Sab. Jan 16th, 2021

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Kelapa dan Kakao, Komoditi Andalan Ekonomi Petani Sikka

7 min read

Pohon Kakao (*)

MAUMERE, NTTBANGKIT.COM,–Pulau Flores adalah pulau yang kaya dengan berbagai hasil pertanian dan perkebunan, seperti Kelapa, Cokelat, Kopi, Cengkeh, Mente, Fanili, Kemiri, Pisang dan lain-lain. Alam pegunungan hijau berbukit, lembah dan sungai dengan tanah yang subur menjadikan Pulau Flores lumbung pangan dan komoditi terbesar di NTT yang dibidik para saudagar asing sejak berabad-abad lalu. Oleh kaum kompeni Portugis, Belanda dan Jepang, Pulau Flores sangat strategis menjadi basis pertahanan dan lumbung pangan dalam melanjutkan misi. Mereka membangun beberapa pelabuhan dan sebagai pintu masuk.

Salah satu pelabuhan dan bandara yang dibangun adalah Sadang Bui di Maumere, yang kini berganti nama Lorens Say, dan bandara Waioti (kini Frans Seda). Tempo dulu, pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan Flores karena letaknya yang strategis di jantung Pulau Flores. Pelabuhan terbesar ini menjadi pintu masuk bagi para saudagar membeli hasil-hasil bumi, seperti Kelapa (Kopra) dan Coklat (Kakao). Dua jenis komoditi ini menjadi komoditi andalan yang menghidupi para petani. Para saudagar/ pedagang besar membeli secara rutin dengan kapal-kapal besar dan kecil yang selanjutnya diangkut ke Surabaya, Sulawesi, Bima-NTB, Jakarta, bahkan ke luar negeri.

Kelapa

Kelapa tumbuh subur di Maumere, Kabupaten Sikka. Hampir seluruh wilayah Kabupaten Sikka ada tanaman kelapa yang dibawa oleh para misionaris dahulu kala. Para petani menanam kelapa dari dahulu kala sebagai sumber hidup ekonomi karena bernilai uang. Selain daging kelapa (Kopra yang dikeringkan) mengsilkan uang, seluruh bagian dari pohon kelapa sangat bermanfaat. Batang kelapa yang sudah tua dapat ditebang, dipotong dan dibuat balok atau tiang untuk membangun rumah, dahan kelapa untuk atap rumah, dan kulit serta sabut kelapa dikeringkan untuk menjadi bahan bakar memasak. Buah kelapa juga menjadi kebutuhan pangan (minyak kelapa) dan sekaligus menjadi simbol adat dalam proses perkawinan orang-orang Sikka.

Karena bernilai ekonomis, mendukung konstruksi rumah, memenuhi kebutuhan pangan dan adat istiadat, tanaman yang kaya manfaat ini menjadi tanaman yang paling berkembang subur di Sikka. Berlipat gandanya buah kelapa yang dihasilkan kebun-kebun petani mendorong pemerintah dan pengusaha di Sikka membangun pabrik kepala yang memproduksi sabun.

Kelapa menjadi lokomotif terbesar ekonomi kehidupan rakyat Sikka. Hadirnya misionaris Katolik membuat perkebunan-perkebunan kelapa kian berkembang. Sayang, komoditi kelapa dari dulu hingga kini nilai rupiahnya sangat rendah per kilogram. Harga beli para pengusaha masih dinilai terlalu rendah oleh para petani, tak sebanding dengan waktu dan energi yang dihabiskan untuk menghasilkan kopra. Di era kekuasaan Presiden Soeharto, harga Kopra sangat murah hingga warga tani menjadikan buah kelapa untuk makanan ternak babi mereka.

Keluhan harga jual Kopra bertahun-tahun tersebut, hingga saat ini belum terjawab sepenuhnya. Meski demikian, di era perdagangan bebas ini, para petani kelapa lebih bebas memasarkan komoditinya. Jika dahulu dimonopoli oleh Koperasi Unit Desa (KUD) dan para cukong (rakyat tidak punya posisi tawar), kini petani sudah lebih bebas menjual kopra kepada para pembeli dari luar daerah.

Bukan hanya Kopra, para petani pun sudah lebih leluasa menjual arang kelapa kepada para pedagang yang datang membeli untuk diolah menjadi pengganti bahan bakar batu bara. Prospek harga komoditi kelapa (kopra) memang belum membaik. Untuk itu dibutuhkan dukungan pemerintah dalam memperjuangkan posisi tawar petani dengan meningkatkan kualitas kopra.

Coklat (Kakao)

Kakao adalah tanaman komoditi kedua yang ditanam dan terus dikebangkan petani Sikka. Biji cokelat asal Brasil ini dibawa oleh para misionaris yang datang ke Sikka. Tanaman yang subur tumbuh di lembah-lembah dengan suhu udara yang sejuk ini, berkembang pesat di beberapa kawasan di Sikka Barat, seperti di lembah Iligai, Kecamatan Lela, di Nita, Lio, dan juga di Wilayah Sikka Timur dan tengah.

Tanaman kakao sudah sejak dahulu mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi, dan telah menjadi komodi andalan terbesar kedua di Sikka yang harga jual per kilogram lebih mahal dari Kopra. Proses pengolahan buah kakao menjadi uang jauh lebih mudah dari Kopra. Berbeda dengan kopra, kakao yang bermanfaat hanya bijinya. Sedangkan kulit, batang dan daun kakao belum ditemukan manfaatnya.

Biji kakao kering dibeli para pengusaha, yang rata-rata pengusaha Cina dan Bugis. Setelah membeli dari petani, biji kakao dikeringkan lagi dan dikemas lalu dijual kembali para pengusaha ke luar daerah, yang diangkut melalui Pelabuhan Sadang Bui ke Surabaya, Makasar (Sulawesi) dan lain-lain. Tentunya, mereka menjualnya dengan harga yang jauh lebih mahal. Biji Kakao selain diolah menjadi bahan dasar coklat dan kopi, juga diolah menjadi bahan acecoris kecantikan, obat-obatan dan lain-lain.

Menyadari Kakao bernilai ekonomis dan menjadi kebutuhan yang kontinyu, pemerintah mendorong petani Sikka terus menanam kakao menjadi mesin ekonomi rakyat jangka panjang. Pemerintah di era Bupati Sikka, Josep Ansar Rera kemudian membangun pabrik Cokelat di Maumere untuk mengolah Cokelat menjadi Kopi Cokelat dan lain-lain. Selain pemerintah, Misionaris, dan LSM pun turut membudidayakan tanaman Kakao untuk para petani melalui perkebunan-perkebunan yang mereka dampingi. Salah satunya adalah Wahana Tani Mandiri (WTM) Sikka. Meski terobosan terus dilakukan pemerintah dan LSM, para petani masih mengeluhkan harga komoditi Kakao yang sering pasang surut.

Meningkat Berdasarkan Data

Seperti dilansir Suaraflores.Net, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sikka, Hengky B. Sally semasa Pemerintahan Bupati Josep Ansar Rera, mengatakan pemerintah daerah bekerja keras dalam meningkatkan produktivitas 3 jenis komoditi unggulan. Dari data resmi, sejak tahun 2016 ada tiga komoditi seperti kelapa, kakao dan mente menunjukan adanya peningkatan.

Untuk komoditi Kelapa pada tahun 2013 terdapat produksi sebesar 530 kg per hektar. Kondisi ini mengalami peningkatan produktivitas di tahun 2014 yaitu sebesar 632 kg per hektar. Pada tahun 2015, hasil produksi untuk kelapa sebesar 721 kg per hektar. Atas kerja keras pemerintah melalui perawatan dan peremejaan dari tahun ke tahun, maka pada tahun 2016, hasil produksi naik menjadi 730 kg per hektar.

Untuk komoditi kakao, hasil produksi di tahun 2013 sebesar 595 kg per hektar. Pada tahun 2014, hasil produksi naik menjadi 535 kg per hektar. Angka pada tahun ini menurun karena tanaman pertanian Kakao mengalami serangan hama seperti hantopoltis, busuk buah dan Penyakit Buah Kakao (PBK). Melalui perawatan dan penyemprotan maka hasil produktivitas naik di tahun 2015 menjadi 628 kg per hektar. Atas kerja keras pemerintah, sehingga pada tahun 2016 meningkat menjadi 630 kg per hektar.

Komodoti yang juga meningkat, kata dia, adalah Jambu Mente. Untuk komoditi Mente, pada tahun 2013 terdapat hasil produksi sebesar 804 kg per hektar. Pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 792 kg per hektar. Angka ini dipengaruhi oleh usia tanaman yang sudah mulai tua dan tidak dilakukan pemangkasan dan juga tidak dipupuk. Intervensi pemerintah dalam hal intensivikasi mente kurang. Melalui intervensi pemerintah, tahun 2015 hasil produksi meningkat menjadi 990 kg per hektar. Angka tersebut mengalami penurunan pada tahun 2016 yaitu sebesar 899. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melakukan peremejaan di tahun 2017 untuk meningkatkan produktivitas.

Dijelaskan bahwa untuk tanaman perkebunan, khususnya kelapa, Kabupaten Sikka sudah disertifikasi dan menjadi daerah atau pusat sumber benih kelapa dalam. Desa Bloro menjadi lokasi contoh yang juga sudah diperluas di beberapa wilayah seperti Koting, Nita sebagai Blok Penghasil Tinggi (BPT). Ke depan dapat disertifikasi sebagai sumber benih kelapa.

Kemiri, Cengkeh dan Fanili

Selain Kelapa, Kakao dan Mente, petani di Sikka juga telah lama menanam tanaman komoditi lainnya, seperti Kemiri, Cengkeh dan Fanili karena tiga tanaman ini bernilai rupiah sangat tinggi. Kemiri tumbuh subur di Sikka. Usia tanaman komiditi dengan pohon berbatang besar, banyak ranting dan rindang ini diperkirakan tak jauh dengan Kelapa, Kakao dan Mente. Kemiri yang subur memenuhi beberapa kawasan di Sikka ini berkembang cepat karena cocok dengan kondisi geografis dan iklim di Sikka.

Jaman dulu, daging (isi dalam) biji Kemiri dijadikan obat-obatan dan juga bahan bakar minyak. Seiring perjalanan waktu dan kemajuan teknologi, kemiri diolah untuk kebutuhan pangan manusia. Harga kemiri juga relatif lebih mahal dari Kelapa. Hanya saja, proses komoditi Kemiri dari menanam hingga memanen membutuhkan waktu yang cukup lama.

Oleh para petani Kemiri, buah kemiri biasanya dibiarkan jatuh ke tanah setelah masak. Mereka tidak memanjatnya karena batang kemiri yang lunak mudah patah. Setelah dibiarkan jatuh ke tanah, buah kemiri kemudian dikumpulkan dan dikupas. Setelah itu dijemur atau dipanggang di atas api hingga benar-benar kering. Buah Kemiri yang sudah kering kemudian dipecahkan dan dicungkil dagingnya lalu dimasukan ke karung untuk dijual kepada pedagang.

Kemiri bertumbuh subur di Sikka. Usianya kehadiran tanaman komiditi dengan pohon berbatang besar, banyak ranting dan rindang ini diperkirakan tak jauh dengan Kelapa dan Kakao. Kemiri yang cocok subur memenuhi beberapa kawasan di Sikka ini berkembang cepat karena cocok dengan kondisi geofrafis dan iklim di Sikka yang berbukit dan lembah.

Jaman dulu, daging (isi dalam) biji Kemiri dijadikan obat-obatan dan juga bahan bakar minyak. Seiring perjalanan waktu dan kemajuan teknologi, kemiri diolah untuk kebutuhan pangan manusia. Harga kemiri juga relatif lebih mahal dari Kelapa. Hanya saja, proses komoditi Kemiri dari menanam hingga memanen membutuhkan waktu yang cukup lama.

Oleh para petani Kemiri, buah kemiri biasanya dibiarkan jatuh ke tanah setelah masak. Mereka tidak memanjatnya karena batang kemiri yang lunak mudah patah. Setelah dibiarkan jatuh ke tanah, buah kemiri kemudian dikumpulkan dan dikupas. Setelah itu dijemur atau dipanggang di atas api hingga benar-benar kering. Buah Kemiri yang sudah kering kemudian dipecahkan dan dicungkil dagingnya lalu dimasukan ke karung untuk dijual kepada pedagang.

Sementara itu, Cengkeh diduga dibawah oleh para penjajah Belanda atau misionari ke Sikka. Sebagai tanaman jenis rempah-rempah, Cengkeh tidak masif ditanam oleh para petani selayaknya Kelapa dan Kakao dan Kemiri. Hanya sebagian kecil wilayah yang masif menanam Cengkeh, seperti di Wilayah Sikka timur, dan beberapa wilayah di Sikka bagian barat dan tengah.

Tanaman yang mempunyai nilai ekonomis auh lebih mahal dari Kelapa dan Kakao, Kemiri dan Mente ini telah membuat para petani meraup untung yang besar di setiap musim panen. Para pedagang membeli Cengkeh petani dan kemudian dijual kembali ke luar daerah melalui Pelabuhan Lourens Say Maumere. Pasalnya, di Maumere belum ada pabrik pengolahan Cengkeh.

Sedangkan Fanili adalah tanaman yang baru yang belum berpuluh tahun dikembangkan di Sikka. Para petani di beberapa wilayah Sikka menanam tanaman rempah-rempah ini karena harga jualnya jauh lebih mahal dari Kelapa, Kakao, Cengkeh dan Kemiri.

Proses penanaman Fanili hingga panen tidaklah mudah. Pasalnya, Fanili adalah tanaman komoditi yang membutuhkan perhatian dan perawatan khusus. Jika salah kelola ketika proses perkawinan, maka petani Fanili bisa gagal panen. Selain itu, karena harga per kilogram Fanili sangat mahal, maka sering terjadi pencurian Fanili di kebun-kebun petani. Oleh karena itu, para petani melakukan pengawasan yang ketat.

Pembeli Fanili selain para pedagang di Sikka, juga para pembeli dari Jawa dan Sulawesi. Fanili yang sudah kering kemudian diolah menjadi rempah-rempah, bahan kosmetik, obat-obatan dan lain sebagainya. Meski mahal harganya, tanaman Fanili belum berkembang masif selayaknya Kelapa dan Kakao. Selain prosesnya yang rumit, juga karena lahan-lahan petani di Sikka terbatas. (BKR/ NBC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2021 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi