oleh Bapak Mathias Sardin dan Ketua OPAM Bangka Ara, Bapak Ferdinandus Rondam, serta anggota BPD Bangka Ara, Bapak Markus Mamat.

Mereka kemudian mendesak agar proyek itu diusut tuntas karena tidak membawa manfaat untuk masyarakat.

(Ferdi Jehalut)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi