Kam. Des 3rd, 2020

NTT Bangkit

Media Promosi Pariwisata,Bisnis dan Investasi NTT

Pasola, Sebuah Upacara Keagaman di Sumba Barat

5 min read

PASOLA adalah sebuah upacara keagamaan Marapu di Kabupaten Sumba Barat sudah tak asing lagi bagi kita. Seperti halnya yang dilakukan warga Desa Gaura, Kecamatan Laboya Barat pada Sabtu, 4 Februari 2019 lalu. Warga setempat tumpah ruah di arena pertunjukan. Semua sekolah dan kegiatan kantor pemerintahan diliburkan agar semua mengambil bagian dalam acara tradisional tahunan tersebut.

Event keagamaan bernuansa kebudayaan itu sudah menjadi event tahunan yang selalu diadakan sebagai salah satu rangkaian dari tatacara keyakinan Marapu untuk bersyukur kepada Tuhan Sang Pencipta. Event ini pun memikat semua masyarakat Sumba. Tidaklah heran sejak sehari sebelum kegiatan biasanya semua guru dan pegawai akan pulang kampung untuk mempersiapkan segala keperluan termasuk untuk siap menjadi tuan rumah yang baik bagi para tamu yang akan datang ke acara itu. Warga Sumba dari berbagai desa dan kabupaten pun akan berdatangan ke setiap lokasi acara Pasola mengenakan busana budaya, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kegiatan Pasola pun menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi para wisatawan mancanegara. Seperti halnya Mr. Jonathan asal Perancis yang hadir di tengah kerumunan massa bersama sejumlah besar wisatawan mancanegara lainnya. Ia begitu antusias menyaksikan pertunjukan Pasola tersebut. Pasola di Gaura merupakan kegiatan Pasola yang terakhir untuk tahun ini. Sebelumnya, ada Pasola Lamboya di Kabupaten Sumba Barat, Pasola Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Pasola Wanukaka dan Pasola Gaura di Kabupaten Sumba Barat. Artinya, di Pulau Sumba yang menyelenggarakan Pasola hanya 4 lokasi saja, yakni di Lamboya, Kodi, Wanukaka dan Gaura.

Upacara Pasola di Desa Gaura berlangsung selama 2 hari. Hal ini tidak sama dengan kegiatan pasola di 3 lokasi lainnya yang hanya satu hari saja. Untuk hari pertama Pasola di Gaura dikhususkan bagi anak-anak. Anak-anak dan remaja diberi peran untuk bermain di arena pasola agar mereka memahami dan bisa melestarikan budaya tersebut, sedangkan di hari kedua dikhususnya bagi orang dewasa. Namun, bila ada anak yang juga mau ambil bagian di sesi hari kedua tak masalah asalkan harus cekatan agar tak menjadi korban lemparan tongkat atau lembing musuh.

Pasola ini sesungguhnya even budaya yang juga menunjukan eksistensi dan kewibawaan seorang laki-laki. Moment ini sebenarnya juga bisa menjadi moment bagi kawula muda yang masih jomblo untuk bersua pandang dengan gadis pujaan. Kaum lelaki penunggang kuda dengan mengenakan atribut budaya menunjukan ketangkasan dalam melempar lembing atau tongkat ke arah lawan. Jika tongkat atau lembing mengenai lawan maka ia akan disoraki dengan pujian oleh penonton dan saat itulah sejumlah gadis akan secara diam-diam mengaguminya. Hal sama juga dengan para penonton. Bagi yang sedang kasmaran bisa saling berkenalan dan urusan selanjutnya terserah anda bila hati sudah terpikat.

Kita kembali ke arena pasola ya…. Menunggang kuda di arena pasola membutuhkan kelihaian dalam mengendalikan kuda. Jika tidak, si penunggang bisa terjatuh ke tanah atau bisa saja akan terkena lemparan lembing yang bisa mengenai tubuh penunggang atau bisa saja mengenai kuda itu sendiri. Dalam sejumlah kasus, terkadang lemparan bisa melukai bahkan menembusi lengan, kepala atau anggota tubuh penunggang atau kuda itu sendiri karena lemparan tongkat atau lembing tidak hanya berasal dari seorang lawan saja melainkan bisa saja berasal dari belasan orang lawan yang mengarahkan lembingnya ke salah satu sasaran musuh.

Terus, apa yang akan terjadi jika badan terluka mengeluarkan darah atau tongkat menembusi badan? Warga setempat mengatakan kalau hal itu terjadi tak perlu khawatir karena akan sembuh seketika bila seorang Rato menjamah atau mengobatinya. Rato adalah pemimpin atau imam dari agama Marapu. Marapu sendiri adalah salah satu keyakinan atau kepercayaan yang sudah diakui oleh pemerintah melalui Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia pada tahun 2017 lalu.

Salah seorang Rato asal Lamboya yang hadir saat itu, Marten Pabala (70), di tengah-tengah berlangsungnya acara Pasola Gaura, mengatakan, dengan melaksanakan Pasola menunjukan bahwa warga Marapu menaikan pujian dan syukur kepada Tuhan Sang Pencipta sekaligus untuk memastikan apakah hasil pertanian tahun ini bisa menghasilkan panenan yang berlimpah atau malah gagal panen atau kelaparan. Hal ini bisa ditunjukan dengan Nyale yang diperoleh saat kegiatan pasola di muara atau bibir pantai.

Warga setempat pada subuh sekitar jam lima pagi mencari dan menangkap Nyale atau cacing laut. Jika Nyale yang ditangkap badannya utuh maka hasil pertanian akan baik atau panenan berlimpah. Namun, jika Nyale yang ditangkap terlihat mengigit tangan atau kaki atau malah hancur dan membusuk maka hasil pertanian kurang bagus. “Kalau hasil tangkapan Nyale tadi pagi itu sangat bagus. Tangkapannya utuh. Ini tandanya tahun ini hasil pertanian bagus, “ujar Rato Marten Pabala.

Rato Marten juga menjelaskan terkait berubahnya penggunaan tongkat atau lembing yang digunakan di arena Pasola. Pada zaman dulu, tongkat yang digunakan biasanya diambil dari batang kayu yang lembek. Namun, sekarang banyak yang menggunakan kayu keras. Penggunaan kayu keras memang tidak dilarang. Hal ini bisa saja menjadi ajang pelampiasan kekalahan di arena pasola pada tahun-tahun sebelumnya. Rato asal Desa Watukarede Kecamatan Lamboya ini juga menceritakan pengalamannya saat aktif menunggang kuda di arena pasola. Dia menjelaskan, marga penunggang kuda pertama untuk pasola di Lamboya adalah marga Ubuteda dengan menbawa 2 ekor kuda yakni kuda jantan dan kuda betina. Untuk kuda jantan Namanya Hogorakangali, sedangkan untuk kuda betina namanya Kuda Walabak.

Rato Marten Pabala menambahkan, pelaksanaan Pasola tidak bisa ditentukan tanggalnya karena sangat bergantung pada perkembangan bulan di langit dan terjadinya pasang surut di laut. Para Rato akan menghitung waktunya. Setelah tujuh hari setelah bulan gelap barulah bisa melaksanakan Pasola. Makanya tidak heran kalau para wisatawan akan cenderung berlama-lama di Pulau Sumba hanya untuk menunggu dilaksanakannya Pasola di sejumlah lokasi.

Harus Dilestarikan

Sejumlah wisatawan nusantara memberikan apresiasinya atas pelaksanaan Pasola Gaura. Robby Saunoah mengatakan kekagumannya atas terlaksananya pasola yang didukung penuh semua masyarakat dan pemerintah daerah. “Pasola ini suatu event yang luar biasa. Masyarakat dan pemerintahnya sangat berbudaya. Ini terlihat dari kostum yang dikenakan. Semuanya menggunakan atribut atau busana budaya Sumba, “ujarnya.

Menurut Robby, ini adalah asset yang luar biasa dan perlu dilestarikan. Robby juga mengagumi adanya jalan aspal hotmix ke pusat lokasi pasola yang dibangun pemerintah, pengaspalan jalan itu menunjukan keseriusan pemerintah di bidang pariwisata. Hal sama juga dikemukakan Adela Gultom yang akrab disapa Didi. Wisatawan nusantara yang satu ini sangat antuasias sekali selama kegiatan pasola berlangsung. Ia selalu membidikan kameranya untuk mengambil gambar dengan angel berbeda. “Pasola sungguh amazing. Ini asset budaya yang harus dipertahankan masyarakat dan pemerintah, “ujarnya.

Kegiatan Pasola ini tidaklah lengkap bila para pembacara belum menyaksikannya. Kini saatnya para pembaca menjadwalkan kunjungan ke Pulau Sumba untuk menyaksikan Pasola yang sudah mendunia ini. Warga Sumba siap menyambut Anda dengan keramahan sebagai warga yang berbudaya. Ayo, segera hubungi agen perjalanan Anda. Sumba bisa dijangkau dengan penerbangan dari Denpasar atau penerbangan dari Kupang dengan biaya tiket yang relative murah, atau bisa saja menggunakan jasa pelayaran kapal fery setiap minggunya dari Kupang.  (Silnusa/sfn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2019 NTTBANGKIT.

Tentang Kami   |   Tim Redaksi