Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

“Peting Ghan Nalun Weru”, Ritual Sakral Suku Nggai di Flores

6 min read

Wisata Budaya Manggarai

BORONG, KOMPAS.com – Saat senja tiba di ujung Barat Pulau Flores, saya beranjak dari rumah di Kota Waelengga menuju ke Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (3/4/2018). Sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Borong, saya mampir ke rumah keluarga di Kampung Munde, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba. Saya mampir di rumah keluarga, Stefanus Anggal untuk mengambil sesuatu yang hendak dibawa ke Borong. Saya tiba di rumah itu sudah pukul 17.30 Wita. Saya masuk dalam rumah keluarga itu. Keluarga Stefanus merupakan keluarga dekat dari istri saya, dalam bahasa lokalnya, khususnya bahasa kolor “Anak Ranar” (pemberi perempuan sesuai struktur budaya orang Manggarai Timur). Seperti biasanya sesuai budaya orang Manggarai Timur, khususnya dan orang Manggarai Raya pada umumnya, tamu yang sedang berkunjung disuguhkan kopi flores.

Saya menikmati hidangan kopi flores bersama dengan seluruh keluarga yang sedang berkumpul di bagian dapur. Saat sedang menikmati hidangan kopi flores jenis robusta, saya diberi informasi bahwa malam ini ada ritual adat tahunan “Peting Ghan Nalun Weru” Suku Nggai. Keluarga Stefanus menahan saya untuk menunda perjalanan ke Kota Borong.
Sebagai seorang jurnalis yang memiliki kepekaan dalam budaya, maka saya urungkan niat untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Borong malam itu dan memutuskan untuk mengikuti ritual yang sangat langka bagi saya. Selama ini saya sering mendengar cerita tentang ritual itu. Kesempatan ini tak di sia-siakan karena ini merupakan ritual tahunan. Jika tidak melihat dan menyaksikan kali ini maka akan disaksikan tahun depan lagi. Beruntung di Kota Borong urusannya tidak terlalu mendesak. Akhirnya, saya menunggu ritual itu dilangsungkan.

Saat menikmati hidangan kopi flores. Satu persatu keluarga berdatangan untuk mengikuti ritual ini. Peting Ghan Nalun Weru bisa diterjemahkan secara harafiah, di mana “peting” artinya syukuran, “ghan” artinya makan, “nalun” artinya nasi dan “weru” artinya baru. Jadi apabila “Peting Ghan Nalun Weru” diterjemahkan berarti “Syukuran tahunan untuk makan nasi baru pasca panen padi”. Sesungguhnya ritual ini memiliki makna menghormati alam semesta yang sudah memberi rezeki kehidupan berupa padi yang ditanam di ladang serta leluhur yang ikut menjaga ladang serta Sang Pencipta Kehidupan yang memberikan hasil panen padi yang berlimpah.

Persembahan Telur Ayam Kampung Sebelum ritual berlangsung, keluarga Suku Nggai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai warisan leluhur. Bahan-bahan yang disiapkan adalah sebutir telur ayam kampung, ayam kampung berbulu putih, daun sirih, buah pinang, parang dan benda-benda adat lainnya. Setelah semua bahan itu disiapkan, tua adat Suku Nggai, Stefanus Anggal didampingi anggota sukunya, Martinus Timur melangkah menuju tumpukan watu Naga Tana di ujung kampung. Sementara Yohanes Ariyanto Anggal berada dalam rumah juga keluarga lainnya.

Watu Naga Tana adalah batu penjaga kampung adat Suku Nggai. Saat tiba di tempat itu, tua adat itu mengeluarkan sebutir telur dari saku bajunya dan moke (alkohol lokal). Selanjutnya tua adat melantunkan tuturan-tuturan adat untuk mengundang leluhur Suku Nggai ikut dan hadir dalam ritual tersebut di rumah. Telur dipecahkan dan kuningnya disajikan diatas batu bulat disertakan dengan menuang moke di batu bulat tersebut. Ini merupakan ritual pertama yang dilangsungkan sebelum ritual peting ghan nalun weru di dalam rumah. Setelah ritual adat di Watu Naga Tana selesai, selanjutnya tua adat itu melangsungkan ritual adat di pintu masuk rumah.

Saat itu juga minuman moke atau minuman alkohol lokal disajikan ke tanah agar leluhur bisa masuk ke rumah dan mengikuti ritual adat tersebut. Bersama ritual itu, tua adat itu bersama leluhur nenek moyang Suku Nggai masuk ke dalam rumah. Lima Daun Sirih dan Lima Buah Pinang Ditaruh Dalam Nyiru Sesudah ritual di Watu Naga Tana untuk memanggil leluhur dan mori kraeng atau wujud tertinggi atau Sang Pencipta Kehidupan. Selanjutnya dilangsungkan ritual adat Peting Ghan Nalu Weru. Tua adat yang sama memanggil semua anak-anak laki-laki untuk duduk mengelilingi Watu Nurung atau Batu Compang berukuran kecil di dapur.

Anak-anak laki-laki dari yang usia anak-anak sampai yang sudah berkeluarga duduk sila sementara daun sirih dan buah pinang yang berada di dalam nyiru berada di tengah mereka. Ayam kampung berbulu putih dipegang tua adat itu dan goet-goet atau tuturan adat kepada leluhur dan Sang Pencipta Kehidupan dilangsungkan. Tuturan adat sudah selesai maka ayam dipotong dan darahnya diteteskan di Watu Nurung, daun sirih dan buah pinang, pintu rumah. Saat dilangsungkan ritual itu pintu rumah, jendela ditutup rapat.

Tamu yang baru datang saat dilangsungkan ritual itu tak diizinkan masuk. Tamu itu boleh masuk apabila ritual itu sudah selesai dilaksanakan. Tabuh Gendang dan Gong Setelah ritual peting ghan nalun weru, Yohanes Ariyanto Anggal bersama dengan Martinus Timbul serta anggota keluarga ditunjuk menabuh gendang dan memukul gong di dalam rumah tersebut. Ini sebagai tanda bahwa ritual adat sudah dilangsungkan tahun ini.

Bunyi Gong dan Gendang sebagai tanda bahwa Suku Nggai di kampung Munde sudah melangsungkan ritual tersebut yang direstui leluhurnya. Warga Kampung Munde mengetahui bahwa Suku Nggai sudah melaksanakan ritual peting ghan nalun weru di tahun ini. Sesuai aturan lisan bahwa menabuh gendang dan memukul gong hanya dilangsungkan saat ritual peting ghan nalun weru dilangsungkan. Untuk hari-hari biasa dilarang menabuh gendang dan memukul gong. Saat itu juga gendang dan gong diturunkan dari tempat penyimpanan di dalam rumah.

Ritual Membuka Benda-benda Pusaka Suku Nggai Uniknya benda-benda pusaka berupa rantai panjang dan batu sebanyak lima buah baru dibuka dan diperlihatkan kepada anggota keluarga saat ritual peting itu. Hari-hari lain tak diizinkan untuk membuka dan menurunkan benda-benda pusaka tersebut. Saya bersyukur bisa melihat langsung benda-benda pusaka tersebut. Sebelum benda-benda sakral itu dibuka terlebih dahulu dilangsungkan ritual adat untuk meminta restu leluhur. Ayam kampung berbulu putih juga disiapkan oleh anggota keluarga. Tua adat yang sama melangsungkan ritual dengan tuturan-tuturan adat. Jika sudah selesai dilangsungkan maka benda-benda sakral pelindung Suku Nggai dibuka oleh tua adat tersebut.

Nalun Weru Digosok di Tubuh Kaum Perempuan Sebelum nalun weru atau nasi baru dimakan kaum laki-laki dari tempat sesajian, terlebih dahulu nasi baru itu digosok di tubuh kaum perempuan, mulai dari kepala sampai di kaki. Ini menandakan bahwa kaum perempuan dihormati dan dihargai secara adat terlebih dahulu. Memang nasi baru itu dilarang makan oleh kaum perempuan, hanya mereka diperbolehkan untuk menggosoknya di bagian tubuh. Ritual ini sangat sakral dalam menghormati kaum perempuan, alam semesta, leluhur dan Sang Pencipta Kehidupan. Jamuan Bersama Satu Suku Setelah semua ritual selesai maka dilangsungkan jamuan bersama satu Suku Nggai yang hadir saat itu. Larangannya, “anak laran” (penerima anak gadis) dilarang makan daging ayam yang sudah diritualkan oleh “anak ranar”. Selanjutnya dilangsungkan nyanyian mbata sepanjang malam hingga subuh. Ini sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan leluhur secara turun temurun.

Tua adat Suku Nggai, Stefanus Anggal kepada KompasTravel, Selasa (3/4/2018) menjelaskan, ritual ini dilangsungkan setiap tahun pasca-panen padi di ladang maupun di sawah. Peting Ghan Nalun Weru merupakan warisan leluhur Suku Nggai yang dilaksanakan setiap tahun. Ritual ini sebagai tanda menghormati alam semesta yang menyediakan lahan untuk ditanami berbagai tanaman holtikultura, padi, jagung dan kacang-kacangan. Selain itu menghargai leluhur yang sudah mewariskan tanah dan menjaga ladang dari masa tanam hingga masa panen. Selanjutnya menghormati Sang Pencipta Kehidupan yang sudah memberikan kehidupan dan rejeki kepada manusia, khususnya warga Suku Nggai.

“Saya selalu laksanakan ritual ini dengan melibatkan seluruh anggota keluarga Suku Nggai. Ini juga bagian dari pendidikan budaya agar ritual- ritual sakral tidak hilang melainkan dilestarikan secara turun temurun dan secara terus menerus setiap tahunnya,” katanya. Makna Lima Daun Sirih Menurut Tua adat Suku Nggai, Agustinus Nggose kepada KompasTravel di kediamannya di Kompleks Waelengga, Minggu (8/4/2018), saat menggali makna lima daun sirih di atas nyiru menjelaskan, lima daun sirih yang diletakkan di atas nyiru itu artinya bahwa dalam Suku Nggai di keluarga itu ada lima perempuan dari suku lain yang menikah dengan laki-laki Nggai.

Saat ritual di rumah adat Suku Nggai lainnya ada tujuh daun sirih. Itu berarti ada tujuh perempuan dari suku lain yang menikah dengan laki-laki Nggai. “Makna daun sirih itu simbol kaum perempuan dari suku lain yang menikah dengan laki-laki di Suku Nggai. Memang ritual Peting Ghan Nalun Weru harus dilaksanakan tiap tahun dalam Suku Nggai pasca-panen padi, jagung di ladang dan sawah. Ini juga bagian pendidikan budaya secara langsung diketahui generasi penerus di Suku Nggai,” katanya.

Fransiskus Sarong kepada KompasTravel, Rabu (11/4/2018), menjelaskan, orang Manggarai Timur sangat akrab dengan simbol lima. Simbol angka lima merupakan simbol sakral dalam budaya orang Manggarai Timur. Berbagai ritual adat di Manggarai Timur selalu berhubungan dengan angka lima. Seperti upacara kematian, upacara potong tali plasenta bayi yang baru lahir dengan lampek, bahkan tangga rumah adat orang Manggarai Timur adalah lima. Ritual adat anak-anak bayi selalu dilaksanakan pada hari kelima serta upacara-upacara lainnya. “Saya sudah menulis itu selama saya menjadi wartawan Kompas selama 32 tahun. Simbol angka lima sangat bermakna sakral bagi orang Manggarai Timur dalam berbagai upacara adat. Simbol angka lima juga bermakna kesucian, ketulusan dan perdamaian,” kata Frans Sarong.

Penulis :Markus Makur
Sumber : travel.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi