Sel. Des 1st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Julie Laiskodat Kembangkan Tenun Ikat Flores

4 min read

Sejak dulu kala, kaum perempuan NTT di desa-desa hidup menyatu dengan ikat tenun. Dari ikat tenun menghasilkan kain sarung yang berfungsi sebagai pakain penutup tubuh, barang adat dalam urusan belis, dan selebihnya dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ikat tenun NTT dalam perkembangan saat ini kian terkenal di pasaran nasional dan internasional.  Sayangnya, hingga kini pemerintah daerah belum serius membuat hak cipta kain tenun produksi rakyat NTT.

Melihat fakta ini, Julie Laiskodat, salah satu pengusaha fashion show NTT yang juga Ketua Dekranasda NTT merasa tergugah. Ia perihatin karena cepat atau lambat ikat tenun hasil produksi NTT yang merupakan hasil karya cipta asli NTT ditiru, diproduksi di luar daerah dan diperdagangkan dengan lebel atau mark lain. Oleh karena itu, istri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ini bertekad memperjuangkan hak cipta bagi tenun ikat NTT agar tidak dijiplak dan diklaim sebagai hak cipta pihak tertentu.

“Saya merasa sedih, sudah puluhan tahun tenun ikat NTT belum memiliki hak patent. Padahal, tenun ikat NTT sudah sangat terkenal di luar daerah. Saya siap perjuangkan hak cipta tenun ikat NTT agar tidak dijiplak dan diklaim pihak lain. Adanya kemajuan teknogi dengan mudah ditiru orang lalu mereka klaim itu hasil karya mereka. Ini sangat berbahaya karena mencaplok kekayaan budaya asli NTT yang diturunkan nenek moyang kita,” kata Julie beberapa waktu lalu saat mengunjungi ibu-ibu penenun di Flores.

Dikatakan Julie, setelah lama bergelut dengan dunia tenun ikat NTT, dia kemudian mengetahui secara baik bagaimana rumitnya para penenun NTT menghasilkan sebuah kain tenun. Baginya, perempuan perempuan NTT adalah para seniman dan budayawan tulen. Meski mereka tidak sekolah (putus sekolah) tapi mereka memiliki dan menguasai secara baik bagaimana proses menenun. Hal yang unik baginya, mereka mampu merakit motif-motif yang indah dan langkah yang menggambarkan ciri khas daerah masing-masing. Jika keunikan budaya warisan leluhur ini kemudian dicaplok pihak lain, maka identitas ikat tenun atau tenun ikat NTT lama-lama pudar.

“Dari ujung Flores, Labuan Bajo hingga ujung Pulau Sumba, memiliki tenun ikat khas yang menjadi identitas daerah. Melihat dari motif, orang langsung tahu yang ini dari Sumba, Timor, Sabu, Alor dan Flores. Saya harus akui kehebatan ibu-ibu maupun remaja putri di desa-desa yang menjadi seniman dan budayawan yang mempertahankan budaya dari serangan budaya asiang yang kian merebak. Jadi saya sudah bertekad kuat untuk melindungi tradisi seni budaya tenun ikat tersebut dengan hak paten. Ini sudah menjadi komitmen saya sebagai sesama kaum perempuan yang mencintai tenun ikat asli NTT,” kata Julie.

Selain memperjuangkan hak paten bagi tenun ikat NTT, Julie juga menegaskan akan terus mendorong ibu-ibu di NTT memproduksi kain tenun untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga. Ia akan membantu berbagai kebutuhan yang diperlukan kaum ibu dalam menenun. Caranya, ia akan memberikan modal usaha bagi kaum ibu. Tentunya, bantuan itu ia akan berikan dalam bentuk kelompok. Dengan adanya modal usaha, maka kaum ibu tidak terlalu terbebani dalam membeli peralatan tenun yang dibutuhkan, seperti benang, pewarna dan alat menenun.

“Saya ingin kaum ibu NTT terus menenun, karena dari menenun bisa membantu meningkatkan ekonomi rumah tangga. Kain sarung yang dijual bisa dipakai biaya anak sekolah, belanja kebutuhan sehari –hari dan lain sebaianya. Oleh karena itu, saya mendukung penuh kaum perempuan/ kaum ibu di desa-desa dalam bentuk modal usaha. Itu supaya ibu-ibu tidak sulit membeli alat-alat untuk ikat tenun. Sumber dananya banyak, selain dari saya sendiri, dari pemerintah juga dari pihak-pihak jaringan saya,” kata perempuan gesit mempromosikan tenun ikat NTT di luar negeri ini.

Menjawab masalah pemasaran kain tenun, Julie berjanji akan membeli atau membantu memasarkan kain-kain tenun yang diproduksi ke luar daerah. Pasalnya, harga jual kain sarung di NTT tentu jauh berbeda dengan di luar daerah. Di luar, tanun ikat NTT banyak diminati, apalagi sudah berubah bentuk dari kain sarung ke bentuk jas, jaket, baju, dan lain-lain.

Dikisahkan Julie, ia sudah lama mendirikan Butik LeVico di Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan. Usaha ini, menurut dia, sebagai bentuk kecintaannya akan NTT. Di Butik LeViCo tersebut khusus menjahit dan menjual  sekaligus mempromosikan tenun ikat NTT. Sebagai seorang desainer, ia sangat kreatif dan inovatif memproduksi berbagai jenis baju, jas, sepatu, dan berbagai jenis lainnya dari kain tenunan NTT. Hal yang unik, semua kain  itu tidak ada yang terbuang. Menurutnya, menggunakan seluruh kain itu tanpa terbuang berarti telah menghargai hasil karya kaum perempuan NTT.

“Saya bangga dan sangat menikmati usaha ini. Berkat tenun ikat NTT saya diundang ke berbagai negara oleh para desainer untuk memamerkan atau ikut pameran (fashion show). Negara-negara tersebut, antara lain Singapura, Australia, Malaysia, Amerika, dan lain-lain. Dalam waktu dekat ini saya akan tampil di Kota Paris untuk mengikuti pameran di sana,” kata ibu tiga anak ini.

Dia mendorong perempuan NTT harus berani berjuang keras dengan memiliki usaha yang mandiri. Salah satu mesin usaha ekonomi itu ialah tenun ikat. Perempuan NTT tidak perlu merasa rendah diri atau malu karena menenun.

“Memang saat ini banyak kaum perempuan keluar daerah untuk pergi mencari kerja, tetapi masih begitu banyak perempuan yang menetap di desa melanjutkan menenun. Selain untuk ekonomi rumah tangga juga untuk mempertahankan seni budaya leluhur. Ini hal yang luar biasa dan harus terus dilestasikan,” tutupnya. (KorneliusMoaNita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi