Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Menjadi Kaya dan Menjadi Sejahtera Ada Ilmunya

7 min read

Doktor Prudensius Maring (Istimewa/bungkornell)

Oleh: Kornelius Moa Nita,S.Fil

Lahir dari rahim desa dengan kehidupan yang sederhana, mendorong ia harus menjadi seorang sarjana pertanian. Ia merasa yakin dengan menjadi sarjana pertanian akan membantu kaum petani melalui keilmuan yang digeluti. Mimpi besarnya kemudian terwujud, ia bukan hanya menjadi seorang sarjana pertanian, tetapi ia pun berhasil meraih gelar doktor antropologi. Ia kemudian menjadi peneliti pertanian,PNS, dosen Politani Kupang dan dosen Antropologi di Universitas Budiluhur dan Universitas Indonesia-Jakarta.”     

Dr. Prudens Maring lahir di Desa Kloangpopot, Kabupaten Sikka. Ia lahir dari pasangan keluarga petani Josef Djati dan Yustina Bura Djati. Prudens bertumbuh menjadi seorang anak petani desa dalam keterbatasan. Ayahnya yang hanya mengenyam Sekolah Rakyat (SR)  tak mau Prudens buta huruf. Ia memasukan Prudens di SD Kloangpopot agar Prudens kelak menjadi anak yang cerdas dan berguna bagi orang tua dan masyarakat. Prudens kecil pun mengenyam pendidikan dasar hingga tamat pada tahun 1981.

Setelah tamat SD, Prudens kecil yang mulai bertumbuh menjadi remaja melihat dan mendengar bahwa anak-anak yang sekolah di seminari ketika pulang ke kampung terlihat sangat bersahaja dan dikenal cerdas serta sangat dihargai warga. Melihat itu, Prudens terobsesi masuk ke seminari agar bisa menjadi pintar dan kelak menjadi orang baik. Ia kemudian pergi mendaftarkan diri di SMP Seminari Lela yang terletak cukup jauh dari desanya. Ia diterima dan masuk asrama seminari bersama teman-temannya.

Kehidupan sehari-hari di seminari yang penuh disiplin dalam belajar dan berdoa, membentuk kepribadian Prudens menjadi remaja yang tekun, disiplin, dan sederhana. Masuk seminar adalah pilihan yang sulit karena waktu itu seleksi masuk seminari tidak mudah. Tidak semua anak petani mudah masuk ke seminari. Oleh karena itu, Prudens merasa bangga dan benar-benar memanfaatkan waktu untuk belajar agar bisa bersaing dengan rekan-rekannya. Ia kemudian berhasil menamatkan pendidikan di Seminari Lela dan meraih ijasah SMP pada tahun 1983/1984. 

Setelah tiga tahun belajar di Seminari Lela, Prudens pergi ke Kefamenanu. Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bertemu kakak kandungnya. Ia ingin meminta bantuan sang kakak agar ia bisa melanjutkan pendidikan di  SMA Seminari Lalian di Belu, Kabupaten Atambua. Ia ingin mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pasalnya, trend kala itu, anak-anak IPA adalah golongan anak-anak yang pintar. Karena di SMA Seminari Lalaian tak ada jurusan IPA, yang ada hanya jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), maka Prudens kemudian pergi ke Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) untuk masuk SMA di Kefamenanu pada tahun 1984. Ia kemudian sekolah di SMA Kefamenanu hingga tamat dan meraih ijasah pada tahun 1987.

Tamat SMA, sang kakak mendorong Prudens menjadi seorang dokter, dan memintanya pergi ke Pulau Jawa mendaftarkan diri pada Universitas Negeri Solo, Jawa Tengah. Prudens pun pergi ke Solo sesuai arahan sang kakak. Namun sampai di Solo, Prudens tak berhasil ikut test di Universitas Negeri Solo. Ia kemudian ke Yogyakarta dan masuk ke perguruan tinggi swasta, yaitu Institut Pertanian. Karena tertarik dengan organisasi PMKRI, maka Prudens muda juga bergabung dan terlibat aktif dalam kegiatan PMKRI di Yogyakarta.. Ia akhirnya tamat dari Institut Pertanian pada tahun 1992 dan menyandang gelar sarjana pertanian. 

Setelah tamat kuliah, Prudens pulang kampung. Ia kembali ke Maumere ketika Gempa Bumi Tektonik dan Gelombang Tsunami melanda Kabupaten Sikka dan Pulau Flores pada tahun 1992. Prudens mengabdi di Yayasan Pendidikan Masyarakat (Yaspem) pada tahun 1992, dan terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan untuk membantu para korban gempa bumi. Setelah bekerja di Yaspem selama 3 tahun, pada tahun 1995, Prudens berangkat ke Kupang untuk bekerja di BPPT Naibonat karena memiliki ijasah sarjana pertanian. Ia bekerja di sana sebagai peneliti pertanian. 

Suatu saat, di kala Prudens tengah bekerja di BPTP Naibonet, ia mendapat tawaran dari Politani Kupang (Dulu masih bergabung dengan Undana) untuk menjadi dosen. Ia pun mengajar di Politani sambil berproses untuk diangkat menjadi dosen PNS. Ketika ia belum seratus persen diangkat menjadi dosen PNS,  ia mendapat tawaran beasiswa studi S2 dari Ford Foundation yang kala itu bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI). Namun, beasiswa S2 dari Ford Foundation itu di bidang Ilmu Antropologi. Meski tak sesuai dengan kesarjanaannya (pertanian), ia akhirnya mengambil tawaran S2 dan mulai studi di Universitas Indonesia. Di Universitas Indonesia adalah momen pertama ia bersentuhan dengan Ilmu Antropologi. Prudens menyelesaikan studi S2 nya pada tahun 2000, tiga tahun setelah ia diangkat menjadi PNS.

Ia bertekad kuat melanjutkan studi program doktor Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia. Mimpinya terwujud, ia mendapatkan kembali beasiswa dari Ford Foundation. Ia pun pergi ke Universitas Indonesia untuk studi Antropologi dengan penuh optimisme. Ia akhirnya menyandang gelar Doktor Antropologi pada tahun 2008 dan kembali ke Kupang untuk meneruskan tugasnya sebagai dosen PNS.

Selama kuliah dan selama menjadi dosen, Prudens tak hanya di kampus semata. Ia juga  terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, penelitian, kajian dan riset di berbagaai provinsi dan kabupaten di Indonesia.  Dari berbagai kegiatan tersebut, Prudens bertemu dan berkomunikasi dengan para akademisi, pejabat, aktivis dan juga berbagai masyarakat dari latarbelakang budaya, suku, agama dan golongan yang berbeda.  

Setelah 4 tahun lebih menjadi dosen di Politani Kupang, pada tahun 2013, Prudens mutasi ke Jakarta. Ia mengajar di Universitas Budi Luhur Jakarta di Fakultas Komunikasi, Ilmu Metode Penelitian Kualitatif dan Perubahan Sosial dan Pancasila dan Kewarganegaraan, baik di program sarjana maupun pascasarjana.

Sebagai seorang akademisi, ia tak hanya mengajar semata, tetapi juga membangun hubungan yang baik dengan berbagai jaringan untuk melakukan penelitian, kajian, traning dan advokasi sumber daya alam. Ia juga menjadi pembicara dalam berbagai seminar, lokakarya, kuliah umum dan menulis berbagai masalah aktual baik di berbagai media massa dan jurnal serta menulis buku. Salah satu buku yang ia tulis adalah Belajar Itu Proses Kreatif (Pengalaman Bermakna Bersama Anak Prasekolah Hingga Perguruan Tinggi). Selain itu, masih ada beberapa karya tulis (buku) yang saat ini sedang ia garap.

Menurut Prudens, apa yang ia raih saat ini adalah buah dari kerja keras, ketekunan dan kesederhanaan dalam berjuang. Sejak kecil, kedua orang tuanya bertekad kuat seluruh anak-anak mereka harus sekolah. Oleh karena itu,  kedua orang tuanya bekerja keras agar semua anak-anak, termasuk Prudens mempunyai masa depan yang lebih baik dari mereka. Josef  Djati sangat menanamkan kedisplinan yang tinggi, semangat kerja keras pantang menyerah, dan hidup dalam kesederhanaan tanpa pesta-pora. Ketika banyak keluarga (orang tua) di kampungnya ramai mengadakan pesta Sambut Baru, Ayah dan ibu Prudens tidak pernah membuat pesta Sambut Baru. Mereka hanya merayakannya dalam kesederhanaan. Karena menurut pandangan kedua orang tuanya, lebih baik menyimpan uang untuk anak-anak sekolah dari pada menghabiskannya untuk pesta-pora. Bagi Prudens, menjadi kaya dan menjadi sejahtera semua ada ilmunya. Untuk itu, hidup harus ada perencanaan.

Anak-anak NTT Mampu, Jangan Malu Jadi Petani

Sebagai anak petani, Prudens merasa bangga karena dari orang tua petani desa, ia bisa menjadi seorang doktor melalui sebuah proses yang panjang. Ia membuktikan diri bahwa meskipun hanya anak petani kecil, tetapi ia bisa menjadi dosen di beberpa perguruan tinggi terkemuka, seperti Politani Kupang, Budi Luhur dan Universitas Indonesia di Jakarta. Ia memberikan motivasi yang tinggi kepada mahasiswa dan mahasiswinya agar tak malu menjadi petani untuk mengolah lahan-lahan di desa.

Sebagai anak petani, ia juga berharap agar dunia pertanian di NTT semakin hari harus semakin maju dengan sistem perencanaan yang baik, agar kesejahteraan anak-anak petani bisa tercapai. Dahulu orang tua petani di desa tak mempunyai pendidikan khusus pertanian, mereka hanya bercocok tanam secara tradisional saja. Para penyuluh pertanian ada dimana-mana, tetapi mereka hanya menjajalkan teknologi saja, ya ada traktor, teknik bercocok tanam modern, ada pupuk dan lain-lain. Pertanyaannya, mengapa petani belum sejahtera? Hal itu karena  semua program hanya dijejalkan kepada para petani.

Menurutnya, yang harus ditanamkan adalah sistem perencanaan dalam keluarga petani dan dalam kelompok-kelompok petani. Dimana setiap keluarga dan setiap kelompok petani harus mempunyai tujuan yang jelas ke depan. Satu tahun  atau dua tahun atau tiga tahun ke depan mereka mau jadi apa? Lalu bagaimana cara berjalan menuju ke tujuan itu. Hal itu yang tidak diajarkan, sehingga pertanian di NTT hingga kini adem-adem saja atau belum berkembang pesat seperti di daerah lain. Oleh karena itu, ke depan, generasi muda petani harus disiapkan menjadi petani-petani moderan yang mempunyai sistem perencanaan yang baik. Dan untuk itu, peran dunia pendidikan dan pemerintah sangat dibutuhkan.

“Memang masih ada image orang takut masuk lumpur, takut masuk kebun dan takut masuk hutan. Akhirnya anak-anak muda lebih memilih jurusan pendidikan yang lain. Setelah itu mereka sangat banyak sudah meninggalkan kebun dan pergi merantau ke luar daerah. Ini sebuah fenomena yang sangat berbahaya bagi masa depan pertanian NTT,” kata Prudens merenung.

Memberi motivasi kepada kaum muda, Prudens mengaku optimis dengan kaum muda sekarang karena mereka memiliki kesempatan dan peluang yang jauh lebih besar dengan generasi tempo dulu. Ia menolak keras ketika ada pihak yang mengatakan anak-anak NTT tidak mampu atau bodoh. Menurutnya, stigma buruk itu tidak benar karena faktanya banyak putra-putri NTT sukses di Jakarta dan di berbagai daerah karena kecerdasan, ketekunan dan terkenal memiliki kompetensi yang handal dan dapat bersaing. “Apa sih yang kurang dengan kecerdasan anak NTT. Coba datang saja ke Jakarta, di berbagai lembaga pendidikan, partai politik, pers, perusahan-perusahaan, bisnis dan pemerintahan dan lain-lain pasti ada orang NTT. Dari segi kemampuan ya kita punya,” ungkapnya.

Meskipun sudah berkembang, menurut Prudens, lembaga-lembaga pendidikan di daerah harus lebih fleksibel, inovatif dan kreatif. Tentunya,  sarana infrastruktur harus terus dibangun di NTT, terutama sekolah dasar (SD), karena paling banyak bangunan SD yang sampai saat ini masih rusak. Padahal, SD sangat penting untuk menjadi dasar pembentukan seorang anak manusia.

Selain itu, untuk mendorong anak-anak NTT memiliki masa depan ekonomi yang sejahtera, maka dunia pendidikan di NTT harus mulai menerapkan pendidikan kewirausahaan. Pasalnya, di NTT masih sangat kurang anak-anak NTT terjun ke dunia usaha. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus melihat kewirausahaan sebagia peluang ekonomi masa depan, jangan hanya menunggu menjadi PNS. Mahasiswa dan mahasiswi NTT harus dibekali dengan pendidikan  dan pelatihan kewirausahaan dan diberikan kesempatan magang. Selanjutnya ketika pulang magang mereka harus mulai membangun usaha ekonomi mandiri melihat peluang, agar tidak lagi menjadi korban dari perdagangan manusia di masa mendatang.

*Penulis: Aktivis dan jurnalis, tinggal di Jakarta dan Kupang

1 thought on “Menjadi Kaya dan Menjadi Sejahtera Ada Ilmunya

  1. Profisiat doi Prudens untuk perjuangan yang gigih merai doktoral. Kesuksesan dan kegagalan setiap manusia berasal dari Allah. Bagi orang2 muda ikutlah teladan baik bapa Prudens,” gantungkanlah cita2mu setinggi langit, Tuhan akan melengkapinya. Salam sehat…. Doaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi