Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

“Gantungkan Hidup Pada Tuhan dan Jangan Putus Asa”

10 min read

Jack Bouk, saat bersantai di kursi hasil produksi PT. Kris Jaya. (Foto bungkornel/Istimewa)

Kornelius Moa Nita,S.Fil*

Lahir dari kondisi sulit tak membuat ia menyerah. Ia berani merobek tirai gelap derita. Ia keluar dari kampung halamannya dan bertarung di tengah kehidupan keras nan kejam ibu kota negara. Langkahnya tertatih, jatuh bangun berulang kali, terus merangkak menggapai anak tangga. Dengan iman yang teguh kepada Sang Mata Air Ilahi dan optimisme yang tinggi, ia bangkit mencapai harapan. Kerendahan hati dan kejujuran terus ia pegang menjadi prinsip hidupnya untuk terus berjuang meraih dan mempertahankan kesuksesan.

Jack Bouk, demikian pria berkulit putih nan lemah lembut ini disapa setiap orang yang mengenalnya. Jack lahir Oktober 1966 dari sepasang orang tua petani bernama Yosep Manek dan Maria Ikun di Tanah Malaka, sebuah daerah di NTT yang berbatasan langsung dengan Provinsi Timor Leste (kini negara Republik Demokratik Timor Leste). Ketika usia sekolah, ayahnya memasukan Jack di SD Fahiluka. Oleh para guru, Jack kecil mulai belajar menulis dan membaca untuk mulai mengenal dunia. Selain belajar di sekolah, sejak kecil Jack sudah didik oleh ayahnya untuk bekerja membantu orang tuanya yang juga berprofesi sebagai nelayan.

Enam tahun dididik oleh para guru SD Fahiluka dan mendapatkan pertama kali Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), Jack kemudian melanjutkan pendidikannya ke tahap kedua di SMP Bolan. Di SMP ini, Jack kecil yang mulai bertumbuh menjadi seorang remaja terus belajar berbagai ilmu pengetahun. Meski setiap hari selama tiga tahun Jack berjalan kaki pergi pulang dan pulang pergi  di jalan tanah sepanjang 16 Km, Jack tetap semangat tinggi untuk bersekolah. Setiap hari ia bersama kawan-kawan sekelasnya terus ke sekolah untuk mengeyam pendidikan. Di kala itu, tak ada kendaraan, tak ada mobil dan tak ada motor atau sepeda. Terkadang rasa lapar dan haus harus ditahan di jalan dan di sekolah demi sebuah cita-cita di masa depan.

Tiga tahun di SMP Bolan, pemuda tampan Jack lulus dan mendapatkan ijasah STTB, ia terus bersekolah. Jack masuk SMA Sinar Pancasila di Malaka. Pemuda Jack terus belajar keras di SMA tersebut. Karena ayahnya yang seorang guru, petani dan nelayan, Jack bukan hanya belajar untuk mendapatkan ijasah saja, tetapi juga dibekali dengan kerja keras yakni membantu ayahnya yang juga nelayan. Setiap hari sepulang sekolah, ia lebih sering bersama ayahnya. Tugasnya adalah mendorong sampan hingga berpuluh-puluh meter.

Bagi Jack, hampir setiap hari, ia bersama 8 saudaranya (8 laki-laki dan 1 perempuan) tidak susah makan ikan. “Kami setiap hari makan ikan karena tinggal di daerah pesisir. Puji Tuhan kami tidak pernah kekurangan ikan. Setiap hari bisa makan udang sampai 10 Kg. Selain itu kami juga ternak babi, jadi makan daging tidak susah. Pekerjaan membantu orang tua setiap hari membentuk tubuh Jack menjadi keras, padat dan kekar.

Meski sibuk bekerja membantu orang tuanya, Jack tidak lupa akan tugasnya sebagai seorang siswa SMA. Jack akhirnya meraih STTB SMA Sinar Pancasila karena ketekunannya dalam belajar. Masa tiga tahun belajar di SMA Sinar Pancasila telah mengatarnya menjadi seorang pemuda dewasa yang bisa memutuskan kemana langkah selanjutnya yang harus ia tempuh. Ia kemudian memutuskan pergi ke Denpasar untuk berkuliah di Bali. Ia tak mau tinggal di kampung dan jadi preman kampung karena yang hidup dalam kekerasan karena ia juga suka berkelahi.

Jack kemudian tinggal di Bali dan mulai berkuliah dan menjadi mahasiswa. Namun sayang, kehidupan ekonomi orang tuanya di kampung kurang mendukung. Beban hidup keluarga besar Jack terasa sangat berat. Ia akhirnya putus kuliah. Setelah putus kuliah, Jack merasa bingung mau kemana. Kondisi yang sulit mendorong Jack untuk mencari kerja agar bisa bertahan hidup di Bali. Ia terus mencari pekerjaan yang bisa menopang hidupnya seorang diri di tanah rantau.

Di tengah harapan mendapatkan pekerjaan, suatu ketika, Jack yang sudah berusia 20 tahun mendapat tawaran untuk bekerja di Taiwan. Ia pun pergi ke Kota Jakarta untuk mengikuti test dan mengurus paspor untuk menjadi tenaga kerja di Taiwan. Namun, lagi-lagi kabar buruk datang, Jack ditolak oleh tim seleksi. Dari 12 orang tenaga kerja yang mengikuti seleksi, sebanyak 2 orang dinyatakan tidak lolos, salah satunya adalah Jack. Mendengar keputusan itu, ia bersama rekannya yang bernasib sial geram dan melayangkan protes. Namun protesnya tidak digubris. Jack marah karena merasa tidak fair dalam proses seleksi tersebut. Dirinya  yang tamat SMA kok tidak lolos dibandingkan 10 orang lainnya yang lolos namun kurang memiliki kompetensi.

Keinginannya untuk pergi ke luar negara Taiwan kandas. Walau marah dan kecewa, Jack tidak putus asah. Ia tetap bertahan di Kota Jakarta dan tidak mau pulang ke kampungnya. Ia enggan pulang kampung karena ia merasa malu pulang ke kampung sebagai orang gagal alias tidak berhasil. Ia tak mau dihina dan diolok-olok orang dan tak mau lagi terjun menjadi preman kampung karena suka berkelahi. Ia pernah berpikir sejenak untuk pulang kampung, namun ia kemudian ingat apa kata orang bahwa “lebih baik pulang nama dari pada pulang bawa diri saja.” Ia juga  berprinsip keras dan bertekad kuat bahwa “datang jadi kuli, pulang harus jadi orang. Jangan sampai datang susah dan pulang tetap susah.” Suatu malam, ia merenung dalam hatinya,” mungkin Tuhan punya rencana lain terhadap. Jadi saya harus tetap bertahan di Jakarta.”

Tak berhasil pergi ke Taiwan dan belum mendapatkan pekerjaan yang jelas, mendorong ia menjadi seorang petinju agar bisa mendapatkan penghasilan. Pasalnya, ia memiliki modal tubuh yang kekar dan kuat  dan nyalinya yang besar karena sudah biasa berkelahi. Ia ingin bertemu seorang promotor tinju ternama tingkat nasional bernama Tinton Suprapto. Kala itu, nama Tinton Suprapto sangat populer di blantika tinju nasional karena ia mempromotori petinju-petinju nasional yang sukses meraih prestasi. Ia berusaha mencari Tinton Suprapto, namun tidak pernah bertemu. Lagi-lagi cita-citanya menjadi petinju gagal total.

Gagal bertemu Tinton untuk menjadi petinju, mendorong Jack mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup. Sekitar tahun 1987, ia mendapatkan pekerjaan di tempat pengelolaan sampah plastik dengan gaji Rp2.500. Setiap hari ia dan para buruh lainnya mengolah sampah plastik yang dibawa para pemulung. Sampah plastik itu penuh dengan kotoran, termasuk kotoran manusia. Semua sampah yang kotor atau jorok dibersihkan dan kemudian dijual dengan harga per kg Rp8.500 kepada para pengusaha sampah.

Suatu ketika Jack merasa tidak puas dengan gaji seorang mandor (pengawas) yang gajinya Rp500.000. Padahal, mandor tersebut pendidikannya jauh lebih rendah darinya. Ia bertekad, cepat atau lambat ia harus bisa mendapatkan gaji yang sama atau lebih besar dari sang mandor. Untuk mendapkan gaji yang lebih tinggi, mendorong Jack untuk lebih giat bekerja dan belajar mengelolah proses dari proses sortir, giling packing  hingga pemasaran. Alhasil, berkat kerja kerasnya, ia pun kemudian menjadi pengawas dan mendapatkan gaji yang lebih besar, yaitu Rp1.500.000 per bulan selama dua setengah tahun.

Setelah bekerja dua setengah tahun di tempat pengelolaan sampah plastik. Ia berhenti dan beralih ke pekerjaan baru di bengkel las dan bekerja di pabrik suplier komponen mobil Toyota Kijang 125, 670 dan mobil Inova. Alat-alat yang diproduksi, antara lain engsel, pintu, injakan, rangka kursi, dan lain-lain. Penghasilan Jack makin baik. Dari penghasilan tersebut, ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1992, ia beralih pekerjaan lagi. Ia bekerja di PT. Nusa Cendana Harum (NH) milik orang NTT yang masih berhubungan darah. Jack bekerja di perusahan yang mayoritas pekerja dari NTT, Papua, dan Ambon. Bekerja di perusahan tersebut, Jack melihat begitu banyak anak-anak NTT yang datang meminta bekerja. Mayoritas mereka buta huruf, putus sekolah dan ada pula yang sedang kuliah. Sebagai manager perusahaan, Jack kemudian memberikan pelatihan khusus agar anak-anak NTT (Flores, Timor, dan Alor) bisa bekerja. Akhirnya, mereka memiliki keterampilan dan dapat bekerja dengan baik. Pabrik tersebut kemudian memproduksi kursi kantor untuk diekspor ke berbagai negara di lima benua.  

Walau begitu banyak anak-anak NTT diterima bekerja di PT. NCH, Jack masih merasa perihatin ketika melihat masih banyak anak-anak NTT yang mengganggur dan datang meminta pekerjaan kepadanya. Ia tak bisa menerima mereka karena kapasitas dan peluang kerja terbatas. Salah satu cara untuk membantu anak-anak NTT adalah membuka perusahaan baru. Ide, gagasan, konsep dan rencana mulai ia siapkan. Ia kemudian berhenti dari PT. NCH dan mendirikan bendera baru pada tahun 2001. Ia merekrut semua anak-anak NTT yang sedang mencari kerja. Ia melatih mereka agar mampu bekerja dengan terampil, tekun dan ulet. Perusahannya pun mulai berjalan lancar memproduksi kursi Olimpic yang ia desain sendiri.  Sayang, perusahaan yang ia nahkodai itu jatuh bangkrut dan semua karyawannya pun menganggur.

Jack tidak putus asa. Ia terus berjuang mencari jalan lain agar tetap bertahan hidup. Ia terjun ke bisnis tambang di Jawa Barat. Namun, bisnis yang menggiurkan ini rupanya tidak membawa keberuntungan, tetapi menyababkan ia jatuh ke dalam jurang kegagalan yang lebih dalam. Ia terlilit dalam hutang yang sangat besar dan hidup sangat menderita tanpa uang. Bahkan suatu saat, putrinya meminta dibelikan roti pada tukan roti pun ia tak punya uang samasekali. Ia sedih dan berkata,” anak suatu saat bapa bukan hanya membeli sebuah roti tetapi membeli sekalian satu gerobak roti,” ucap Jack sedih kepada putrinya. Selama tujuh tahun, Jack sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Selama 9 bulan, ia pergi mencari perkerjaan ke mana-mana tetapi tidak ada perusahaan yang menerimanya. Ia kemudian mendapatkan pekerjaan menjagi penjaga gudang dan ditawarkan menjadi penjaga sarang burung walet di Kalimantan. Namun, ia menolaknya karena gaji yang tidak jelas.

Ditengah situasi sulit itu, Jack mengalami tekanan yang sangat besar. Acapkali para depkolektor (penagih utang) mendatangi rumahnya untuk menagih hutang. Para depkolektor orang Ambon bahkan membawa pistol untuk mengancam dirinya. Menghadapi tekanan dan ancaman itu, ia tidak gentar, marah dan takut atau lari. Dengan jiwa besar dan rendah hati Jack menghadapi para depkolektor yang beringas tersebut. Ia memastikan kepada para depkolektor bahwa ia akan membayar seluruh utangnya ketika Tuhan sudah mengirimkan uang untuknya. Dengan senyum dan kerendahan hati, Jack meminta para penagih hutang itu juga harus berdoa agar Tuhan mengirimkan uang dan ia dapat membayar semua hutang. ”Kalau Tuhan sudah kirim uang ke saya, pasti saya bayar semua hutang. Kalian juga harus berdoa agar Tuhan kirim uang ke saya. Kalau Tuhan sudah kirim uang ke saya pasti saya lunasi semua utang. Tergantung doanya anda,” jawabnya. Mendengar jawaban Jack itu, depkolektor pun tertawa dan akhirnya pulang tidak menagih lagi. 

Melayani Tuhan dan Kembali Bangkit

Kehancuran demi kehancuran usaha dialami Jack. Ia merasa bahwa rupanya ia kurang berdoa, bersyukur dan melayani Tuhan. Ia lebih mengandalkan kekuatan dan kesombongan diri ketika sukses dalam berusaha. Karena mengandalkan kekuatan dan kesombongan diri maka semua rejeki yang diberikan Tuhan diambil kembali. Menyadari itu, maka sekitar tahun 2007,  ia bersama sang istri mulai melayani Tuhan. Keduanya menjadi pewarta firman Tuhan berdoa membebasan orang –orang sakit karena menggunakan ilmu hitam. Salah satunya adalah mendokan para pasien yang sakit di Rumah Sakit Sumber Waras.

Selain melayani firman Tuhan kepada sesama, Jack bersama istrinya tekun dan kusuk dalam doa tepat jam 12 setiap malam. Dalam doa, Jack mengobrol dengan Tuhan dan berkeluh-kesah tentang nasibnya. Ia mengeluh dirinya yang sudah bekerja keras tetapi terus mengalami kegagalan, dan banyak orang yang tidak bekerja keras tapi diberi kehidupa baik oleh Tuhan. “Tuhan, orang lain tidak bekerja keras kok bisa hidup baik, tidak berdoa kok mereka bisa sukses. Saya ini sudah kerja keras banting tulang kok gagal terus. Masa saya punya pendidikan kok susah sih?” Tanya Jack berkeluh kesah pada Tuhan.

Diakui Jack, setelah ia berkeluh-kesah kepada Tuhan, ia kemudian mendengar bisikan Tuhan,” Kamu punya apa? Kamu punya nafas milik siapa? Mendengar pertanyaan Tuhan itu ia terkejut. Karena saat itu, ia tidak punya apa, maka Jack menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa. Rupanya Tuhan marah kepada Jack yang tidak punya apa-apa tetapi masih merasa sombong. Dalam doanya, ia berjanji kepada Tuhan tidak akan sombong dan tidak mau berhutang lagi. Dengan penuh harap, ia meminta Tuhan memberikan order dan modal agar ia dapat kembali bangkit membangun usaha.

Doa Jack dan istrinya terkabul. Tuhan memberikan rahmat dan kemurahan mereka, dan rejeki pun mengalir deras. Ia kemudian dapat kembali mendirikan perusahaan baru bernama PT. Krisjaya Anugerah Sejahtera. Perusahaan yang berada di Tanggerang Selatan tersebut memproduksi kursi khusus untuk kantor, bus, kereta api, auditorium, dan kursi bioskop seluruh Indonesia. Selain di dalam negeri, kursi-kursi tersebut juga dikirim ke luar negeri. Selain kursi-kursi empuk itu,  PT. Krisjaya juga memproduksi kursi dan meja untuk sekolah, gereja dan susteran untuk wilayah Jabodatabek. Alhasil, Jack berhasil membayar semua hutang pada tahun 2012 dua tahun setelah usahanya berjalan. Ia bersama istri dan anaknya pun bebas dari belenggu penderitaan hutang.

Jack pun tampil kembali sebagai seorang pengusaha sukses, yang juga sebagai seorang pewarta dan pekerja kemanusiaan yang menyelamatkan begitu banyak anak-anak NTT yang datang mencari kerja di Jakarta. Betapa tidak, sebagian besar karywan yang telah bekerja bertahun-tahun di PT. Krisjaya adalah putra-putri NTT yang rata-rata berpendidikan rendah bahkan putus sekolah. Ia menerima mereka dengan penuh ikhlas dan cinta kasih. Sekitar 60-an orang orang NTT tersebut, ia terima dan ia bina menjadi karywan-karyawan tangguh pekerja keras dan ulet serta penuh diplin. Ia juga memberikan pembinaan kerohanian setiap hari dengan mendorong mereka harus hidup dalam doa dan rajin membaca Kitab Suci (Alkitab). 

Jack bukan hanya seorang pebisnis yang mengedepankan provit semata. Ia adalah seorang pebisnis tangguh, dan petarung sejati yang unik dan langka. Suatu saat, ada suster ingin membeli kursi-kursi miliknya. Ketika sang suster menanyakan harga kursi. Jack menjawab bahwa kursi-kursi tersebut boleh diambil saja alias gratis. “Saya bilang ambil saja. Kalau ada duit tolong bantu kami, tetapi kalau tidak ada duit bayarnya pake doa saja karena gereja susteran punya Tuhan,”kata Jack.

Perusahaan Krisjaya terus berkembang. Ketika istri dan anaknya sibuk melayani jemaat di beberapa tempat di Jakarta, Jack tetap sibuk bekerja keras di perusahaan bersama para karyawan. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, ia sudah memproduksi ratusan ribu  kursi. Bahkan saat ini, ia sedang memproduksi kursi untuk 20 bioskop yang sedang dibangun di seluruh Indonesia. 

Dari pengalaman panjang jatuh bangun dalam dunia usaha, Jack mengatakan bahwa dalam berusaha semakin banyak tantangan, level iman harus ditingkatkan. Menghadapi beragam tantangan, kekuatan spiritual sangat penting. Banyak perusahaan yang memproduksi kursi, tetapi PT. Krisjaya adalah satu-satunya di Indonesia yang memproduksi kursi untuk bioskop di seluruh Indonesia. Dan untuk itu, ia merasa bangga dan bersyukur serta terus berdoa agar bisnisnya tetap memberikan pelayanan terbaik dan dipercaya.

“Dalam pertandingan sepakbola ada waktu 2 x 24 menit. Baru menit-menit awal kita terpukul dan kita seolah sudah mau mati. Kita hampir putus asa karena serangan lawan. Ternyata. ketika menit-menit terakhir (the last minutes) kita berhasil menciptakan goal. Artinya, jangan pernah putus asa dalam berdoa dan berjuang. Yang penting adalah goal! Tuhan selalu hadir di menit-menit terakhir. Jadi berilah waktu untuk Tuhan. Dan berkat dari Tuhan harus berikan juga kepada orang lain. Jangan bermimpi sukses kalau kita tidak punya waktu untuk Tuhan dan tidak memberi berkat kepada orang lain.” (Jack Bouk).

*Penulis: Jurnalis dan Aktivis, tinggal di Kupang dan Jakarta (Nomor Kontak: 0812 1227 5922)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi