Sel. Mar 31st, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Lukas Gobang, Tentara PETA dari NTT yang Jadi TNI dan Ikut Letakan Fondasi Palangkaraya Bersama Tjilik Riwut

6 min read

Lukas Gobang, Tokoh Pembangunan Kota Palangkaraya yang berasal dari Provinsi NTT. (Foto:bungkornell)

PALANGKARAYA, NTTBANGKIT.COM,- Tubuhnya masih tegap kuat, kulitnya hitam legam dan wajahnya terlihat keras meskipun usianya sudah memasuki 90 tahun. Sorotan matanya yang tajam dengan urat-urat nadi tangan jemarinya  yang kasar kian menua menyiratkan sejarah panjang perjalanan hidupnya, sejak masuk Tentara  Peta yang dibentuk oleh Bala Tentara Dai Nipon di masa penjajahan hingga menjadi TNI yang ikut mengawal  Presiden Soekarno bersama Tjilik Riwut ketika meletakan batu pertama pembangunan Kalimantan Tengah.  Dialah Lukas Gobang, sang kontraktor CV. Karya Lembata dari Kampung Lamalera, Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT.

Lukas lahir di Lembata, NTT sekitar tahun 1931. Ia adalah anak dari pasangan orang tua petani yang memiliki 6 orang saudara. Ketika massa penjajahan Jepang, Jepang menguasai hampir seluruh wilayah NTT, termasuk Lembata. Ia kemudian masuk menjadi tentara PETA dan belajar menjadi militer dengan pendidikan yang sangat disiplin dan sangat keras, termasuk bela diri dan berperang. Menjadi tentara PETA, Lukas ikut berlayar dengan kapal tentara Jepang bersama rekan-rekannya dari Jawa dan dari Flores ke berbagai daerah di NTT dalam berbagai misi militer Jepang. Banyak hal yang ia pelajari dari tentara Jepang yang salah satunya adalah bahasa Jepang dan menguasai ilmu bela diri.     

“Dulu setiap pemuda yang sudah bisa pegang telinga lewat kepala wajib masuk tentara PETA yang dibentuk oleh para militer Jepang yang datang ke Indonesia. Saya ikut masuk jadi tentara PETA. Saya dan kawan-kawan saya dilatih bela diri dan militer dengan sangat keras dan penuh dispilin tinggi,” cerita Lukas Gobang di sela-sela Acara Tatap Muka Pemerintah Provinsi NTT dan Paguyuban Keluarga Flobamora di Gedung Tjilik Riwut Gereja Katedral St. Maria Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (8/12/2019) yang dihadiri para tokoh sesepuh dan warga NTT diaspora.

Lukas mengisahkan, setelah lama menjadi tentara  PETA, suatu ketika terdengar kabar  bahwa Kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang dibom oleh Amerika. Aksi pemboman itu sebagai serangan balasan Amerika karena Jepang membom pangkalan militer Amerika Pearl Harbour di Hawai. Mendengar berita itu, semua tentara jepang terdiam, sedin dan menangis  karena mereka harus menyerah tanpa syarat dengan menyerahkan seluruh senjatanya  kepada sekutu.

“Saya baru tahu tiga hari kemudian karena waktu itu tidak seperti saat ini ada televisi dan HP atau media lainnya. Saya amati para tentara Jepang  semua sedih dan murung tidak seperti biasanya. Tiga hari kemudian seorang tentara Jepang saya tanya ada apa, dia kemudian menceritakan peristiwa terberat yang dialami tentara jepang. Dia lalu memeluk saya sambil menangis karena semua tentara Jepang harus menyerah, menyerahkan senjata dan kembali ke Jepang. Dia kisahkan kabar buruk itu disiarkan melalui radio,” kisah Lukas Gobang.

Selama menjadi tentara Jepang, kisah paling kelam yang hampir mencabut nyawanya di kala diserang pesawat pembom sekutu di sekitar perairan laut Lembata. Di kala itu dirinya berada di dalam kapal tentara  Jepang  bersama dua rekannya, satu dari Madura, Jawa Timur dan satu dari Ende, Flores.  Selain itu juga ada tiga orang perempuan penghibur yang dibawa oleh tentara Jepang. Serangan bom tiba-tiba itu, seketika menghantam tubuh kapal dan kemudian terbakar. Ada tentara yang meninggal dan ada yang luka-luka, namun dirinya selamat.

“Waktu itu kapal berada di pelabuhan. Tiba-tiba pesawat pembom datang serang kapal Jepang itu. Semua panik menyelamatkan diri karena bom kena dibadan kapal hingga kapal terbakar. Saya dan teman saya dari Madura dan Ende selamat, sedangkan ada beberapa tentara Jepang yang meninggal dan ada yang luka-luka. Ada pula tiga orang perempuan penghibur yang dibawa jepang, satunya meninggal dan dua lainnya selamat meskipun kehilangan jari tangannya,” kisahnya mengenang.

Setelah Presiden Soekarno mengumumkan kemerdekaan Indonesia, Lukas tidak aktif jadi tentara lagi. Ia kemudian ingin pergi merantau ke kota Jakarta, Ibu Kota Negara Republik Indonesia. Ia pergi ke Maumere untuk menunggu kapal  barang yang datang satu bulan satu kali di dermaga Sadang Bui Maumere. Sesampainya di Maumere, sambil menunggu jadwal kapal, ia bekerja menjadi penjaga gudang di sebuah sekolah Katolik yang kepala sekolahnya adalah Kanisius (guru Kanis).

“Waktu itu saya mau ke Jakarta. Saya pergi ke Maumere untuk naik kapal. Sampai di Maumere saya ketemu dengan seorang guru, namanya guru Kanis. Dia ini dirikan sebuah sekolah Katolik. Dia tanya bilang kau mau kerja, saya jawab iya. Lalu dia kasih saya kerja menjadi penjaga gudang.  Saya kerja tidak lama, kemudian saya ijin mau ke Jakarta karena kapal akan tiba. Lalu saya pergi ke Jakarta. Saya ketemu lagi guru Kanis di Jakarta beberapa tahun kemudian ketika saya bekerja di Tanjung Priok,” kisahnya semangat.

Setelah beberapa tahun kerja di Tanjung Priok, suatu ketika ada berita bahwa para tentara PETA akan diberi penghargaan oleh Negara dan kemudian masuk menjadi TNI. Mendengar kabar itu, ia sangat gembira karena diundang Presiden Soekarno ke istana negara menerima penghargaan.  Setelah menerima penghargaan dari negara, ia dan beberapa temannya pergi ke Singapura untuk berlibur dan bersenang-senang. “Yah, saya sangat senang. Waktu itu saya masih muda dan saya bersama teman-teman pergi ke Singapura. Kami berlibur dan senang-senang di sana dengan uang penghargaan itu, he he he he,” kenangnyanya gembira.

Setelah kembali dari Singapura, ia ke Lembata Kampung halamannya melihat orang tua dan saudara-saudaranya. Sekitar tahun 1956, ia pergi ke Pulau Borneo, tepatnya di Palangkaraya yang kemudian menjadi Provinsi Kalimantan Selatan (Kalteng). Pada tahun 1957, Presiden Soekarno datang ke Palangkaraya untuk meletakan batu pertama pembangunan Kota Palangkaraya. Ia bersama rekannya  seorang tentara  asli dari Palangkarya bernama Tjilik Riwut menjadi pasukan pengawal Presiden Soekarno.

“Presiden Soekarno datang ke Palangkaraya letakan batu pertama pembangunan Palangkaraya. Saya ikut bersama kawan saya Tjilik Riwut mengawal  Presiden Soekarno. Saya satu-satunya orang NTT yang ikut menjadi pengawal,”ujarnya sembari menambahkan bahwa persahabatan yang kental dengan Tjilik Riwut membuatnya  memutuskan untuk menetap di Kota Palangkaraya. Hubungan baik dengan Tjilik Riwut terus  terus terus terbangun sangat harmonis. Tjilik Riwut kemudian mendukung pembangunan Gereja Katedral  St. Maria Palangkaraya yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.  

Ketika  Palangkaraya sedang gencar-gencarnya memulai pembangunan, Lukas Gobang mendukung penuh pembangunan dengan mendirikan CV. Karya Lembata. Melalui CV. Karya Lembata, Lukas menjadi seorang pemborong (kontraktor) yang mengerjakan berbagai pembangunan fisik, seperti jalan dan jembatan, gedung dan lain-lain. Ia bertumbuh menjadi seorang pengusaha yang tergolong sukses di tanah rantau. Ia memiliki truk, mobil pribadi, motor dan speed boat.

Sebagai perantau, Lukas sangat berjiwa sosial. Ia suka membantu  orang-orang NTT yang datang ke Palangkaraya untuk mencari kerja. Di rumahnya sering penuh sesak dengan puluhan anak muda dari NTT yang datang dari Flores dan kabupaten lainnya. Semuanya ia layani dan jamu dengan baik, dan ia fasilitasi hingga mendapatkan pekerjaan.

Kini CV. Karya Lembata yang telah berjasa dalam pembangunan Palangkaraya tak bersinar lagi. Semua putra-putrinya lebih memilih pekerjaan lain yang sesuai dengan pilihan masing-masing.  Di masa tuanya, Lukas tidak lagi mengurusi CV. Karya Lembata, ia memilih pensiun sebagai TNI dan setiap bulan menerima gaji pensiun dari negara. Ia merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan Leluhur yang telah memberinya usia panjang sehingga dapat berbakti kepada nusa dan bangsa. Ia juga sangat berterima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Dayak yang telah menerimanya sebagai warga Palangkaraya.

Meski usianya yang sudah uzur, Lukas masih terlihat sangat semangat.  Dalam acara tatap muka Pemerintah Provinsi NTT di Kota Palangkaraya, Lukas yang mengenakan jas bermotif khas Lembata, tampil happy bersama sesepuh NTT Emanuel menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur ratusan warga NTT yang hadir di Gedung Tjilik Riwut, Gereja Katedral  Santa Maria. Ia berduat dengan Emanuel menyanyikan beberapa lagu  diantaranya Sio Mama.  

Salah satu sesepuh NTT di Palangkaraya, Gregorius, menjuluki  Lukas dengan “Kayu Ulin.” Kayu Ulin adalah kayu keras dan hitam pekat khas Kalimantan. Julukan itu rupanya karena Lukas bertubuh sangat kuat, kekar dan hitam legam. Menurut Goris, Lukas adalah orang NTT pertama yang menyentuhkan kakinya di Palangkaraya dan menjadi  aktor pembangunan di Kota Cantik Palangkaraya.

“Pak Lukas ini kami juluki Kayu Ulin. Walau kulitnya hitam dan tubunya sangat keras, tetapi hatinya baik sekali. Jadi jangan lihat kulitnya tapi lihatlah hatinya. Beliau ini orang pertama dari NTT yang ikut meletakan dasar pembangunan Palangkaraya bersama Pak Tjilik Riwut.  Dahulu di rumahnya ketika dia masih jadi kontraktor, menampung begitu banyak orang-orang NTT yang datang ke sini. Dia kasi makan puluhan orang dalam sehari. Beras satu hari bisa 50kg habis, tapi dia orangnya tidak perhitungan. Dia suka membantu sehingga dikenal begitu banyak orang, termasuk pemerintah dan masyarakat Palangkaraya,”kata Greorius yang adalah Ketua DPP Paguyuban Flobamora Palangkaraya. (Korneliusmoanita/NBC)

2 thoughts on “Lukas Gobang, Tentara PETA dari NTT yang Jadi TNI dan Ikut Letakan Fondasi Palangkaraya Bersama Tjilik Riwut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi