Sel. Nov 24th, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pertanian Lahan Kering Lumbung Gizi dan Ekonomi NTT, Jangan Malu Jadi Petani

6 min read

Para petani di Bajawa, Kabupaten Ngada sedang memetik padi di sawah. (Foto Ilustrasi)

Mayoritas warga NTT adalah warga petani dan nelayan. Hal itu karena kondisi geografis NTT yang terdiri dari daratan pulau-pulau dan yang dikitari lautan yang luas. Kondisi geografis ini mendorong warga NTT sejak dahulu kala menggantungkan diri dari bercocok tanam dan melaut, mengambil berbagai jenis hasil laut. Meski terkenal dengan provinsi kering alias musim panas yang panjang dari pada musim hujan, budaya bercocok tanam di NTT masih tetap bertahan hingga saat ini walaupun terlihat semangatnya mulai menurun. Para petani teleh terbiasa membuka lahan untuk menanam berbagai macam tanaman, ada padi, jagung, ubi-ubian, sayuran, buah dan lain-lain. Demikian halnya para nelayan NTT. Sejak dahulu kala mereka mewarisi pekerjaan melaut menangkap berbagai jenis ikan di lautan. Dua profesi itu semata untuk membangun ketahanan pangan dan memenuhi ekonomi mereka.

Orang NTT, dari Pulau Flores, Pulau Timor, Alor, Sabu, Rote dan Pulau Sumba hampir sebagian besar bertani. Rata-rata mereka memiliki lahan atau kebun sebagai tempat berccok tanam. Mereka memiliki cara yang tidak jauh berbeda dalam membuka lahan dan menanam berbagai tanaman pertanian. Sebagian besar petani masih tetap mempertahankan cara-cara tradisional dalam membuka lahan, seperti budaya tebas bakar, mencangkul menggunakan pacul, tofa, menanam menggunakan kayu, dan menyiangi rumput dan memetik hasil panen dengan cara manual. Ada pula yang sudah maju yang membuka lahan dengan cara modern, seperti traktor untuk menggembur tanah, pupuk, alat semprot hama dan mesin perontok padi, dan lain sebagainya. Sebagian besar petani NTT adalah petani lahan kering karena topografi NTT yang berbukit dan bergunung-gunung dan jauh dari sumber mata air kehidupan.

Dari jaman ke zaman, sistem pertanian di NTT terus dibangun oleh pemerintah Provinsi NTT dan semua pemerintah kabupaten melalui dinas pertanian dan ketahanan pangan. Ada kemajuan di sektor pertanian, namun lebih banyak pada sistem pertanian modern yang obyek sasarnya adalah petani lahan basah atau persawahan. Berbagai fasilitas dan infrastruktur pertanian terus dibangun pemerintah, seperti irigasi, bendungan, embung, traktor, pupuk dan tidak ketinggalan sumber daya manusia petani. Ada beberapa wilayah yang menjadi basis pertanian modern yang sudah berkembang maju, seperti sistem pertanian di Manggarai, di Mbay, Bajawa, Ende dan Magepanda dan Waigete (Sikka) juga beberapa wilayah di Kabupaten Kupang, Soe, Belu, Malaka dan Waingapu, serta Waikabupak. Meski sarana infrastruktur dan SDM terus diberi perhatian, namun hingga saat ini NTT masih belum mampu mengatasi kebutuhan pangan seperti beras, jagung, buah dan sayuran untuk seluruh rakyat NTT. Pemerintah dan warga NTT masih memasok kebutuhan pangan dari luar NTT, seperti beras dan jagung dari Bima, NTB, Makasar, Surabaya dan Bali. Sejak lama Bima dan Makasar memasok kebutuhan pangan terbesar ke NTT melalui pelabuhan-pelabuhan laut. Provinsi NTT hingga saat ini masih menjadi pengimpor kebutuhan pangan terbesar, dan hal itu tentunya memperkaya pendapatan dari dua provinsi tetangga, yaitu Sulawesi Selatan dan NTB.

Sementara itu, panorama kontras di sisi lain sistem pertanian lahan kering yang menjadi sumber hidup mayoritas warta tani NTT yang hidupnya di pegunungan, perbukitan dan lembah-lembah hingga kini masih belum diberikan perhatian serius. Para petani di desa-desa masih jauh dari sentuhan kemajuan modernisasi pertanian. Jangankan modal pertanian dan sumber daya petani, peralatan pertanian pun mereka berjuang setengah mati untuk membeli sendiri. Kehidupan para petani di desa-desa yang menggantungkan air dari hujan sekali setahun sangat jauh berbeda dari para petani lahan basah yang kelimpahan air. Para petani di desa-desa atau pun pinggiran kota berjibaku melawan takdir alam. Mereka sangat bergantung dari curah hujan yang sangat sedikit. Jika curah hujan tinggi maka mereka bisa menanam beberapa kali dan memetik hasil panen yang lumayan. Namun, jika curah hujan sedikit atau pendek maka mereka sering mengalami kekeringan dan gagal panen. Kondisi ini telah berlangsung lama dari musim ke musim dan dari masa pemerintahan yang satu ke pemerintahan baru dan terus berganti. Rasanya sulit mengubah takdir alam jika melihat kondisi kehidupan petani -petani di desa. Dahulu NTT masih dikenal sebagai lumbung pangan, hasil panen berlimpah dan kebutuhan pangan warga tercukupi. Memang ada beberapa daerah yang pernah dilanda bencana kelaparan dan gizi buruk, namun itu hanya sedikit. Seiring perkembangan penduduk dan kebutuhan lahan yang terbatas, maka saat ini produksi pertanian warga di desa-desa kian hari kian menipis. Ketahanan pangan kita menjadi terancam, dan saat ini warga lebih cenderung memberi pangan instan atau produk makanan dari luar daerah.

Kondisi ketertinggalan atau keterbelakangan para petani di desa-desa terpencil memang menjadi perhatian serius. Pasalnya, selain kurang adanya perhatian dan kondisi alam yang tropis dan terjal di lereng-lereng gunung, saat ini ada bahaya besar yang tengah mengancam. Bahaya besar itu adalah regenerasi petani yang mengalami degradasi. Dimana fakta di desa-desa saat ini, anak-anak atau pemuda-pemudi NTT mulai enggan, tak mau, malas, dan malu menjadi petani. Bila kita ke desa dan pergi ke kebun-kebun petani, di sana sangat jarang kita temui anak muda. Kebun atau ladang hanya menjadi tempat bagi orang tua, kakek dan nenek yang kerja keras banting-tulang untuk bercocok tanam membangun ketahanan pangan NTT. Para pemuda-pemudi yang dahulu menjadi pekerja keras di ladang-ladang mereka, kini sudah jarang terlihat. Mereka sudah enggan menjadi petani, dan memilih profesi lain, seperti tukang ojek, buruh bangunan di kota-kota, atau juga pergi merantau menjadi TKI dan TKW di negeri orang, seperti di Kalimantan, Sulewesi, Jawa, Batam, Malaysia dan Singapura. Apesnya, ada yang nekat pergi ke luar negeri melalui jalur gelap dan kemudian menimbulkan masalah baru bagi kelurga dan pemerintah. Semangat menjadi petani terasa kian pudar. Para pemuda dan pemudi lebih cenderung pola hidup baru yaitu pola hidup modern dengan mengandalkan mencari uang saja untuk membeli beras, jagung, sayur, buah-buahan dari pada harus masuk kebun jungkir -balik mencucurkan keringat demi memetik padi, jagung, sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian.

Perihati dengan kemunduran dan pudarnya semangat untuk menjadi petani yang dialami warga NTT saat ini, Gubernur Frans Lebu Raya di era kekuasaannya, memelopori gerakan pulang kampung membangun desa dengan menjadi petani. Sebagai anak petani, Gubernur Frans memberikan dorongan bagi para pemuda dan perantau untuk membangun sistem pertanian di desa-desa mereka. Bukan itu saja, tetapi ia juga melakukan gerakan konsumsi pangan lokal di seluruh perkantoran pemerintah dan di semua acara-acara pemerintah. Di eranya, Gubernur Frans mengumandangkan NTT sebagai Provinsi Jagung, dan kala itu dimana-mana jagung menjadi pangan paling populer di meja makan para tamu pejabat. Hal itu semata untuk mendorong orang tidak malas menjadi petani karena menjadi petani dapat membangun ketahanan pangan dan ekonomi warga desa sendiri. Semangat yang sama dilanjutkan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur Josep Nae Soi. Keduanya melakukan gerakan besar yang diberi nama Kelorisasi. Keduanya berjalan keliling NTT hingga ke desa-desa dan bahkan luar NTT dan luar negeri untuk mempromosikan Kelor sebagai salah satu tanaman pertanian milik para petani NTT yang bernilai gizi tinggi dan berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Tanaman kelor kemudian dimulai secara masal dibudidayakan di seluruh lahan petani NTT. Lebih keras lagi, keduanya marah ketika melihat masih begitu banyak lahan tidur di NTT yang tidak dimanfaatkan warga tani untuk bertani buah sayuran , kacang-kacangan dan lain-lain. Keduanya kemudian berani membuka lahan pertanian sendiri di Kabupaten TTS untuk menanam kelor agar menjadi contoh bahwa pemerintah tidak hanya berbicara tapi bekerja memberikan contoh. Mereka juga mendatangkan peralatan canggih untuk mengolah kelor dan kemudian dikemas menjadi obat-obatan, sabun, sampo dan pangan bergizi siap ekspor.

Tanaman jagung dan kelor memang dapat ditanam banyak di lahan basah yang kaya akan air. Namun, tanaman jagung dan kelor bukan tanaman baru bagi petani lahan kering di desa-desa. Kedua jenis tanaman pertanian yang menjadi pangan andalan itu jauh lebih banyak jumlahnya di ladang-ladang para petani lahan kering. Gerakan pertanian yang dilakukan Gubernur Frans dan Gubernur Viktor serta Wakil Gubernur Josep Nae Soi adalah representasi dari mayoritas pertanian lahan kering di NTT. Jagung dan Kelor bukan sekedar gerakan politik retorika kedua pemimpin untuk meraup simpati petani, tetapi lebih dari itu sebagai simbolisasi dengan makna yang dalam bagi para petani-petani kecil desa-desa kecil di NTT. Dengan mengangkat simbol jagung dan kelor, menyiratkan makna bahwa, pertama, pertanian lahan kering adalah ujung tombak atau tiang utama dari bangun ketahanan bangan lumbung besar ekonomi NTT karena mayoritas petani NTT adalah petani lahan kering. Kedua, perlu adanya perhatian maksimal pemerintah provinsi, kabupaten dan desa-desa terhadap sarana infrastruktur, kapasitas, kapabilitas (SDM) dari para petani lahan kering melalui kucuran anggaran baik dari dana desa maupun anggaran dari APBD dan APBN secara masif dan kontinyu. Ketiga, regenerasi petani harus menjadi perhatian utama dengan mendorong kaum muda agar tidak malu menjadi petani.

Berbicara tentang pangan lokal ujung tombaknya adalah pertanian lahan kering. Jika pertanian lahan kering NTT diabaikan atau dianaktirikan, maka lumbung ketahanan pangan NTT akan rubuh. Hasil pertanian pangan lokal jumlahnya jauh lebih banyak berad di kebun-kebun petani kecil di NTT yang sporaldis dari ujung Flores hingga ujung Pulau Sumba. Pertanian lahan basah (sawah) yang telah berkembang dengan sarana infrastruktur harus terus berkembang maju untuk meningkatkan produktivitas pertanian NTT, tetapi jangan lupa membangun sistem pertanian lahan kering yang ada di seluruh lahan-lahan warga NTT. Pangan lokal sebagai lumbung ketahanan pangan dan kehidupan ekonomi rakyat NTT ada di kebun-kebun petani di lereng-lereng gunung bukit dan lembah-lembah yang hingga kini sebagian besar belum tersentuh. (*)

Penulis: Kornelis Moa Nita, S.Fil, Jurnalis NTT/NBC/SFN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi