Kam. Okt 21st, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Festival Budaya Malaka Ajang Generasi Milenial Lestarikan Budaya

4 min read

Tarian Tebe dalam Festival Budaya Malaka di Anjungan NTT Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si dan Penasehat Ikatan Keluarga Malaka Jaya (IKMJ), Jack Bouk bersama para penari dalam Acara Festival Seni Budaya Malaka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (14/3/2020)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM,-Forum Keluarga Malaka Jaya (FKMJ) menggelar Festival Seni Budaya Malaka di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),Sabtu (14/3/2020). Ratusan muda-mudi hadir dalam festival budaya yang pertama kali digelar oleh Badan Penghubung NTT.

Festival budaya yang dihadiri Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si, Pembina/Penasehat FKMJ, Jack Bouk, dan para tokoh Belu dan Malaka tersebut terlihat berjalan lancar, sederhana dan ramai dari awal hingga akhir. Anak muda-mudi (generasi milenial) Malaka tampil memukau dengan menyuguhkan beragam tarian khas Malaka dalam balutan busa tradisional (kain tenun).

Disaksikan media, tarian-tarian yang ditampilkan, antara lain Tarian Bidu, Tarian Likurai dan Tari Tebe. Tiga tarian ini dibawakan bergantian oleh masing-masing sanggar seni budaya yang dilakoni anak-anak muda. Selain tarian-tarian tersebut, ada pula tarian-tarian lainnya. Hal yang terdengar unik, yaitu mereka juga melantunkan doa-doa, syair serta pantun-pantun adat yang semuanya dalam bahasa Malaka.

Selain tarian-tarian, syair-syair adat dan pantun, festival budaya sederhana nan mungil dibawa tenda putih ini dimeriahkan dengan fashion show dari bocah-bocah belia Malaka di atas panggung festival. Tiga anak-anak kecil yang mengenakan busana modifikasi modern motif Malaka berlenggak-lenggok lincah diiringi irama musik yang menarik perhatian dan memicu tepuk tangan bergemuruh di bawa rintik-rintik hujan yang menyegarkan.

Selain itu, festival budaya milenial Malaka yang digelar pertama ini, juga memamerkan beragama motif tenun ikat, manik-manik atau acecoris tradisional Malaka yang dipajang di atas sebuah meja kecil. Tampak beberapa pengunjung melihat-lihat pajangan itu.   

Festival budaya Malaka tersebut terlihat dan terdengar meriah dengan pekikan khas Malaka ‘Hoda,Hoda Malaka’ dari seorang gadis cantik, serta alunan lagu-lagu daerah merdu yang dibawakan putra-putri Malaka . Ada lagu-lagu daerah, ada lagu-lagu pop, dan ada pula lagu-lagu dansa.

Tari Tebe yang menjadi simbol pemersatu orang Malaka menjadi tarian puncak yang paling ramai dan meriah. Ketika lagu Tebe diputar, seluruh pemuda-pemudi, anak-anak dan orang tua serta undangan langsung terjun bergandengan tangan meneri Tebe bersama.

Harus Lebih Fokus  

Kepala Badan Penghubung NTT, Drs. Viktor Manek, M.Si, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada kaum milenial Malaka yang telah menggelar festival. Menurutnya, seni budaya tradisional Malaka yang adalah warisan leluhur harus terus dilestarikan sampai kapanpun, dan generasi milenial adalah tongkat estafet yang harus meneruskan hasil karya besar para leluhur.

Viktor Manek yang juga tampil berbusana Malaka, lebih jauh memberikan beberapa catatan kritis yang harus dibenahi oleh FKMJ ke depan terkait dengan pagelaran festival budaya. Dia berharap festival budaya ke depan harus disiapkan dan dikemas lebih baik agar menarik perhatian media dan wisawatawan.

“Saya memberikan apresiasi atas pelaksanaan festival yang didominasi anak-anak muda Malaka dan berbagai kecamatan. Ini adalah ajang yang baik bagi generasi muda Malaka Jabodetabek tidak melupakan seni budaya kita. Saya sangat berharap, ke depannya, festival harus dipersiapkan lebih baik dan lebih fokus. Misalnya menggelar tarian masal Tebe ribuan aatau dua sampai tiga ratus orang dengan busana asli dan ritus-ritus adat. Dengan demikian terlihat lebih fokus, unik dan menarik perhatian banyak orang,”pinta Viktor Manek.

Viktor Manek mengungkapkan, dalam rangka memajukan pembangunan pariwisata dan seni budaya NTT, Badan Penghubung NTT menggelar festival seni budaya sepanjang tahun 2020. Dengan dana pembinaan dari APBD NTT sebesar Rp25 juta per IKB, diharapkan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menampilkan seni budaya asli daerah masing-masing sebagai sarana pembinaan sekaligus promosi pariwisata NTT.

Sementara itu, Pembina/ Penasehat FKMJ, Jack Bouk, mengatakan bahwa momentum festival adalah momen dimana orang Malaka menampilkan seni budaya dan ragam adat istiadat. Untuk itu, momen tersebut harus benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin menampilkan keaslian budaya asli oran Malaka, meskipun berada di Jakarta.

Dikatakan Jack Bouk, orang Malaka memiliki ragam seni budaya asli yang sangat unik dan langkah yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda. Dengan demikian, maka kebudayaan orang Malaka tidak akan punah meskipun berada di tengah-tengah budaya modern yang membanjiri daerah.

Lebih jauh, Jack Bouk yang juga pengusaha sukses ini, mengajak semua orang Malaka di Jabodetabek harus hidup dalam persatuan dan kesatuan dengan rasa solidaritas yang tinggi. Jack berharap melalui festival budaya dapat terus mempererat hubungan persaudaraan, baik antara orang Malaka dan antara orang Malaka dengan warga NTT lainnya. Tentunya, bukan hanya dalam suka tetapi juga dalam duka.

“Mari kita bersatu dan terus berjuang mempertahankan seni budaya kita. Melalui festival, selain menampilkan ragam adat dan seni budaya, juga menjadi ajang pemersatu seluruh orang Malaka di Jabodetabek. Kita harus terus bekerjasama, bersatu padu dalam memajukan kebudayaan dan menjaga persaudaraan untuk mewariskan nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang kita,” ajak Jack Bouk.

Pantauan NTTbangkit.com, selain para tamu dari IKB-IKB, festival tersebut juga dihadiri sebagian pegawai dan pejabar dari Kantor Badan Penghubung NTT. Para ibu terlihat mengenakan busana khas daerah NTT dan terlihat turut mengambil bagian dalam beberapa tarian yang ditampilkan.

Adam Kase, salah satu pejabat yang hadir bersama keluarganya, tampak sangat menikmati suguhan-suguhan tarian khas Malaka dalam kerlap-kerlip lampu warna-warni di panggung festival. Festival yang dimulai sekitar pukul 05.00 Wita tersebut, kemudian ditutup dengan jamuan makan malam bersama dalam suasana penuh kekeluargaan. (korneliusmoanita/NBN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi