Kam. Apr 15th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Tenun NTT Go Internasional, Selayang Pandang Motif dan Proses Pembuatan

4 min read

Paris Fashion Week 2018 (Sumber: matakota.id)

JAKARTA, NTTBANGKIT.COM (NBC) – Nusa Tenggara Timur (NTT), selain merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan keindahan alam, juga kaya akan motif kain tenun. Menenun sendiri diketahui sebagai kegiatan membuat sehelai kain dengan cara memasukkan benang pakan secara horizontal pada benang-benang, yang biasanya, telah diikat dan dicelupkan ke pewarna yang dibuat dari akar dan pepohonan.

Sejak dahulu, masyarakat Timor, Sumba, Flores, Solor, Pantar, Lembata, Adonara, Rote, dan Sabu dikenal oleh bangsa Eropa di bidang produksi kain tenun tradisional. Para pedagang hingga pejabat pemerintah kerap membawa sejumlah koleksi pribadi kain tenun ke Eropa. Bahkan, kini koleksi tenun tersebut banyak disimpan di museum-museum terkenal yang ada di Eropa dan Amerika. Hal tersebut juga turut membuat kain tenun semakin terkenal dan menjadi andalan NTT.

Pada September 2017, kain tenun asal NTT berhasil mengepakan sayapnya di kancah internasional. Untuk pertama kalinya tenun asal NTT tampil dalam pagelaran tunggal Couture New York Fashion Week. Keindahan tekstur kain khas tradisional yang dirajut ini merupakan hasil karya para pengrajin wanita dari NTT di bawah asuhan Rumah Pandai, lembaga non profit yang didirikan oleh desainer terkenal Kanaya Tabitha. Karya-karya yang ditampilkan dalam perhelatan tersebut juga mendapat sentuhan estetika desain dari Ibu Gubernur NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, yang juga merupakan seorang desainer busana tenun.

Julie Sutrisno Laiskodat (sumber: beritasatu.com)

Pada 27 Februari-6 Maret 2018, Julie berhasil membawa kembali kain tenun ke sebuah ajang pagelaran mode bergengsi di dunia, yakni Paris Fashion Week 2018 di Paris. Julie bersama LeVico (butik miliknya), menghadirkan 18 koleksi busana tenun yang telah dimodifikasi menjadi busana khusus musim dingin NTT dari Sabu, Rote, dan Alor.

Dilansir dari laman facebook LeVi Cobutik, sebanyak 18 koleksi busana tenun NTT yang telah dimodifikasi menjadi busana khusus musim dingin dibawakan oleh model – model internasional dari berbagai negara, Julie, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa koleksi busana tenun NTT ini cocok untuk digunakan semua etnis, serta tenun NTT cocok pula untuk dijadikan sebagai busana musim dingin di Eropa.

Bukan tanpa tema, Julie membawa tenun NTT dalam pagelaran yang mengambil judul “Heritage NTT”dibawahtema “Women Empowerment” dari Paris FashionWeek 2018. Ditampilkan di Intercontinental Le Grand Paris, Sabtu, 3 Maret 2018 pada pukul 19.00 waktu setempat, pagelaran ini sukses memukau mata pengunjung dengan koleksi busana tenun NTT yang dibawakan para model. Terlebih lagi, fakta bahwa tenun yang ada dibuat dengan tangan (handmade) oleh para perajin membuat decak kagum penonton semakin meninggi.

Karya Julie tersebut berhasil membuat para pengunjung terpukau dengan berbagai koleksi busana tenun NTT yang dibawakan para model internasional. Bahkan, pihak penyelenggara Paris Fashion Week mengungkapkan keinginannya untuk menampilkan kembali tenun NTT dalam dua ajang mode lain yang tak kalah spektakuler, yaitu London Fashion Week dan Milan Fashion Week. 

Jenis-jenis Tenun

Kegiatan menenun dikembangkan oleh setiap suku di Nusa Tenggara Timur secara turun-temurun, demi pelestarian seni tenun itu. Tenun bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur dipandang sebagai harta berharga milik keluarga yang bernilai tinggi.

Pasalnya, selain tingkat kesulitan dalam proses pembuatan, juga model motif tenun yang dihasilkan penenun. Tak heran, proses menenun itu menghasilkan harga kain yang cukup mahal. Beragam kain tenun NTT dijual hingga ratusan juta rupiah. Bahkan saking berharganya hasil karya tersebut, meski bekas pakai, seorang penjual kain tenun NTT bernama Niko tetap menjual kain atau busana tenun dengan harga baru.

Dahulu kala, kain tenun dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yakni sebagai busana biasa. Namun kemudian berkembang untuk kebutuhan adat, seperti upacara, tarian, perkawinan, dan pesta. Saat ini, kain tenun juga biasa digunakan sebagai selendang, sarung, selimut, hingga pakaian.

Proses tenun kain Ende (sumber: beritagar.id)

Masyarakat Nusa Tenggara Timur diperkirakan sudah ada sejak 3.500 tahun yang lalu. Kerajaan pertama masyarakat NTT berkembang pada abad 3 Masehi. Dan sejak itulah diperkirakan, masyarakat setempat sudah mengenal seni dan budaya, salah satunya adalah menenun.

Berdasarkan proses produksi, kain tenun yang ada di NTT terbagi menjadi beberapa jenis. Yaitu, tenun ikat, tenun buna, dan tenun lotis atau sotis atau songket.

Seperti namanya, tenun ikat memiliki proses pembentukan motif dengan cara pengikatan benang.  Di NTT, benang lungsilah yang akan diikat dan akan menghasilkan motif tertentu. Teknik dalam pembuatan kain tenun dengan cara menggabungkan benang secara memanjang dan melintang.

Proses tenun kain Sikka (indonesiakaya.com)

Sedangkan, proses tenun buna atau tenunan buna adalah menenun untuk membuat corak atau motif pada kain dengan menggunakan benang yang terlebih dahulu telah diwarnai, sehingga menghasilkan motif dengan berbagai warna yang begitu memikat mata.

Tenun lotis atau sering disebut dengan kain songket memiliki proses pembuatan yang mirip dengan tenun buna, identik dengan warna dasar gelap seperti hitam, coklat, biru tua, dan merah hati.

Perajin tenun biasa menggunakan pewarna alami seperti tauk, mengkudu, kunyit, dan tanaman lainnya. Namun di zaman modern, banyak perajin yang juga telah beralih menggunakan zat warna kimia karena banyak keunggulan. Yakni, bisa mempercepat proses pengerjaan, tahan luntur dan sinar, tahan gosok, serta warnanya pun beragam.

Di masyarakat NTT, motif tenun dapat mencirikan dari mana si pemakai berasal. Sebab, dalam motif tenun tergambar ciri khas suatu suku atau pulau. Motif di kain tenun merupakan wujud dari kehidupan masyarakat dan bentuk ikatan emosional yang erat dengan masyarakat tersebut. Masyarakat NTT begitu bangga dan senang menggunakan tenunan asal sukunya, dan sebaliknya mereka akan canggung dan malu jika menggunakan tenunan dari suku lain.

Tiap kerajaan, kelompok suku, wilayah dan pulau menciptakan sejumlah pola atau motif hiasan yang khas pada tenunannya. Kemudian diturunkan dengan cara mengajarkan kepada anak cucu mereka agar kelestarian seni tenun terus terjaga.

Tenun dari Sumba Timur, misalnya, memiliki motif tengkorak. Di Maumere, motifnya lebih menggambarkan hujan, pohon, dan ranting. Boleh jadi, motif-motif itu terinspirasi dari masyarakat zaman dahulu yang keluar rumah dan melihat alam sekitar, sehingga munculah motif alam tersebut. (Emild Kadju – Diolah dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi