Sen. Des 6th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Sepakbola Adalah Rupiah, Anak NTT Mengejar Mimpi Seperti Lionel Messi dan Kristiano Ronaldo

7 min read

Pemain bola asal Alor, Marselinus Fantuni, ketika bermain bola di Manchaster United pada 2015 lalu. (foto:pengawal.di)

Yabes Roni, pemain tim nasional kelahiran Alor, NTT. (Foto: Baliunited)

Si kulit bundar atau bola kaki bagi rakyat NTT bukan barang baru. Benda mati berbentuk bulat yang di dalamnya diisi dengan angin tersebut sudah sangat familiar dengan orang NTT, dari anak kecil sampai orang tua. Bagi anak-anak di kampung yang tak bisa membeli bola karet, mereka hanya puas dengan bola plastik seharga Rp10.000 atau menyulamnya dengan kelopok pisang kering yang dibentuk bulat menyerupai bola. Bagi anak-anak kota yang bisa membeli bola kaki seharga Rp250.000, dapat menikmatinya di lapangan hijau, sedangkan anak-anak di desa yang tak punya lapangan sering menjadikan kali mati atau halaman rumah untuk bermain bola. Bola kaki telah menjadi permainan rakyat yang dicintai dan digandrungi.

Bola kaki atau sepakbola terus berkembang dari masa ke masa. Permainan rakyat yang murah-meriah ini dapat disaksikan di seluruh wilayah kabupaten di NTT. Mulai dari ujung Pulau Sumba, ujung Pulau Timor, Sabu Raijua, Rote, Alor hingga ujung Pulau Flores, bola kaki sangat dicintai anak-anak muda. Bagi yang bisa beli sepatu dapat bermain menendang bola dari balik sepatunya menghindari batu, tanah dan duri, tetapi bagi anak-anak yang tak punya duit, sudah biasa bermain dan berlari ke sana-ke mari di atas batu, tanah kasar dan rumput berduri tanah lapang yang garang.

Bagi anak-anak pantai, lebih nyaman berlari di atas butiran pasir di tepi pantai penuh suka cita. Yang menyulitkan adalah anak-anak desa di pegungunungan penuh hutan belukar, mereka sulit bermain bola karena tidak ada tanah lapang. Meski tak bertemu para bintang sepakbola dunia, mereka terkadang bergaya seolah –olah seperti Pele, Maradona, Lionel Messi dan Ronaldo ketika bermain bola. Mereka sangat terobsesi menjadi bintang sepakbola yang terkenal di seluruh dunia dan kaya raya. Meskipun itu bagai ‘punguk merindukan bulan.’

Seiring waktu berjalan, sepakbola terus berkembang. Setiap kabupaten mulai membangun lapangan sepakbola untuk anak-anak muda bermain bola mengembangkan hobi dan bakat. Pada umumnya lapangan yang dibangun masih di atas tanah lapang yang sangat jarang ditumbuhi rumput hijau. Jangankan rumput hijau, letaknya pun kadang tidak rata dan tiang gawang hanya terbuat dari kayu yang dicat putih tanpa jaring. Selain oleh pemerintah, banyak lapangan bola dibangun oleh sekolah-sekolah, terutama sekolah seminari Katolik. Begitu banyak lapangan bola milik sekolah seminari yang dijadikan anak-anak muda pencinta bola berlaga.

Banyaknya lapangan bola, membuat anak-anak muda NTT lebih bernafsu bermain bola. Dengan adanya lapangan bola, banyak turnamen mulai di gelar, baik pertandingan antar desa, antar kecamatan dan antar kabupaten yang digelar setiap tahun menjelang HUT RI atau HUT kabupaten dan Provinsi, seperti El Tari Cup yang diluncurkan Gubernur NTT, Almarhum El Tari. Dengan penampilan alakadarnya, berbagai kesebelasan yang bertanding, membela mati-matian kesebelasannya untuk merebut hadiah dan piala dari panitia. Acapkali karena fanatisme besar atas klubnya, sepakbola tidak lagi menjadi budaya cinta, tetapi menjadi medan perang tanding antar klub lantaran semangat spotivitas, obyektivitas dan solidaritas kadang diabaikan. Tak sedikit kasus-kasus kekerasan yang terjadi di arena pertandingan yang berujung perkelahian, baik antar pemain, pemain menyerang wasit, dan antar penonton dengan pemain, maupaun antar penonton dengan penonton. Panorama klasik ini masih sering dijumpai dalam berbagai turnamen, baik di seluruh NTT maupun yang digelar orang-orang NTT di luar NTT yang mencintai si benda mati berkulit bundar tersebut.        

Ada sisi kelam, ada sisi terang. Dunia sepakbola NTT memang masih terus berproses membentuk karakter, warna dan nilai. Dari tahun ke tahun pasang surut terus terjadi. Terkadang sebuah turnamen berakhir dengan baik alias damai dan aman, dan kadang kala sebuah turnamen berakhir ricuh dan dendam berkepanjangan yang berugikan banyak pihak.  Dampak paling fatal, turnamen tersebut tidak digelar lagi di tahun berikutnya atau klub-klub yang terlibat kericuhan dicoret atau didenda (sangsi) pihak penyelenggara turnamen.

Fakta kontras tersebut di atas, masih menjadi catatan buram dari perjalanan sepakbola NTT. Dimana, kedewasaan dan kematangan emosional masih harus terus dibina, semangat sportivitas, semangat fair play, dan semangat solidaritas masih harus terus dipupuk. Bukan itu saja, tetapi profesionalisme oficial, panitia dan suporter dalam pertandingan pun tak bisa diabaikan. Acapkali, pihak panitia menjadi pemicu kericuhan akibat wasit yang dinilai memihak, atau juga suporter fanatik yang memprovokasi kericuhan saat laga digelar. Memang kita masih butuh proses panjang menggapai sepakbola prestasi, berkualitas dan mencetak rupiah.  

Meski begitu, sisi terangnya dimana dari waktu ke waktu, dari lapangan bertanah kering dan berbatu-batu di bumi NTT yang bergelombang bukit dan gunung telah melahirkan pemain-pemain bola yang kemudian menjadi bintang lokal di berbagai klub di NTT. Ada dari PS Ngada, Persami, Perse Ende, PS.Flotim, Kupang, dan lain-lain. Di era sepakbola modern, NTT cukup terkenal karena lahir beberapa pemain berbakat dari Alor yang berhasil menjadi pemain PSSI yaitu Yabes Malaifani, Rinaldi Sam, dan Aditya Spou. ( Baca Viktorynews.com: SSB Alor Sumbang 3 Pemain Timnas).

Selain ketiga pemain muda tersebut, ada pula Marselinus Fankuni si putra Alor yang telah menembus sepakbola internasional. Marsel sudah pernah bermain di Markas The Red Devil (Setan Merah), Manchester United di Old Traford pada 2015 lalu. (Baca:Pengawal.Id; Pesepakbola Terbaik  Asal  Alor-NTT Kembali Berlaga di Level International). Fakta mengejutan lejitnya putra-putra terbaik dari Alor tersebut seketika memecahkan kesunyian prestasi sepakbola NTT. Begitu banyak anak muda tergila-gila pada sang bintang muda, Yabes yang bermain bola di Timas Indonesia. Publik NTT pun sangat bangga  dan gembira karena putra NTT dapat mengharumkan nama NTT di pentas sepakbola bergengsi nasional.  

Bupati Alor, Drs. Amon Djobo sangat senang dan bangga melihat putra-putra Alor yang mulai berprestasi di dunia sepakbola nasional dan internasional. Dahulu Alor samasekali tidak punya nama, tetapi sekarang sudah punya nama di dunia sepak bola NTT dan Indonesia. Ia mengaku yakin kalau sistem seleksi dilakukan secara berkelanjutan, maka masih banyak pesepakbola-pesepakbola muda dari NTT akan bertumbuh dan berkembang menjadi pemain nasional. “Saya punya keyakinan masih banyak anak NTT punya skill yang bagus untuk menjadi pemain berkualitas nasional. Hanya saja belum dapat kesempatan untuk ikut dalam seleksi tersebut,” kata Amon gembira. Ini baru Alor, belum lagi dari kabupaten lainnya, seperti Ngada, Ende, Manggarai dan Sikka yang punya anak-anak muda yang memiliki skill dan stamina bagus dalam mengolah si kulit bundar.

Wujudkan Mimpi Anak Muda NTT

Pendiri Sekolah Sepakbola di Perbatasan NTT, Ir. Farry Djemi Francis.(Foto: Jawapos.com)

Jika Maluku punya petintu juara dunia, seperti Ellias Pical dan Nico Thomas, jika Papua menjadi ikon kemajuan sepakbola Indonesia Timur, mengapa NTT tidak bisa menjadi gudang pemain bola yang mencetak pemain-pemain berkelas nasional? Perlahan namun pasti, mimpi besar anak-anak muda NTT kini mulai samar terlihat. Anak-anak NTT mempunyai fisik dan stamina yang baik, dan tinggal dipoles skill dalam mengolah si kulit bundar.

Mewujudkan mimpi besar anak-anak NTT itu, maka patut diberikan apresiasi yang tinggi kepada Anggota DPR-RI, Farry Djemi Francis yang melakukan terobosan dengan mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang dilengkapi dengan fasilitas lapangan bola berstandar nasional di Kabupaten Malaka. Gebrakan Farry Francis itu telah memantik adrenalin anak-anak NTT untuk mengolah bakat menjadi pemain bola profesional. Gerakan Farry Francis yang mendatangkan pelatih-pelatih kelas nasional, telah membangkitkan putra-putra NTT lebih percaya diri dalam berlatih dan bertanding dengan skill yang lebih baik.    

Selain SSB gebrakan Farry Francis, saat ini NTT juga mulai membangun stadion-stadion bertaraf nasional. Selaian stadion Oepoi yang terus dibenahi, di Kabupaten Ende telah dibangun Stadion GOR Marilonga yang bertaraf nasional yang bisa dipakai bermain bola siang dan malam hari. Gor Marilonga ini dibangun oleh Bupati Ende, Marsel YW. Petu. Selain itu, kabar tersiar, bahwa Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka juga akan membangun stadion bertaraf nasional. Di Flores Timur dibangun di Lewolere dan saat ini sedang dalam proses tender, dan di Sikka di bangun di GOR Paulus Samador, Kota Maumere, yang masih dalam tahap rencana, meskipun di era Bupati Yoseph Ansar Rera desainnya sudah ada. Publik berharap, Bupati Roberto Diogeo Idong dan Ketua DPRD Donatus David dapat melanjutkannya untuk memajukan sepakbola di Sikka.

‘Sepakbola adalah magnet rupiah’

Stadion Marilonga, Ende. (Foto:kilastimor)

Sepakbola bukan hanya sekedar hobi olahraga, tetapi dapat menjadi pekerjaan pokok yang mencetak rupiah guna mengatasi penggangguran dan kemiskinan. Sepakbola dapat mengubah hidup anak-anak muda NTT meraih prestasi dan ekonomi yang lebih baik, karena sepakbola dapat menjadi lapangan pekerjaan sebagaimana di Eropa Barat, Eropa Timur dan Amerika Latin yang terkenal dengan perusahaan-perusahaan sepakbola raksasa. Di perusahaan-perusahaan itu, para pemain digaji dan dijamin hidupnya selama dia berkarier di klub tersebut. Pekerjaan pokok pemain bola adalah berlatih dan bertanding, dari situlah ia hidup merubah masa depan yang cemerlang dengan harta berlimpah.  Sebut saja, Ronaldo dan Lionel Messi yang kini menjadi orang kaya karena sepakbola.

Disain Gelora Samador Maumere, Kabupaten Sikka. (By:donarakian.mt)

Selain bermanfaat menghidupkan ekonomi pemain bola, sepakbola menjadi mesin pencetak uang bagi Pemerintah Daerah, Sponsor, Panitia, Wasit, Oficial, Pengelola Gor, Aparat Keamanan, Media Masa, pedagang makanan dan minuman, pedagang kaos, dan lain sebagainya. Sepakbola memang seperti magnet yang menarik begitu banyak orang masuk ke dalam untuk memetik rupiah. Dalam sebuah turnamen yang berlangsung satu dua bulan, ada begitu banyak uang yang mengalir keluar dan ditangkap oleh banyak orang. Uang itu menghidupkan banyak warga. Untuk itu, sudah saatnya, ‘dunia sepakbola NTTbangkit menjadi mesin pencetak rupiah.’ Selain SSB yang telah didirikan Fary Francis, perusahaan-perusahaan baru sepakbola NTT pun harus didirikan baik oleh pemerintah dengan dana APBD maupun pihak swasta dengan dana sponsor.

Klub-klub sepakbola NTT saat ini tidak bisa hanya menjadi klub musiman. Ada iven musiman dan sporaldis ada pertandingan, tetapi harus terus menerus disiapkan liga-liga kontinyu yang membangun kerja sama dengan PSSI maupun pihak asing pemilik modal. Anak-anak NTT mempunyai bakar sepakbola dan sudah dibuktikan. Hanya saja, minimnya perusahaan sepakbola, minimnya akses, dan minimnya dana membuat begitu banyak anak muda berbakat terpaksa gantung sepatu dan pulang kampung menjadi tukang ojek atau kuli bangunan. Jika NTT ingin menjadi gudang pemain bola seperti Papua, seperti Brasil dan Argentina, yang kaya seperti Lionel Messi dan Ronaldo, maka sekaranglah saat yang tepat untuk berjuang keras mewujudkan mimpi besar anak-anak NTT menjadi pemain bola profesional di tingkat nasional dan internasional. (Penulis: Kornelius moa nita/NBC)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi