Sab. Nov 28th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Webinar Pengembangan Ekonomi Kreatif NTT Oleh Akdhikartes Community dan Formapena Jabodetabek, Hadirkan Pembicara-pembicara Kompeten

6 min read

Back Ground Webinar pengembangan ekonomi kreatif dan inovatif berbasis kearifan lokal di NTT

NTTBANGKIT.COM, JAKARTA — Dalam rangka mengembangkan kesadaran akan pentingnya nuansa ekonomi kreatif dan inovatif berbasis kearifan lokal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Pasundan Bandung dan Universitas Mercu Buana Jakarta melakukan Webinar bersama Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, dengan mengusung tema, “Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Inovatif Berbasis Kearifan Lokal” pada Sabtu (18/07/2020) pukul 17.00 WIB.

Beberapa pembicara kompeten yang diundang dalam webinar tersebut, antara lain: Dr. Asep Dedy Sutrisno yang merupakan ahli teknologi pangan dari Universitas Pasundan, Dr. I Wayan Darmawa yang merupakan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Hannah Keraf yang adalah salah satu Founder Duanyam, dan Stella Monica yang adalah inisiator Adhikartes Community.

Webinar yang didukung oleh Adhikartes Community, Forum Mahasiswa dan Pemuda Ngada Jabodetabek (Formapena), dan Duanyam, tersebut dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, diikuti dengan foto bersama (Screen capture) antara Pemateri, Host, dan seluruh peserta webinar, dan dilanjutkan sapaan pembuka dari pembina Adhikartes Community Dr. Henni Gusfa yang adalah juga seorang peneliti senior dari Indonesian  Institute Corporate Governance dan merupakan Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Mercu Buana Jakarta.

Webinar dilanjutkan dengan pemaparan materi dari keempat narasumber yang dimulai dari Dr. Asep atau lazim disapa kang Asep.

Pria kelahiran Bandung, 10 Maret 1961 tersebut membawakan materi tentang implementasi teknologi pangan dalam menciptakan diversifikasi atau peragaman produk, dengan produk pangan sebagai titik fokus.

Screen capture webinar Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Inovatif berbasis Kearifan Lokal NTT

Kang Asep juga menunjukkan beberapa model teknologi yang dibuatnya bersama tim dalam menciptakan ragam produk di beberapa titik di Indonesia.

Auditor Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) tersebut juga mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa ia bersama tim ahlinya bisa berkunjung ke NTT melihat kemungkinan diversifikasi produk pangan lokal NTT bila pemerintah daerah setempat mengizinkan suatu waktu nanti.


Flyer webinar Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Inovatif Berbasis Kearifan Lokal

Tujuan dari diversifikasi produk ini, menurut Kang Asep, dimaksudkan agar berbagai produk bisa didesain sesuai dengan keinginan pasar yang notabenenya memiliki selera yang beragam. Semakin beragamnya produk yang dihasilkan dari bahan-bahan mentah yang terbatas, akan memperluas pangsa pasar dengan sendirinya. Dengan demikian, tentunya ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat kecil akan bertumbuh dan berkembang.

“Pastinya kita akan melakukan survei pasar terlebih dahulu, kemudian disinkronkan dengan produk-produk yang bisa dihasilkan dari bahan-bahan pokok kita. Soal mesin, jangan khawatir, punya kita lengkap. Soal SDM jangan takut, kita akan mendampingi masyarakat dan memberikan pelatihan-pelatihan teknis yang berguna dan bermanfaat dalam hubungan dengan diversifikasi produk dan marketing berbasis digital,” tutur Kang Asep yang adalah juga Dosen Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung.

Selanjutnya Kadis Parekraf NTT, Dr. I Wayan Darmawa berbicara tentang lanskap pariwisata, budaya, dan produk-produk Kearifan Lokal NTT sebagai motor penggerak ekonomi NTT, tentunya dalam hubungan dengan grand design Masyarakat Ekonomi NTT (MEN) di bawah kepemimpinan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wagub NTT Josef A. Nae Soi.

Dr. I Wayan juga mengatakan bahwa saat ini, destinasi-destinasi wisata NTT mulai berkembang secara perlahan, seperti Kawasan Wisata Labuan Bajo, dengan taman nasional pulau Komodo, yang mana saat ini tengah diproses untuk menjadi destinasi super prioritas, dan berbagai destinasi lainnya.

Ia juga menambahkan bahwa selama satu tahun terakhir ini, sudah ada beberapa destinasi baru di NTT yang dibuka oleh pemerintah provinsi bekerjasama dengan pemerintahan Kabupaten/Kota.

Dengan semakin banyaknya destinasi wisata, Kadis I Wayan tentunya berharap agar masyarakat NTT bisa mengambil bagian sebagai aktor ekonomi yaitu dengan menangkap peluang dari para pengunjung destinasi wisata dengan mendagangkan produk-produk lokal dan kerajinan tangan lokal.

Dalam hubungan dengan hal ini, tentunya Dr. I Wayan mengungkapkan bahwa salah satu yang menghambat adalah SDM.

“Kelemahan kita di NTT yang paling besar adalah SDM. Masyarakat kita belum memiliki SDM yang mumpuni. Tentunya untuk mengatasi permasalahan ini kami dari Pemprov mulai membuat beberapa komunitas dan melakukan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat,” tutur Dr. I Wayan.

Doktor tamatan Universitas 17 Agustus jakarta ini juga menambahkan bahwa pihaknya tentu membutuhkan bantuan dan dukungan dari para akademisi dan ahli teknologi.

“Untuk itu, kami dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT sangat mengharapkan dukungan dari berbagai pihak, khususnya para akademisi dan ahli teknologi untuk bisa ikut mendampingi masyarakat kami, sehingga kelemahan di bidang SDM bisa teratasi,” tutur Dr. I wayan dan menambahkan, “Kepada pak Asep dan teman-teman akademisi yang hadir dalam webinar ini, tentunya kami sangat berharap agar pertemuan ini bisa terus dilanjutkan ke tingkat yang lebih lagi, bila perlu para saudara dan saudari sekalian bisa mengunjungi NTT untuk mendukung segala potensi yang kami miliki.”

Menanggapi pernyataan Kadis I Wayan, Kang Asep mengatakan bahwa dirinya siap kapanpun diminta.

Anak Muda dan Masa Depan Ekonomi Kreatif

Setelah kedua pemateri menyampaikan pemaparannya, webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Umumnya pertanyaan yang dilontarkan para peserta berhubungan erat dengan UMKM dan home industri kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa mind set dan term of reference para peserta diskusi memang sepenuhnya terarah pada bidang ekonomi kreatif.

Pada termin kedua, Webinar dilanjutkan dengan sharing tentang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dari dua anak muda penggiat ekonomi kreatif, yaitu Founder Du’anyam, Hannah Keraf dan penggagas Adhikartes Community, Stella Monica.

Keduanya memiliki latar belakang pendidikan luar negeri, dimana Hannah Keraf sendiri merupakan anak muda NTT yang lulus dengan gelar B.B.A. dari Universitas Ritsumeikan di Jepang (2007 – 2011) dengan full beasiswa baik dari Ritsumeikan, maupun dari pemerintah Republik Indonesia.

Sedangkan Stella Monica merupakan anak Medan yang lama tinggal luar negeri, khususnya Australia dan memiliki beberapa sertifikat kompetensi yang berhubungan dengan dunia bahasa, komunikasi, dan bisnis.

Memulai sharingnya, Hannah Keraf memutar sebuah video singkat dengan latar belakang alam dan budaya masyarakat Lamaholot, Provinsi NTT.

Ia ingin menggambarkan bahwa NTT begitu kaya akan budaya dan produk-produk kerajinan tangan khas, yang bila di-manage dengan baik, akan membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat kecil.

Pada tahun 2015, Hannah dan dua orang temannya membangun Du’anyam, yang mana masih eksis dan terus berkembang hingga saat ini.

Du’anyam sendiri, menurut Hannah, merupakan program untuk mengembangkan ekonomi masyarakat lokal di Indonesia Timur. Berawal dari NTT, kini Du’anyam sudah memperluas wilayahnya ke Papua dan Kalimantan Timur, dan memiliki lebih dari 450 pengrajin perempuan asli daerah sebagai partner Du’anyam. 

Puteri mantan Menteri Lingkungan Hidup (1999-2001) ini memaparkan bahwa hingga saat ini, Du’anyam sudah memasarkan produk-produk di Jepang dan beberapa negara lainnya, bahkan secara perlahan mulai merambah ke pasar-pasar internasional.

“Kami bermitra dengan banyak ibu-ibu di daerah, tetapi dengan menerapkan standar dari sisi kualitas, kuantitas, dan time management yang tinggi. Kami tentunya membeli kerajinan tangan dan memesannya sesuai ekspektasi yang dibutuhkan pasar-pasar multi-nasional dan global. Dengan demikian, ibu-ibu di kampung tidak perlu takut lagi soal pasar, karena kami yang mencarinya, dengan harga yang sebanding dengan keringat yang mereka cucurkan,” tutur Hannah.

Selanjutnya, Stella Monica dalam pemaparannya mengangkat soal kurikulum internasional yang lebih banyak berbicara tentang masyarakat adat dan penghargaan terhadap produk kebudayaan.

Dijelaskan bahwa hal inilah yang membuat pasar-pasar internasional lebih memiliki kesukaan dan ketertarikan terhadap produk-produk khas masyarakat yang masih kental akan nuansa adat dan budaya seperti Batik, Songket Batak, dan kain Tenun.

Untuk itu, Stella mengungkapkan bahwa Adhikartes Community lahir karena hal ini.

“Kami membentuk Adhikartes Community  untuk menghimpun anak-anak muda yang memiliki pemikiran kreatif dan bernuansa global. Dalam komunitas ini, kita akan saling berbagi tentang potensi produk-produk kearifan lokal kita masing-masing, dan menghubungkannya dengan pangsa pasar Internasional agar perputaran uang di masyarakat lokal menjadi semakin baik,” tutur Stella.

Mengakhiri webinar, Ketua umum Formapena Jabodetabek sekaligus Founder Kalira Institute, Emild Kadju yang bertindak sebagai host menyampaikan resume, bahwa melalui diversifikasi produk dengan memanfaatkan teknologi yang tepat guna, serta dengan penerapan marketing digital yang yang baik, tentunya produk kearifan lokal di NTT akan memiliki pangsa pasar yang luas.
“Ada dua kata kunci dalam webinar kita pada hari ini, yaitu diversifikasi produk atau peragaman produk dan digital marketing. Keduanya merupakan elemen penting dalam ikhtiar memperluas pangsa pasar, baik itu secara lokal, interlokal, nasional, multi-nasional, dan global,” tutur Emild dan melanjutkan, “Karena itu dibutuhkan kerjasama dari semua pihak, baik itu pemerintah, akademisi, masyarakat, pelaku UMKM, dan media untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi NTT dengan pariwisata, budaya, dan produk alam, serta kearifan lokal sebagai prime mover atau penggerak utama.” (Emild Kadju)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi